Doa Yang Baik Saja

Saat bulan Ramadhan lalu, tepatnya saat shalat Tarawih di masjid-masjid Mesir dalam untaian do’a penutupnya, mendo’akan Presiden George W Bush dan Ariel Sharon agar mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang mereka lakukan. Bahkan di masjid kampung Meit Taman Ibrahim Abdul Hadi seorang mahasiswa teknik yang menjadi imam shalat Tarawih mengatakan ” Ya Allah, hancurkanlah Bush, Rumsfeld, Powell, Rais (penasihat Presiden AS). Mereka semuanya adalah orang-orang jahat yang memusuhi Islam dan umat Muslimin. Ya Allah, gagalkanlah rencana jahat mereka, selamatkanlah bangsa-bangsa Muslim dari kejahatan mereka. Ya Allah, hancurkanlah pasukan mereka di Teluk dan Irak, di Palestina dan Afghanistan. Tolonglah umat Islam dengan kemuliaan bulan Ramadhan agar konspirasi mereka terbongkar.”

Tak hanya sampai di situ, beberapa minggu yang lalu ada seorang ustadz yang memberikan ceramah di Masjid At-Taqwa Tugu Permai, juga melakukan do’a yang tak jauh berbeda, dengan ditambah, “timpakanlah azab dua kali lipat daripada yang engkau timpakan pada kami kepada pemimpin-pemimpin kami yang mengajak kepada kesesatan.”

Do’a adalah permohonan kita kepada Tuhan. Apapun yang kita mohonkan dan ditujukannya kepada Tuhan disebut do’a, baik itu saat selesai melakukan shalat, hendak melakukan sesuatu dan dalam situasi dan kondisi kapan saja. Jika melihat materi do’a yang dibaca oleh para ustadz yang nota benenya lebih paham dalam soal agama, timbul sedikit kemirisan dalam diri.

Secara umum bukan suatu masalah, tapi jika diperhatikan secara baik-baik dalam do’a itu terkandung kalimat yang mendo’akan kepada orang lain hal-hal yang buruk, atau segala sesuatu balasan yang buruk kepada mereka. Baik itu yang ditujukan kepada musuh Islam dan bahkan kepada sesama Muslim.

Pada dasarnya apa yang dilakukan maka akan menerima akibat atas perlakuan tersebut. Atau dengan bahasa yang akrab didengar, yaitu akan ada hukum karma. Hukum karma secara sadar atau tidak diakui kebenarannya. Baik itu nanti yang akan diterima diakhirat ataupun yang akan diterima di dunia. Banyak juga cerita-cerita yang kita dengar tentang hukum karma, seperti anak yang durhaka pada orang tuanya yang akhirnya hidupnya menjadi susah. Atau ungkapan jaman dulu “Kita yang menanam kita juga yang memetik hasilnya”. Bukan hukum karma yang dibicarakan disini, tapi percaya atau tidak mereka yang dikatakan musuh Islam dan para pemimpin yang sesat akan menerima balasann dengan sendirinya tanpa kita harus mendo’akannya.

Tidak berarti harus diam dan pasif terhadap keadaan yang terjadi, selain kita juga harus melawan atas perlakuan mereka yang tidak adil, kita juga tetap mendo’akan mereka. Tapi do’a yang seperti apa? Jika do’a yang dikumandangkan di atas, terasa suasana permusuhannya, bukankah lebih baik menciptakan kedamaian. Menciptakan kedamaian disini bukan berarti mengalah atau melakukan kompromi dan menerima hasil yang tidak adil.

Do’a yang dimaksud adalah do’a yang terasa lebih menyejukkan. Betapa lebih baiknya jika mendo’akan “mereka” hal yang lebih baik, seperti “Ya, Allah sadarkanlah mereka atas perbuatannya yang salah. Ya, Allah ingatkanlah mereka kepada mu, Ya, Allah tunjukanlah jalan yang lurus kepada mereka”. Jika do’a ini dikabulkan bukan tak mungkin tercipta kedamaian yang kita impikan “di saat tidur”. Bukan tak mungkin mereka yang selama ini dianggap musuh menjadi teman seperjuangan. Walaupun Al-Qur’an mengingatkan untuk tidak percaya kepada orang-orang kafir, yang pada dasarnya mereka tidak senang terhadap kaum Muslim.

Tapi di dunia ini siapa yang dapat memastikan, kehidupan pun dapat secara mendadak berubah 180 derajat, hanya Allah yang memegang rahasia tersebut. Orang-orang kafir tersebut pada dasarnya belum menemukan kepercayaan dan keyakinan yang mutlak, mereka masih mencari kebenaran yang belum selesai, karena kebenaran itu adalah Islam. Keyakinan yang mereka pegang hanya awal, dan menjadi sempurna dengan Islam. Itu semua dapat dilihat dari turunnya agama-agama yang mereka peluk yang lebih dulu turun dibanding Islam. Dan semua itu adalah rangkaian yang tak terputus hingga Islam itu datang, karena agama Islam merupakan agama penyempurna dari seluruh agama atau keyakinan yang ada di seluruh jagat raya ini. Ambil contoh, kaum animisme, karena mereka tidak tahu akan Tuhannya sehingga mereka mencari suatu benda yang dianggap “istimewa” untuk dijadikan simbol sebagai Tuhan, yang akhirnya menjadi sembahan mereka.

Terkadang masih “masuk akal” