Sukes Dengan “Senjata” Yang Lengkap

Membaca sebuah tulisan dari seseorang mengenai perjuangan meraih kesuksesan cukup menggugah dan memberikan motivasi. Kesuksesan bukanlah “barang hadiah” yang bisa kita dapatkan suatu ketika, atau ibarat durian runtuh, yang jatuh secara tiba-tiba. Jelas butuh proses dan perjuangan tentunya.

Setiap manusia pastilah mendambakan dirinya dapat sukses, walaupun ukuran kesuksesan itu bersifat relatif bagi setiap orangnya. Namun, sebaik-baiknya kesuksesaan adalah sebuah perwujudan dari sebuah cita-cita setinggi langit, sehingga akan memberi dorongan kepada pribadi tersebut untuk terus berusaha meraihnya dan juga membuatnya tidak mudah puas.

“Senjata” yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan juga bukanlah hal-hal bersifat materiil, namun berupa keyakinan, semangat, ketekunan, komitmen, konsistensi, cara pandang dan lainnya. Oleh sebab itu, sebuah kesuksesan bukanlah sebuah hal yang sifatnya eksklusif, yang hanya dapat di capai oleh pribadi atau kelompok tertentu namun setiap pribadi dapat mencapainya dengan ber“senjata”kan beberapa hal disebut di atas.

Perjuangan meraih kesuksesan bukanlah ibarat berjalan di atas jalan “tol” yang tanpa halang rintang, namun jalan yang dilaluinya adalah jalan yang penuh liku dan terjal. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk dapat mencapainya. Sebab itu, pribadi yang berhasil meraih kesuksesan adalah pribadi pilihan.

Nah, sudah cukupkah dengan ber“senjata”kan hal-hal yang disebut di atas seorang pribadi dapat berjuang meraih kesuksesan ? Mungkin belum. Lalu “senjata” apalagi yang harus dilengkapi untuk dapat berjuang dalam meraih kesuksesan ?

Ada beberapa faktor yang dapat menentukan seorang pribadi dalam meraih sebuah kesuksesan. Selain tentunya “senjata” itu tadi, dengan kata lain faktor pribadi, juga ada faktor lain yang mungkin bisa disebut sebagai faktor X. Apa itu faktor X ?

Faktor X disini dapat dikatakan sebagai Sang Maha Penentu. Menjadi lebih lengkap “senjata” yang kita miliki untuk berjuang meraih kesuksesan jika kita juga memperhatikan hal ini. Karena Sang Maha Penentu ini lah yang menentukan apakah seorang pribadi dapat meraih kesuksesannya atau tidak. “Senjata” yang kita miliki akan menjadi “mandul” tanpa ada restu dari Sang Maha Penentu.

Sebab itu, dalam berjuang meraih kesuksesan selain dengan usaha yang kita lakukan, kita juga dianjurkan untuk selalu memohon pertolongan dari Sang Maha Penentu, sehingga cita-cita yang kita dambakan akan dapat terwujud dan perjuangan yang kita lakukan akan terasa lebih mantap dan menjadi lebih teringankan. Kesuksesan yang diraih seorang pribadi tanpa mengindahkan Sang Maha Penentu akan menjadikan pribadi yang takabur.

“Hanya kepada Engkau lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau lah kami memohon pertolongan”, surat 1 ayat 5.

“Kesuksesan harus dibayar cash terlebih dahulu”  (ad141210)

 

Jakarta Bukan Buat Orang Miskin

Setiap negara pasti memiliki ibukota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan juga pusat segala kegiatan dari Negara. Indonesia memiliki Jakarta sebagai ibukotanya, induk dari seluruh kota yang ada di Indonesia. Jakarta telah dianggap sebagai kota metropolitan.

 

Segala macam rupa ada di Jakarta, sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat perdagangan sampai pusat-pusat yang lainnya. Karena pada masa lalu pengelolaan negara yang sentralistik, membuat Jakarta menjadi pusat segalanya. Karena dianggap sebagai pusat dari segalanya tersebut akhirnya ada anggapan bahwa Jakarta adalah “surga”-nya Indonesia. Adanya kemudahan dalam “mengumpulkan” uang, mengundang urban (para pendatang dari desa ke kota) untuk beramai-ramai mengadu nasib, sambil berharap terjadi perubahan nasib yang dialaminya.

 

Sayangnya tidak memiliki peruntungan yang sama. Banyak yang berhasil dan tak sedikit pula yang bernasib buntung. Karena ramainya urban sampai-sampai kota Jakarta yang mempunyai luas ± 10 Km2 tidak mampu menampung para urban tersebut. Saking ramainya akhirnya tercipta kesemrawutan, kekumuhan dan ketidakteraturan. Akhirnya bertambah gelar pusat yang di sandang oleh kota Jakarta. Pusat kesemrawutan, kekumuhan sampai pada pusat polusi yang kelewat batas.

 

Banyak hal yang bisa diangkat dari “kehidupan” kota Jakarta. Namun pada kali ini, tulisan ini akan coba “melihat” sisi bagi mereka yang ternyata bernasib buntung dalam mencoba peruntungannya di kota Jakarta. Banyaknya urban yang bernasib buntung sangat mewarnai kehidupan kota metropolitan ini. Peluang “mengumpulkan” uang di Jakarta ternyata tidak seimbang dengan jumlah yang menginginkannnya. Kalau dalam bahasa ekonomi, permintaan lebih banyak dari penawaran, yang menciptakan ketidakseimbangan. Dalam hal apapun jika terjadi posisi yang tidak seimbang pasti akan menciptakan permasalahan.

 

Banyak dari mereka yang “kehabisan modal” sehingga tidak sanggup kembali ketempat “semula” dan pada akhirnya mereka “melahap” peluang apapun yang dapat menghasilkan uang walau dengan cara yang “haram” sekalipun sebagai usaha agar tetap “survive” di kota yang oleh sebagian orang dikatakan lebih kejam dari ibu tiri ini. Banyak dari mereka yang akhirnya bekerja di sektor informal, seperti berdagang, menjadi pemulung, kuli angkut, pekerja kasar, pelacur, preman sampai menjadi “penjahat”.

 

Bisa dikatakan salah satu permasalahan dari mereka yang bernasib buntung telah terpecahkan, yaitu dapat memperoleh penghasilan walau tak pasti dan jauh dari cukup. Ada masalah lain yang juga termasuk kebutuhan pokok, yaitu papan atau tempat tinggal, yang digunakan bagi mereka sebagai tempat “berlindung” dan beristirahat. Karena penghasilannya yang sangat kecil, yang belum tentu dapat mencukupi kebutuhan pangannya, sudah tentu sulit bagi mereka untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak. Jangankan tempat tinggal yang sehat, yang “cukup” untuk di tempati saja sudah termasuk beruntung. Mereka biasanya hidup mengelompok, dan mendirikan “perumahan” pada lahan yang tidur yang belum termanfaatkan, yang hak kepemilikannya dimiliki oleh pihak lain. Hak tersebut biasanya dimiliki “tuan tanah”, Pemda, atau pun perusahan.

 

Sekitar tahun 1998, Pemda memberikan izin untuk memanfaatkan lahan tidur itu untuk bercocok tanam. Hal ini terkait dengan program padat karya. Namun seiring dengan melajunya waktu, lahan-lahan yang semula diperuntukan hanya untuk bercocok tanam bagi mereka yang tidak mendapatkan peluang kerja berubah fungsi. Mereka mulai satu per satu mendirikan bangunan tempat tinggal di wilayah tersebut. Bertambah setiap waktunya, bahkan pertumbuhan yang terjadi tergolong pesat, sehingga terkesan kumuh yang dikarenakan luas lahannya yang tidak seimbang dengan jumlah bangunan yang didirikan. Dari gubuk sampai rumah permanen berdiri.

 

Lima tahun berlalu, timbul masalah ketika sang empunya tanah yang sah ingin mengambil haknya. Warga dengan berkeras menolak untk meninggalkan wilayah tersebut. Karena erasa sudah tinggal lama di lahan tersebut dan merasa mendapatkan izin dari aparat yang berwenang. Bahkan listrik pun telah “menjamah” ke wiliyah tersebut. Sebagai pemilik sah wajar saja mereka menuntut hak mereka. Terjadilah penggusuran bagi warga “liar” yang menempati lahan tersebut.

 

Peristiwa penggusuran tersebut menimbulkan konflik antara aparat dengan warga setempat. Karena warga tetap ngotot mempertahankan keberadaannya. Hal yang menjadi fenomena adalah waktu yang berdekatan dalam melakukan penggusuran diberbagai tempat. Jumlah kepala keluarga yang menjadi korban hampi mencapai 4000 KK. Jika ditambah dengan anggota keluarganya tentu berkali-kali lipat jumlahnya.

 

Penggusuran bukanlah peristiwa baru. Peristiwa ini telah terjadi sejak masa yang lalu. Biasanya objeknya adalah pedagang kaki lima dan perumahan kumuh, dimana yang berada dalam “wilayah” tersebut adalah orang-orang miskin. Namun keanehan yang terjadi penggusuran terjadi saat jumlah mereka telah banyak. Dan hal ironis, saat terjadi penggusuran sebuah apartemen yang belum jadi yang harganya berkisar 5-17 miliar telah terjual habis dalam waktu lima bulan.

 

Sebuah hal dilematis, secara hukum legal mereka memang disebut “liar”, namun dari sisi kemanusiaan sungguh memprihatinkan hal yang menimpa mereka. Mereka hanya ingin dapat tetap hidup di dunia ini. Apakah hukum hanya diperlakukan pada mereka yang lemah. Apakah konsep kota Jakarta tidak diperuntukkan bagi orang-orang miskin? Hanya mereka sajakah yang berduit yang boleh menempati kota metropolitan ini? Tak adakah tempat bagi mereka yang miskin? Tak adakah peluang bagi mereka yang miskin untuk “mencicipi” Jakarta. Jika hal itu yang berlaku, maka sebaiknya Pemda memasang papan pengumuman pada setiap pintu masuk kota, yang berisikan “Orang Miskin Tidak Boleh Masuk”. Wallahualam (ad081003)

Si Tole (Naskah Drama)

Kisah seorang anak yang mengalami persoalan dalam hidupnya. Persoalan memilih untuk menggapai cita-citanya untuk dapat bersekolah dan menuruti kehendak orang tuanya untuk berhenti sekolah dan membantu orang tuanya bekerja.

Berlatar belakang sebuah keluarga miskin, seorang anak bernama tole dipaksa untuk berhenti bersekolah untuk membantu orang tuanya bekerja. Sedangkan si Tole memiliki bakat dan kemauan yang luar biasa dalam sekolahnya. Dia, berharap dapat membantu orang tuanya dengan mendapatkan beasiswa.

Karena keadaan kemampuan yang terbatas dari keluarga yang pas-pasan yang mendesak bagi orang tua si Tole menuntut si Tole untuk berhenti bersekolah dan membantu bekerja. Karena bagi orang tua si Tole, hal itu jelas lebih menghasilkan dibanding si Tole bersekolah yang belum tentu jelas nantinya akan menjadi apa.

Impian Tole dan kepatuhan pada orang tua yang menjadi masalah bagi Tole. Mengejar impian yang berarti tidak mematuhi orang tua, mematuhi orang tua yang berarti memupuskan impiannya.

(Cerita berada dalam 2 dunia, dunia khayal dan nyata. Dimana dalam dunia nyata, disuguhkan cerita keadaan keluarga Tole yang terdiri dari Ibu, Ayah dan Tole. Dan dunia khayal cerita tentang Tole bersama teman-teman di dunia khayalnya, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong)

Narasi : (Alunan Musik-MC Sabda 1000 th Kalabendu)

Sebuah cerita tentang seorang anak bernama Tole, yang berasal dari keluarga miskin. Ia memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia. Dokter, adalah cita-cita yang ingin dicapainya.  Namun, cita-cita yang tinggi itu tentu saja takkan mudah dapat dicapainya. Keadaaan keluarganya tentu akan menjadi salah satu rintangan baginya untuk mencapai cita-citanya. Tapi, tekadnya yang kuat dan semangat membara yang dimilikinya dijadikannya modal baginya untuk meraih cita-citanya. Pertarungan tekad dan semangat melawan keadaaan akan kita saksikan dalam cerita ini. Mampukah si Tole..??

Scene 1 :

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 th Kalabendu) Tole pulang sekolah dengan berjalan kaki. Dalam perjalanannya pulangnya ia memikirkan soal cita-citanya.

(Musik-Lagu soal cita-cita)

Tole :

Mmm, dokter…ingin rasanya ku menjadi seorang dokter. Begitu mulianya tugas seorang dokter, dia dapat membantu orang, bahkan dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Aku berjanji, jika nanti aku bisa menjadi seorang dokter aku akan memberikan pelayanan gratis bagi orang yang tidak mampu. Seperti keluarga ku, hampir tak pernah kami berobat ke dokter karena biaya dan obatnya yang mahal. Tapi…apa iya keluarga ku mampu mendukung ku agar bisa menjadi dokter. Biaya sekolah saat ini saja sudah terasa berat bagi orang tua ku….

(Alunan Musik – Ngelmu Pring – Rotra)

Bagong dkk keluar, sambil menari-nari. Tole terlihatt bingung dengan apa yang terjadi.

Semar :

Wahai, bocah cilik…gerangan apa yang membuat hati mu resah dan gelisah, bagai semut merah yang berbaris di dinding….

Bagong dkk :

Yeee..!!

Tole :

Eh, siapa kalian…?? kok kalian berdandan seperti, badut….??? Mau apa kalian…?? Kalau mau uang, saya ga punya..saya ga punya apa-apa…!!

Bagong :

Wah..wah…jangan takut bocah cilik..

Petruk :

Bocah cilik jangan takut…

Bagong :

Kami ga akan minta apapun dari mu…

Petruk :

Apapun ga akan kami minta dari mu…

Gareng :

Tukang pos bolak balik banyak surat yang diangkut, wahai bocah cilik janganlah takut…

Semar :

Benar, kedatangan kami tak bermaksud buruk atau jahat kok…justru kami ingin membantumu…kamu terlihat gelisah, ada masalah apa..?? ceritaken saja daripada masalah yang kamu miliki, siapa tau kita bisa membantunya…

Bagong :

Iya, cerita saja…

Petruk :

Cerita saja, iya…

Gareng :

Ada gajah bokongnya gede, cerita aja deh…

Tole :

Tapi, aku kan tidak kenal dengan kalian…mau kah kalian memperkenalkan diri dulu…??

Gareng :

Oh, baik-baik…mm, kami ini selebritis di dunia pewayangan, masa kamu tidak tahu..??

Mm, ini yang paling tua dan gendut namanya Kakek semar..saya gareng, beli kangkung naek truk, yang jangkung namanya petruk..Musik dangdut pake gong, yang gendut namanya bagong…

Bagong :

Hei, kang gareng..!!

Petruk :

Kang gareng hei…!!!

Bagong :

Jangan seenaknya dong menyebut orang seperti itu…!!

Petruk :

Orang seperti itu jangan disebut seenaknya dong…

Semar :

Sudah..sudah…kalian ini…bertengkar terus ga ada abisnya…mau kalian di bilang mirip orang…??

Tole :

Hah, kenapa dengan orang…??

Semar :

Ya, orangkan suka bertengkar…Sudah, gimana…?? Kamu jadi mau bercerita daripada masalah mu….??

(Alunan Musik – Rotra – Ngelmu Pring) Tole bercerita…

Bagong :

Bagus itu, cita-cita yang mulia, cah bagus

Petruk :

Mulia cita-citanya…itu bagus, cah bagus…

Gareng :

Kenapa ga jadi artis aja, lebih keren lo…

Semar, Petruk & Bagong :

Gareng..??(Semar) Kang (Bagong & Petruk)

Semar :

Iya bagus itu. Kami akan bantu agar cita-cita mu terwujud…Yakinken dirimu, kuatken tekad mu dan tetap semangat…rintangan dan keterbatasan yang ada niscaya dapat cah bagus lewati…sekarang waktunya dari pada kamu untuk pulang cah bagus, orang tua mu sekarang mungkin membutuhken bantuan mu di rumah…

Gareng :

Mbak yu beli palu buat cabut gigi, yuk cabut dulu, sampai jumpa lagi…

Bagong & Petruk :

Yuk, cah bagus, sampai jumpa lagi…

Semar :

Ayo baris…(Alunan Musik – 2nd Clan – Benthik)

Narasi : (Alunan Musik- MC Sabda 1000 th Kalabendu)

Begitulah kira-kira, cita-cita si Tole…juga halang rintang yang bakalan dihadapinya..benarkah bagong dkk mampu membantu mewujudkannya….??

Scene II :

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

Narator : Lalu bagaimana ya keadaan keluarga si Tole ya…??

Bapak :

Assalamualaikum..

Ibu :

Wassalamualaikum…(Sambil mengasuh bayinya/digendong)

Bapak :

Capenya hari ini…toleeee…tolong sini pijit kaki bapak le…

Ibu :

Gimana dagangannya pae’…?

Bapak :

Ahh…cari uang makin susah bu…hidup makin susah…beberapa hari ini dagangan ku ga pernah abis…

Ibu :

Kok bisa toh pae, gimana buat makan kita, buat sekolah si Tole kalo kaya begitu terus…??

Bapak :

Yahhh, mo gimana lagi bu…gara-gara bensin naek, semuanya juga ikut-ikutan naek…sampe-sampe pungli ikut-ikutan naek, apa hubungannya pungli sama bensin coba, ada aja orang yang ambil kesempatan gara-gara bensin naek…pada cari-cari kesempatan semuanya…blom lagi, gara-gara ada peringatan untuk anak-anak sekolah biar ga jajan sembarangan, karena banyak jajanan yang dianggep ga sehat…

Ibu :

Tapi gimana dong pae’, kalo dagangan ga laku, berarti uang yang kita dapat jadi sedikit,  sedangkan belanjaan harganya naik semua…lama-lama kita bisa ga makan dong pae’…

Bapak :

Yah, makan ga makan asal ngumpul bu…sepertinya orang-orang kaya kita, ga pernah diberi kesempatan buat senang bu…pemerintah juga omongnya doang mau bantu rakyat…rakyat mana yang mereka bantu…?? Mau nolong gimana, wong nyari tempat buat dagang aja susah, kalo pun ada pake bayar pungli, mana mahal bayarnya…. belom lagi si bontot kl nanti sakit, uang dari mana buat berobat dia bu…

Ibu :

Iya nih pae’…akhir-akhir ini si bontot rewel terus, badannya meriang…

Bapak :

Waduh…butuh uang lagi buat brobat bontot maksudmu bu…??…uang dari mana lagi buat berobat…orang-orang seperti kita ini tuh di tuntut supaya sehat selalu, kalo sampe sakit urusannya runyam, bisa-bisa ngutang buat berobat…

Ibu :

Gimana dong pae’…Ya, Gusti Allah, tolong lah hamba mu yang serba kekurangan ini…

Bapak :

Sudahlah bu, yang jelas kita kan sudah berusaha dan tetep berdoa…mungkin nanti ada saatnya kita senang…Cuma harapan yang bisa bikin kita tetap bertahan…(menghela napas)…aku lapar, apa ada makanan untuk ku malam ini bu…?

Ibu :

Tole, tolong ambilin makanan buat bapak mu, di belakang…

(Tole beranjak ke belakang, mengambil makanan dan keluar dengan membawa sebuah piring yang dkemudian diletakkan di meja)

Bapak :

Gimana sekolah si Tole bu…???

Ibu :

Wah, pa.. tadi dia pulang sekolah nunjukin ponten ulangannya, dia dapet nilai 10, paling bagus di kelasnya…(sambil tersenyum)

Bapak :

Sukurlah, masih ada yang bisa kita banggakan, biar kita hidup susah begini, Le..

Tole :

Ya pak…

Bapak :

Oya, besok pagi jangan lupa sebelum berangkat sekolah kamu anterin dulu pesanan buat pak haji ya, jangan sampe telat, nanti dia keburu pergi…soalnya makananya mau di bawa pergi…

Tole :

Ya pak, besok sebelum ke sekolah Tole mampir ke rumah pak Haji buat antar pesanannya…

Closing : (Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

Scnen III :

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

Didalam kamarnya si Tole sedang belajar…tapi dia susah untuk konsentrasi setelah mendengar permasalahan keluarganya. Dia, tidak saja gelisah akan cita-citanya, tapi juga soal kehidupan keluarganya yang makin berasa memprihatinkan.

Tole :

Aduh, gimana ya…bapak ku sekarang makin susah untuk menafkahi hidup keluarga…hanya bapak saja yang cari uang untuk menghidupi keluarga ini…sedangkan aku hanya sekolah dan tak bisa menghasilkan apa-apa buat keluarga ini…apakah aku harus berhenti sekolah, membantu bapak cari uang…siapa tau dengan aku bekerja aku bisa membantu keluarga…biar si bontot bisa berobat ke dokter..tak apa aku ga bisa melanjutkan sekolah lagi, asal si bontot bisa hidup sehat…

Ibu :

(Masuk kamar Tole)

Le, kamu jangan tidur malam-malam ya…biar besok ga kesiangan…pagi-pagi kamu harus nganter pesanan buat pak haji lo…

Tole :

Iya bu, sebentar lagi tole tidur kok…

(Setelah mendengar jawaban, Ibu pergi meninggalkan kamar Tole)

(Alunan Musik – Rotra – Ngelmu Pring) Bersamaan alunan musik bagong dkk keluar…

Bagong :

Weleh..weleh…ada apa gerangan cah bagus…

Petruk :

Cah bagus ada apa gerangan..??

Bagong :

Bukannya belajar kok malah melamun…

Petruk :

Kok malah melamun bukannya belajar..

Gareng :

Matahari terbit di hari fajar, si kancil nyolong timun, bukannya belajar kok malah melamun…

Semar :

Ya, kami sudah dengarken dari pada masalah yang menimpa keluargamu le…Tapi, kamu harus tetap memiliki tekad yang kuat dan terus rajin dan tekun belajar…

Bagong :

Ya, rajin dan tekun belajar…

Petruk :

Tekun dan rajin belajar…Ya…

Semar :

Yakinlah bagaimanapun keadaannya tetap masih ada peluang…kamu jangan patah semangat ya le…

Gareng :

Bagong pergi kesebelah nyari air hangat, janganlah patah semangat…

Bagong :

Benar le…dari pada kamu patah semangat lebih baik kita bermain yuk…

(Mereka berembuk dan bermain si buta – Alunan Musik – Green Peanuts – Kacang Ijo)

Ibu :

Le…!!! Sudah malam, jangan berisik…!!!

Tole :

Ssstt…(Bergegas Tidur)

(Bagong dkk berusaha sembunyi..Semar, Gareng & Petruk keluar ruangan dan meninggalkan bagong yang masih berusaha menebak-nebak…lalu dia tersadar dan membuka ikatan penutup matanya)

(Alunan Musik – Jahanam – Cintamu sepahit Topi Miring)

Scene IV :

Narator :

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

Ya..Tekad yang hampir pudar, dan semangat yang hampir hilang dari Tole coba dibangkitkan lagi oleh Bagong dkk…Dalam keadaan sesulit apapun pastilah masih ada secercah peluang, ayo tole tetap semangat…!!! Pada suatu hari ada kejadian yang sedikit menggembirakan bagi keluarga si Tole…apa ya kejadian itu..?? Yuk kita lanjut mang….

(Rumah Tole, sore hari…Bapak baru pulang dari berdagang..Ibu sedang mengasuh bontot Tole sedang belajar di lantai…Ayah membawa sebuah bungkusan)

Bapak :

Assalamualaikum…

Ibu & Tole :

Walaikumsalam…

Bapak :

Bu…Allhamdulillah Bu…(ceria) walaupun hari ini dagangan ku tak selaris dulu, tp aku dapat rejeki nomplok…Lihat..! (Sambil menunjukkan isi bungkusan)…aku mendapat celana dari salah satu orang tua murid…masih bagus nih (Ibu menghampiri seraya memperhatikan celana itu..)

Ibu :

Wah, iya pae’…

Bapak :

Tapi sayangnya, celana ini kepanjangan…mmm…aku minta tolong pada kalian, kalau sempet, nanti malam potong celana ini kira-kira sejengkal…biar besok aku bisa pakai…aku taruh celananya di meja ya…(Bapak menaruh celana itu di meja)

Ibu & Tole :

Baik pak (Ibu)…Beres pak (Tole)

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

(Lalu pada malam harinya)

Bapak :

Mmmhh….(Merentangkan tangan) aku khawatir mereka tidak sempat bangun…baiknya aku potong sendiri saja lah…sejengkal…(Memotong celana) ahh…pas nih…

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

(Bapak masuk kamar…beberapa waktu kemudian Ibu Bangun)

Ibu :

Tadi sore bapak pesan untuk memotongkan celananya…mmm, sejengkal…(Memotong celana) dah beres…pasti bapak besok akan terlihat gagah dengan celana barunya….mmm…jadi teringat waktu dulu muda…seorang pemuda tampan dan gagah yang akhirnya jadi suami ku sekarang (sambil tersipu malu)

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

(Alunan Musik – Rotra – Ngelmu Pring) Bersamaan alunan musik Tole beserta bagong dkk keluar…

Tole :

(Berjalan kearah meja sambil mengucek matanya)

Tadi kalo tidak salah yang di potong ukurannya sejengkal deh…(Memotong celana) duh, jadi ga sabar liat Bapak pakai celana baru…seperti apa ya dia…??

(Alunan Musik – Rotra – Ngelmu Pring)

Narator :

Keesokan paginya… (Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

Bapak :

Buuu…!!! Leee….!! (Ibu dan Tole segera keluar dengan tergesa) Waduh, gimana ini…kok celana ku jadi pendek begini…bagaimana aku mau pake…?? Aku kan hanya butuh sejengkal saja untuk di potong…

Ibu :

Waduh…aku Cuma memotong celana itu sejengkal kok pak…

Tole :

Tole juga pak…Cuma sejengkal…kalo ga percaya tanya saja sama Ba…

Bapak :

Hah…!!! jadi kalian ikut motong juga…pantesan…yaahhh, celana ku….

Scene V :

Narator :

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

Tak seperti biasanya, lepas magrib bapak meminta anggota keluarganya berkumpul. Ibu, Tole dan si bontot berkumpul di ruang tengah yang juga jadi ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan itu. Biasanya kalau sudah begini, bapak ingin berbicara sesuatu yang serius. Apakah soal celananya yang kemarin…?? Yuk, kita liat…

Bapak :

Le, gimana sekolah mu…??

Tole :

Lancar-lancar aja kok pak…mm, besok tole ada ujian, kalau Tole bisa dapat nilai bagus, Tole akan dapat beasiswa pak. Jadi Tole sekolah ga perlu bayar lagi…

Ibu :

Gratis maksud mu le…??

Tole :

Iya, bu…jadi bapak dan Ibu ga perlu lagi keluar duit untuk sekolah Tole…Tapi , itu tadi…Tole harus dapat nilai bagus biar dapat beasiswanya bu…

Bapak :

Kamu yakin kamu bisa le..??

Tole :

Insya Allah pak…do’a dan restu dari Bapak dan Ibu tentu akan sangat membantu Tole dapat nilai bagus….

Ibu :

Bener le…usahamu yang sungguh-sungguh ya le…

Bapak :

(Menarik nafas) Begini, masalahnya sekarang, kebutuhan keluarga kita sulit untuk terpenuhi kalo hanya mengandalkan dagangan bapak…bapak, minta pengertian mu le…bapak minta kamu berhenti sekolah dan ikut cari duit buat keluarga, gimana..?

Ibu :

Apa pak..!!??? Tole, brenti sekolah..??? Oalah pae’….Apa pae’ udah gila…?…Tidak!! Tole harus tetap sekolah…!!! Apa yang bisa dia kerjakan untuk cari duit pak…???

Bapak :

Bu..dengar dulu…si Tole mungkin lebih berguna bagi keluarga kita kalo dia bisa ikut cari duit…dia bisa berjualan es atau jualan koran, atau apa saja untuk mencari tambahan buat keluarga kita…

Ibu :

Nggak pak…!! Ibu ga setuju…!! Tole belum waktunya untuk cari duit, dia masih terlalu kecil…biar dia sekolah…apalagi dia besok mau ujian untuk dapat beasiswa..

Bapak :

Bu…hasil dagangan bapak sekarang, hanya mampu untuk bayar kontrakan rumah ini saja…tidak cukup lagi buat makan kita bu…

Ibu :

Bapak ini hanya memikirkan kebutuhan sesaat  saja…!! Pokoknya Tole harus sekolah…!!!

(Bagong dkk, keluar mereka mengamati apa yang terjadi)

Bapak :

Kebutuhan sesaat gimana maksud ibu..?? Bu…Bapak tau, sekolah itu baik, Tole memang harus sekolah buat masa depannya…Bapak juga sebenarnya ga mau Tole putus sekolah bu…Tapi…keadaan yang memaksa bu…Tolong Ibu bisa mengerti…lagian, belum tentu juga Tole sekolah tinggi-tinggi baik untuk kita…Coba liat, berapa banyak tuh sarjana yang masih nganggur, sekolah mereka tinggi-tinggi bu, tapi ga dapat kerja…jadi mending si Tole kerja, jelas hasilnya dibanding sekolah yang belum tentu jelas nantinya…

Ibu :

Tuh kan, cuma duit yang bapak pikirin…apa namanya kalo bukan kebutuhan sesaat…??!! Tidak pak, tidak…!! Bapak ingat ga, waktu kita memasukkan Tole ke sekolah…?? Kita berjanji akan menyekolahkan Tole setinggi-tingginya…Kita akan berkorban apa saja, biar tole bisa terus sekolah…

Bapak :

Iya sih…

Ibu :

Kita berharap padanya, dengan dia bersekolah dia dapat hidup lebih baik nantinya, tidak seperti kita pak…Kemiskinan yang kita alami akan menurun padanya, jika Tole putus sekolah…apa bapak mau itu…?? beri kesempatan dia, pak..

Bapak :

Bu…

Ibu :

Pokonya kasih Tole kesempatan pak…!!!  Kita harus berkorban pak…kalo tidak, kemiskinan yang kita alami akan terus turun temurun sampai anak cucu kita..

Bapak :

Ya…tapi apa bisa ibu memastikan kalo Tole sekolah sampe tinggi akan mudah buat dia dapat kerja…??

Ibu :

Insya Allah…

Bapak :

Ibu jangan mengharapkan yang tidak pasti seperti itu bu….yang pasti-pasti sajalah…

Ibu :

Tidak pasti gimana…?? Paling tidak, kalo Tole sekolahnya sampe tinggi dia masih punya peluang dapat kerjaan yang lebih baik dari bapak, yang Cuma dagang jajanan saja..!! kalo Tole sampe putus sekolah masa depannya ga akan beda sama kita pak…!!

Bapak :

Ya, tapi itu semuakan masih tidak pasti…

Ibu :

Bapak ga percaya sama Gusti Allah..??? Gusti Allah, akan memberi jika kita juga berusaha, siapa lagi yang dapat merubah nasib kita kalo bukan kita sendiri…

Bapak :

Ya ini kan bagian dari usaha kita bu…

Ibu :

Bukan begini caranya pak …!!

Tole :

Mmm, pak….

Bapak :

Ada apa le…??

Tole :

Mmmm, Tole akan bantu bapak jualan, tapi Tole, jangan putus sekolah…Tole yakin pak kalo Tole bisa dapat beasiswa..

Ibu :

Tuh liat, dia yakin pak…kita harus dukung dong…

Tole :

Tole janji akan bantu bapak jualan sepulang sekolah…

Ibu :

Jangan…!! Biar ibu saja yang bekerja…Ibu akan coba cari kerjaan buat bantu cari uang…Ibu akan cari keluarga yang butuh tenaga untuk cuci gosok baju..

Bapak :

Begini saja…kita tunggu besok hasil ujian Tole…kalo Tole bisa dapat beasiswa, Tole akan tetap sekolah..tapi kalo tidak, Tole terpaksa putus sekolah…gimana…??

Ibu :

Kita tunggu besok…sekarang mari kita bersama berdoa pada Gusti Allah, berharap ridhonya…semoga Dia dapat memberikan yang terbaik buat kita…

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

Narator :

Sungguh sulit hidup keluarga Tole…keinginan untuk tetap bersekolah terbentur oleh keadaan yang sulit…betapa beruntungnya bagi kita-kita yang masih bisa bersekolah tanpa harus menemui keadaan yang sulit seperti keluarga Tole…Tekad yang kuat dari Tole dan ketegaran dari Ibu akhirnya mampu memberi kesempatan bagi Tole…

(Tole sedang tidur dikamarnya, Ibu menghampiri Tole..Memperhatikan Tole, mengusap wajahnya…Alunan Musik – Kill The DJ – Sinom 231 & Lingsir Wengi)

Ibu :

Setitik cerah di langit yang gelap nan kelabu

Jalan terjal dan berliku tuk menuju

Bermodal tekad, semangat dan keyakinan ke arah yang di tuju

Ya, Gusti Allah bantulah hamba mu….

(Alunan Musik- MC Sabda 1000 thn Kalabendu)

Narator :

Keesokannya, keluarga Tole berharap-harap cemas akan hasil ujian Tole, terutama Ibu, yang masih ingin Tole tetap sekolah….kesempatan yang mungkin akan sulit lagi didapatkan…mampukah tekad, semangat dan ketegaran mampu mengalahkan keadaan….???

Tole :

Bu…Pak….aku berhasil…. aku berhasil…. aku berhasil bu….aku dapat beasiswa….!!!

(Berlari, diikuti Bagong dkk)

(Serentak meraka berdua menyambut gembira Tole….)

(Alunan Musik – Rotra – Ngelmu Pring)

Narator :

Yahh..akhirnya….tekad, semangat dan ketegaranlah yang memenangkan pertarungan kali ini…selamat ya le…sesulit apapun keadaan pastilah masih ada sedikit peluang dan kesempatan, dan jangan lupa…kalo Gusti Allah pasti akan bersama kita….ya, demikian kisah si Tole…sampai jumpa lagi dimasa akan datang…tetap semangat…Merdeka…Merdeka…Merdeka…!!!

 -TAMAT-

Karena Keadaan Maka Tak Disiplin

Dalam sebuah acara di televisi swasta nasional, yang merupakan program baru dari televisi tersebut, dimana acara tersebut mengangkat topik mengenai hal-hal yang terkait dengan kota Jakarta. Hal-hal yang dibahas merupakan hal yang tidak menyenangkan yang ada di kota Jakarta, yang diantaranya ketidakdisiplinan dan kemacetan.

Dalam program tersebut terdapat opini yang dilontarkan oleh seorang sosisolog yang cukup terkenal. Dalam opininya, ada hal yang membuat terkejut dan ketidaksetujuan atas opini yang terlontar.

Kurang lebihnya beliau mengatakan bahwa kemacetan yang juga disebabkan oleh karena ketidaksiplinan berkendara diakibatkan oleh keadaan jalan, dan pengguna mercy juga ikut tak beradab atas keadaan tersebut.

Tak disangka begitu mudahnya sosiolog tersebut menyalahkan sebuah keadaan sebagai alasan untuk tidak berdisiplin. Yang tambah menyakitkan adalah pengguna mercy, yang diidentikkan dengan kaum kaya dianggap sebagai kaum yang dikategorikan sebagai kaum yang lebih beradab.

Tak pantas rasanya menyalahkan keadaan sebagai penyebab, karena sadar atau tidak suatu keadaan terbentuk karena campur tangan dari kita semua. Sehingga keadaan jalan yang ada saat ini juga tak jauh dari campur tangan kita juga. Atau dengan kata lain, kita juga ikut turut andil dalam membentuk keadaan tersebut.

Kedisiplinan adalah sebuah nilai, yang banyak orang bijak menganjurkan untuk dimiliki oleh diri atau bangsa yang ingin diri atau bangsanya maju. Jadi, seyogyanya kedisiplinan dijadikan prinsip hidup bagi siapa yang ingin maju. Jika telah dijadikan sebagai prinsip hidup maka tentunya takkan goyah oleh hantaman keadaan, dan keadaan dapat dijadikan sebagai ujian bagi prinsip tersebut. Namun, jika kedisiplinan hanya tampil sebagai slogan semata, tentu akan begitu mudah terbawa arus keadaan.

Menjadikan keadaan sebagai penyebab dari ketidakdisiplinan sama saja menunjukan kelemahan diri kita. Kita seperti tak mampu manjawab permasalahan dan hanya pasrah menerima keadaan yang terjadi. Padahal keadaan dibuat oleh kita tapi kita tak bisa berbuat dalam keadaan tersebut.

Begitu juga halnya dengan tingkat keberadaban seseorang tentunya tak layak jika dinilai dari status sosial, dalam hal ini hanya dimiliki oleh orang kaya. Begitu picik rasanya penilaian sederhana tersebut. Karena keberadaban adalah soal kearifan dan kedewasaan dari seseorang, tak lantas hanya karena status sosialnya saja yang bisa membawa seseorang menjadi beradab.

Alangkah baiknya, jika keadaan, dalam hal ini keadaan jalan yang ada, menjadi tanggung jawab kita bersama dalam memecahkan masalah tersebut. Tentunya dari pemecahan masalah ini dibutuhkan pengorbanan. Seperti dengan meninggalkan kendaraan pribadi dengan beralih ke transportasi umum. Karena jalan yang ada sudah tidak mampu lagi menampung kendaraan yang ada. Penyediaan transportasi umum yang layak, aman dan nyaman adalah kebutuhan yang wajib secepatnya tersedia. Sulit mengharapkan peralihan pengguna kendaraan pribadi menjadi pengguna transportasi umum jika transportasi umum yang tersedia tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

Jadi, tak berguna rasanya menyalahkan keadaan karena yang lebih berguna adalah menjawabnya. Dengan mendobrak keadaan tersebut, tentunya dengan bersama-sama.

Kurban=Persembahan

Hari besar umat Muslim-mungkin terbesar yang kedua setelah hari raya Idul Fitri-telah kita lalui. Mudah-mudahan tulisan ini belumlah telat untuk mencoba memaknai Hari besar tersebut. Hari raya ini biasa disebut Idul Adha, atau lebih akrab dengan sebutan Idul Qur’ban. Menjelang hari raya ini biasanya mulai “berserakan” hewan-hewan ternak, kambing dan sapi. Hewan-hewan inilah yang nantinya akan disembelih untuk kurban, sebagai bentuk ritual ibadah bagi umat Muslim.

Alkisah, dahulu riwayatnya, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya Nabi Ismail. Perintah yang sungguh berat bagi seorang manusia, dimana harus menyembelih darah kandungnya sendiri. Tapi dengan keimanan yang sangat “tinggi”, Nabi Ibrahim menjalankan perintah tersebut. Namun, pada saat penyembelihan ternyata Nabi Ismail ditukar dengan hewan (domba). Sejak saat itulah penyembelihan hewan kurban menjadi sebuah ibadah bagi umat Muslim hingga sekarang.

Tradisi penyembelihan atau pengurbanan ini tidak saja ada pada jaman Nabi Ibrahim saja, atau tidak saja ada pada agama Islam saja. Banyak kepercayaan-kepercayaan lain juga melakukannya. Bahkan bukan saja hewan yang menjadi kurbannya tapi manusia. Biasanya ini dilakukan oleh para penganut animisme, sebagai bentuk persembahan bagi sang Khalik-bagi penganut aliran kepercayaan. Persembahan yang dilakukan ini diharapkan agar Yang Maha Kuasa-bagi penganut paham animisme, di Indonesia ada yang dinamakan dengan kejawen-memberikan keberkahan dan kemakmuran bagi kehidupan di dunia. Menjadi pertanyaan, apa bedanya persembahan yang dilakukan oleh para penganut animisme dengan umat Muslim ?

ac� i࿘ ��� ini lebih karena disebabkan ketidakmampuan dari daya tampung jalan di Jakarta karena begitu tingginya volume kendaraan yang ada di jalanan Jakarta. Dan hal utama yang lainnya adalah tingkat kedisiplinan dari para pengguna jalan di Jakarta.

Dua faktor di atas, tingginya volume kendaraan dan tingkat kedisiplinan, lebih “pantas” di “tuduh” sebagai biang keladi kemacetan. Justru busway di bangun dengan maksud sebagai salah satu solusi bagi kemacetan di Jakarta. Harapan untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke angkutan umum (busway) adalah tujuan dari proyek busway. Sehingga dengan begitu, dapat mengurangi jumlah volume kendaraan yang beredar di Jakarta.

Nah, sekarang tinggal bagaimana kemamuan dari para pengguna kendaraan pribadi di Jakarta, apakah mau mengorbankan sedikit kenyamanan berkendaraan pribadi dengan  beralih ke angkutan umum atau tidak. Memperbaiki tingkat kedisiplinan dalam berkendara di jalan dengan mematuhi aturan yang ada, diharapkan dapat juga membantu mengatasi kewajiban.

Sebab, jika busway itu memang tidak diinginkan keberadaannya oleh masyarakat, tapi kenyataanya busway selalu di penuhi oleh penumpangnya. Yang dibutuhkan Jakarta sebagai salah satu solusi kemacetannya adalah pembangunan transportasi masa yang terintegrasi dan nyaman bagi para penggunanya. Memang, tingkat kenyamanan menggunakan fasilitas busway belum mencapai tingkat yang benar-benar memuaskan, tapi bukan berarti busway mesti dihapuskan dari “jagat” Jakarta. Tentunya perbaikan untuk mencapai tingkat kepuasan yang diinginkanlah yang mesti dilakukan dibanding harus menghapus busway. Jangan lupa juga pengawasan terhadap proyek busway tersebut dari tindakan korupsi. Karena bagaimanapun juga dana yang digunakan dalam proyek busway adalah dana rakyat yang mesti jelas dan  benar penggunaan dan pertanggungjawabannya.

Jadi sekarang apakah para pengguna kendaraan pribadi mau mengorbankan kenyamanan yang didapat dari berkendaraan pribadi untuk beralih ke angkutan umum ? Maukah para pengguan jalan lebih berdisiplin pada aturan lalu lintas jalan ? Atau tetap pada masing-masing egonya hingga yang didapat adalah kemacetan yang tak kunjung usai. Kasian atuh kalau busway yang terus-terusan dijadikan penyebab kemacetan Jakarta, tapi penyebab lain kemacetan Jakarta tidak “disenggol”. Hidup busway lah, tetap semangat.

Macet, apa benar karena busway..?

Tatkala kita ditanyakan tentang Jakarta, kata macet sering tersebut. Macet sepertinya sudah menjadi menu keseharian dari penduduk Jakarta. Bahkan pada pilkada lalu, setiap Cagub Jakarta yang bertarung berkampanye untuk mengatasi salah satu masalah yang melekat di Jakarta ini.

Saat ini begitu ramainya, sebagian masyarakat Jakarta dan dengan dukungan akses media “menuduh” proyek busway sebagai biang keladi kemacetan di Jakarta. Kemacetan di Jakarta semakin terasa pasca lebaran, seiring adanya proyek busway koridor VIII, IX dan X. Proyek yang dianggap menjadi biang keladi kemacetan di Jakarta, yang dikarenakan semakin berkurangnya ruas jalan akibat adanya proyek tersebut, di desak untuk di hentikan oleh sebagian masyarakat Jakarta.

Saatnya kita coba untuk jujur dalam melihat penyebab soal kemacetan di Jakarta ini. Apakah saat sebelum adanya proyek busway dilaksanakan, Jakarta tidak mengalami kemacetan ? Apakah memang busway yang menjadi penyebab kemacetan di Jakarta ? Tak adakah faktor lain yang menjadi penyebab utama kemacetan di Jakarta selain busway ?

Kalau kita mau lebih jujur dan tidak asal “tuduh”, kemacetan di Jakarta ini lebih karena disebabkan ketidakmampuan dari daya tampung jalan di Jakarta karena begitu tingginya volume kendaraan yang ada di jalanan Jakarta. Dan hal utama yang lainnya adalah tingkat kedisiplinan dari para pengguna jalan di Jakarta.

Dua faktor di atas, tingginya volume kendaraan dan tingkat kedisiplinan, lebih “pantas” di “tuduh” sebagai biang keladi kemacetan. Justru busway di bangun dengan maksud sebagai salah satu solusi bagi kemacetan di Jakarta. Harapan untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke angkutan umum (busway) adalah tujuan dari proyek busway. Sehingga dengan begitu, dapat mengurangi jumlah volume kendaraan yang beredar di Jakarta.

Nah, sekarang tinggal bagaimana kemamuan dari para pengguna kendaraan pribadi di Jakarta, apakah mau mengorbankan sedikit kenyamanan berkendaraan pribadi dengan  beralih ke angkutan umum atau tidak. Memperbaiki tingkat kedisiplinan dalam berkendara di jalan dengan mematuhi aturan yang ada, diharapkan dapat juga membantu mengatasi kewajiban.

Sebab, jika busway itu memang tidak diinginkan keberadaannya oleh masyarakat, tapi kenyataanya busway selalu di penuhi oleh penumpangnya. Yang dibutuhkan Jakarta sebagai salah satu solusi kemacetannya adalah pembangunan transportasi masa yang terintegrasi dan nyaman bagi para penggunanya. Memang, tingkat kenyamanan menggunakan fasilitas busway belum mencapai tingkat yang benar-benar memuaskan, tapi bukan berarti busway mesti dihapuskan dari “jagat” Jakarta. Tentunya perbaikan untuk mencapai tingkat kepuasan yang diinginkanlah yang mesti dilakukan dibanding harus menghapus busway. Jangan lupa juga pengawasan terhadap proyek busway tersebut dari tindakan korupsi. Karena bagaimanapun juga dana yang digunakan dalam proyek busway adalah dana rakyat yang mesti jelas dan  benar penggunaan dan pertanggungjawabannya.

Jadi sekarang apakah para pengguna kendaraan pribadi mau mengorbankan kenyamanan yang didapat dari berkendaraan pribadi untuk beralih ke angkutan umum ? Maukah para pengguan jalan lebih berdisiplin pada aturan lalu lintas jalan ? Atau tetap pada masing-masing egonya hingga yang didapat adalah kemacetan yang tak kunjung usai. Kasian atuh kalau busway yang terus-terusan dijadikan penyebab kemacetan Jakarta, tapi penyebab lain kemacetan Jakarta tidak “disenggol”. Hidup busway lah, tetap semangat.

Halal Bihalal

Bulan Syawal adalah puncak dari pergulatan rohani yang diritualkan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Puasa, tarawih, dan tadarus merupakan bentuk ibadah yang sakral untuk mengukuhkan hubungan dengan Tuhan (Hablum Minallah).

Di sini, dalam suasana Idul Fitri 1423 H, alangkah baiknya kita melihatnya sebagai simbol yang membebaskan. Artinya, segala bentuk ibadah yang baru saja dituntaskan di bulan Ramadhan harus dijadikan modal utama untuk kembali ke fitrah, yang bermakna “pulang ke kesucian”, yaitu, sebagai manusia yang ditugaskan memakmurkan bumi, yang tidak menebarkan kerusakan, marbahaya, dan kekerasan.

Di Tanah Air, kita mempunyai tradisi keagamaan yang amat berharga, yaitu Halal bihalal, yang sulit ditemukan di negara muslim lainnya. Halal bihalal berarti pertemuan antara dua halal guna menjadi satu dalam kesucian. Perbedaan, kekhilafan dan kealpaan yang kita perbuat selama ini disucikan kembali dengan cara saling meminta maaf.

Karenanya, Halal bihalal tidak dilakukan secara sendirian, melainkan bersifat dialog. Ada keterbukaan untuk mengakui kesalahan sembari meminta maaf. Begitu halnya bagi seseorang yang dimintai maaf mesti menerima uluran dan pengakuan tersebut. Sebab, setiap manusia adalah mahlukyang menyimpan sejuta kesalahan dan kealpaan.

Secara umum, Halal bihalal biasanya dimulai dari keluarga, saudara, tetangga dan lalu masyarakat secara umum. Dengan berbagai caranya sendiri-sendiri.

Karena itu, dalam kaitan agama sebagai modal dasar dalam mewujudkan masyarakat yang adil, damai, dan keberadaban, Halal bihalal mestinya didorong sebagai simbol yang membebaskan.

Pertama, Halal bihalal sejatinya dalam menyadarkan masyarakat beragama, bahwa agama tidak hanya menekankan aspek hubungan kita dengan Tuhan, melainkan juga mendorong pada kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan dalam tataran bermasyarakat. Agama tidak hanya berbicara tentang hal-hal yang abstrak, melainkan juga mengulas mengenai realitas (kenyataan) kemanusiaan. Di sini agama dapat menyentuh wilayah kemanusiaan secara umum. Kedua, halal bihalal sejatinya dapat membuka pikiran dan hati nurani, bahwa setiap insan dilahirkan dalam keperbedaan dan kemajemukan. Bahkan perbedaan dan kemajemukan tersebut merupakan khazanah yang perlu dihidupkan guna menciptakan keseimbangan dan kesempurnaan.

Ketiga, Halal bihalal sejatinya dapat menghapuskan prasangka buruk terhadap “yang lain”, baik berbeda suku, agama, dan ras. Di tengah merebaknya kebencian dan prsangkaburuk terhadap “yang lain”, semestinya kita dapat menebarkan kesucian perasaan dan perasaan empati untuk melihat “yang lain” dalam kesetaraan. Ini penting guna merekatkan kembali simpul-simpul kehidupan berbangsa dan bernegara yang sedang retak dan tercabik-cabik.

Di sinilah arti penting halal bilhalal dalam konteks kekinian (pada zaman ini). Halal bihalal memberikan inspirasi penting bagi sikap inklusif, yaitu sikap terbuka terhadap perbedaan dan kemajemukan menuju penghayatan terhadap doktrin keagamaan yang substantif (pokok). BERAGAMA TIDAK HANYA UNTUK DIMILIKI DIRI SENDIRI, MELAINKAN JUGA HARUS DINIKMATI OLEH SEGENAP UMAT MANUSIA. Wallahualam (ad201202)

Bohong…Iklan Tukang Bohong……??

Baca Koran, lho kok isinya iklan semua. Pas lagi nonton tivi, dikit-dikit iklan, dikit-dikit iklan. Lagi dengerin radio, mana lagunya..? iklan semua. Gambaran tersebut mungkin terlalu berlebihan dalam menggambarkan bagaimana ramainya iklan. Iklan saat ini sudah seperti ngerubungin kehidupan kita. Hampir sebagian besar ruang publik, seperti media massa dan jalan raya dipenuhi dengan iklan-iklan. Bukan hanya “menyelimuti” kehidupan kita, tapi iklan juga telah banyak berpengaruh ke dalam kehidupan. Budaya konsumtif adalah salah satu hasil yang dilahirkan oleh maraknya iklan.

Jika diibaratkan iklan adalah sebuah virus. Dimana virus akan mengganas tatkala ia numpang kepada zat organik lain yang dapat mendukungnya. Contohnya, adalah virus dengue yang mengganas jika dia nemplok pada nyamuk adies agiepty. Tanpa ada tumpangan, virus  dengue bak macan ompong. Begitu juga akan halnya iklan, akan semakin menggila jika ia didukung oleh “mahluk” yang dapat memberi tumpangan yaitu media massa atau ruang publik.

Apa sih definisi atau arti iklan itu…? Yang pasti iklan adalah bagian dari promosi. Jika kita menilik berdasarkan UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menyebutkan bahwa promosi adalah kegiatan pengenalan/penyebarluasan informasi suatu barang dan/atau jasa untuk menarik minat beli konsumen terhadap barang dan/atau jasa yang akan dan sedang diperdagangkan. Sedangkan iklan adalah merupakan salah satu bentuk promosi yang dipublikasikan melalui media cetak, elektronik dan media luar ruang untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat dengan tujuan memperkenalkan/memperbesar volume penjualan barang milik pemasang iklan.

Mungkin secara sederhana iklan dapat diartikan sebagai sarana komunikasi antar produsen dengan konsumen, dimana produsen menjelaskan hasil produksinya, manfaatnya, tujuan, cara pakainya, cara mendapatkannya dan sebagainya, yang memiliki tujuan menarik minat beli dari konsumen. Mau lebih sederhana lagi..? Iklan adalah Media atau cara bagi produsen untuk memperkenalkan dan menarik minat beli konsumen.

Iklan menjadi sangat penting keberadaannya bagi kegiatan bisnis atau perdagangan. Tanpa iklan sulit bagi produsen dalam memasarkan barang atau jasa yang dihasilkannya kepada konsumen atau pembeli. Muncul ide-ide kreatif  dalam membuat iklan agar iklan yang ditayangkan dapat menarik perhatian. Bahkan iklan juga dapat melakukan “cuci otak”, dengan menayangkannya berkali-kali atau dalam tingkat frekuensi yang tinggi, dengan demikian menjadikan konsumen menganggap bahwa produk tersebutlah yang terbaik, terhebat dan cocok untuknya.

Beberapa hal yang dibatasi dalam beriklan berdasarkan UU No.8  Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen antara lain, iklan todak boleh seolah-olah telah memiliki potongan harga, secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan atau jasa lain, mengandung janji yang belum pasti dan masih ada beberapa lagi lainnya. Selain ada batasan yang tertuang dalam bentuk perundang-undangan, dunia periklanan juga memiliki kode etik, yang berfungsi sebagai alat kontrol ke dalam bagi dunia periklanan.

Kode etik iklan tersebut antara lain harus jujur, bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Yang dimaksud dengan jujur adalah iklan tidak boleh menyesatkan, diantaranya, dengan memberikan keterangan yang tidak benar, mengelabui dan memberikan janji yang berlebihan. Bertanggung jawab artinya iklan tidak boleh menyalahgunakan kepercayaan masyarakat dan merugikan masyarakat.

Penulis menilai bahwa iklan yang “bertebaran” saat ini jelas-jelas banyak yang melanggar baik itu dari UU Perlindungan Konsumen ataupun kode etik Periklanan Indonesia. Sebagai contoh, iklan obat nyamuk yang terkesan sangat “manjur” dalam membunuh nyamuk. Walau tidak semua iklan melanggar, masih ada beberapa iklan yang “lurus”. Dan para pembaca juga bisa menilai iklan-iklan tersebut sendiri, penilaian terhadap sesuatu adalah hak dari setiap individu. Banyak juga iklan-iklan yang kreatif dan lucu-lucu sehingga tak cuma sekedar memberikan informasi saja tapi juga menghibur.

 

Beriklan bagaimanapun juga sangat dibutuhkan bagi mereka yang berbisnis dalam memasarkan sesuatu-barangdan atau jasa. Bukan untuk melarang adanya iklan, tapi sebatas mengingatkan, bahwa konsumen juga punya hak, dan cobalah untuk lebih diperhatikan. Dimana salah satu haknya adalah berhak untuk tidak dikibili. Patuhilah rambu-rambu perundang-undangan yang ada, dan taatilah kode etik yang telah “kalian” buat sendiri. Sehingga diharapkan kedepan hak konsumen untuk mendapatkan informasi yang benar tentang suatu “produk” dapat terjamin. Jika sebuah informasi telah dipublikasikan ternyata menyesatkan maka dapat dianggap sebagai kebohongan publik. Lalu bagaimana dengan iklan Capres…..??? Wassalam. (ad230604)

Punya kekuasaan, jadi korupsi…

Judul di atas di ambil dari sebuah adagium atau sebuah peribahasa yang sudah terkenal, “kekuasaan yang mutlak akan melahirkan korupsi yang mutlak”. Hal ini secara empiris atau berdasarkan pengalaman sudah banyak terjadi. Sebagai contoh, di era orde baru, dimana kekuasaan mutlak berada di tangan seorang Suharto dan kita dapat melihatnya sendiri bagaimana beliau beserta keluarga dan kroninya berpesta pora melakukan korupsi.

Contoh lain yang terjadi adalah di era saat ini yang banyak dikatakan sebagai era reformasi, juga banyak terjadi korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang baru memegang kekuasaan, seperti anggota-anggota dewan yang pada pemilu 1999 baru terpilih dan menikmati empuk dan basahnya kursi dewan legislatif. Atau pada jabatan-jabatan lain yang diisi orang-orang baru. Dimana semula orang-orang tersebut diharapkan membawa perubahan yang menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih baik, tapi malah melenceng entah kemana. Atau dengan kata lain tidak sesuai dengan salah satu tuntutan reformasi, yaitu memberantas KKN.

Apa hubungan antara korupsi dengan kekuasaan? Sangat jelas antara kekuasaan dan korupsi memiliki hubungan yang “erat”. Karena dengan dipegangnya atau dikuasainya sebuah kekuasaan maka akan “melahirkan” sebuah kesempatan. Kesempatan didapat dari besarnya kewengan dari orang yang memiliki kekuaasan tersebut. Kesempatan yang dimaksud adalah kesempatan untuk korupsi. Dan korupsi disini tidaklah sebatas korupsi uang saja, tapi juga segala bentuk penyelewengan.

Kenapa kesempatan begitu berarti? Tanpa ada kesempatan dan peluang tentu kita tidak dapat berbuat sesuatu. Sebuah kesempatan tidak “melekat” begitu saja pada setiap orang. Sebagai contoh, di negeri tidak banyak yang memiliki kesempatan untuk dapat melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi, mungkin karena keterbatasan biaya atau hal lainnya.

Kembali kepada pokok permasalahan, kekuasaan memiliki kewenangan, kewenangan menciptakan kesempatan dan peluang, dan kesempatan dan peluang yang dimaksud adalah kesempatan untuk korupsi inilah yang pada akhirnya digunakan oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Jadi kalau begitu hapus saja “kekuasaan” dari muka bumi ini, agar tak terjadi korupsi!

Tentu tidak bisa begitu saja, bukan kekuasaan yang harus dihapus. Karena korupsi yang disebabkan oleh adanya kekuasaan bisa saja tak terjadi. Ada faktor-faktor yang menentukan disini, sedikitnya ada dua faktor yang coba diketengahkan. Pertama, si empunya kekuasaan, jika si pemilik kekuasaan tersebut memiliki keimanan yang kuat atas keyakinannya, korupsi mustahil terjadi. Karena, bentuk keyakinan apapun tidak ada yang mengizinkan penganutnya untuk melakukan korupsi. Selain memiliki keimanan yang kuat, se pemilik kekuasaan juga memiliki integritas dan kejujuran yang kuat, dimana hal tersebut merupakan faktor turunan dari adanya keimanan yang kuat dari seseorang.

Yang kedua adalah sistemnya, dimana sistem didesign sedemikian rupa sehingga menutup kesempatan bagi terjadinya korupsi. Sistem bagaimana yang didesign untuk menutup kesempatan untuk korupsi? Yang jelas bahwa tidak ada kepemilikan kekuasaan yang absolut atau mutlak. Sistem tersebut harus memberikan ruang bagi adanya pengawasan dan supervisi yang ketat terhadap penggunaan kekuasaan.

Harus tercipta sebuah mekanisme check and balances-istilah yang digembar-gemborkan oleh Cak Nur. Syarat bagi terbentuknya sebuah tatanan demokrasi adalah adanya mekanisme check and balances tersebut, atau adanya kekuatan pengimbang. Dengan adanya mekanisme ini ada pihak lain, di luar pemegang kekuasaan, yang melakukan pengawasaan dan supervisi terhadap penggunaan kekuasaan tersebut. Sehingga dengan adanya check and balances tersebut dapat meminimalkan penyalahgunaan wewenang atau juga yang disebut korupsi oleh si pemilik kekuasaan.

Jika kita melihat sistem pemerintahan saat ini sebenarnya sudah baik, namun pelaksanaanya saja yang masih berantakan. Pemisahan antara kekuatan ekskutif sebagai pelaksana, legislatif sebagai pengawasan dan yudikatif sebagai “pemberi” hukuman, adalah bentuk yang ideal, paling tidak sampai saat ini. Implementasi yang idealnya adalah antara ketiga “kekuatan” tersebut saling “bertempur” sesuai dengan masing-masing kewenangan yang dimilikinya sehingga nantinya akan tertutup kesempatan-kesempatan berbuat korupsi.

Namun, yang terjadi adalah adanya interaksi simbiosis mutualisme antar ketiga “kekuatan” tersebut, interaksi yang saling menguntungkan antar “kekuatan” untuk saling dapat melakukan korupsi. Di sini lah fungsi dari masyarakat untuk melakukan mekanisme check and balances atau berperan sebagai kekuatan pengimbang, setelah tak jalannya fungsi check and balances di atas. Namun juga sayang, masyarakat juga banyak yang nyemplung ikut berkorupsi ria dengan kekuasaan yang terbatas yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Inti dari semuanya adalah harus, wajib dan fardhu hukumnya ada mekanisme check and balances, sebagai kekuatan pengimbang, untuk meminimalkan penyalahgunaan wewenang. Ini bukan hanya terjadi pada tataran ketatanegaraan saja, tapi disetiap bentuk atau lingkup, sehingga nantinya tidak ada pemegang kekuasaan mutlak, dimana akan dengan sangat mudahnya bertindak korup dengan “senjata” wewenang. Perlu ditekan lagi bahwa selain harus adanya check and balances juga harus ada manusia-manusia yang beriman, karena keduanya, antara manusia dan sistem (check and balances) adalah faktor yang saling melengkapi, tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Bukankah Allah menciptakan di dunia ini dengan mekanisme keseimbangan dan saling melengkapi ? Ada jahat ada baik, ada laki ada perempuan, ada gembira ada sedih, ada gula ada semut……Wassalam. (ad140404)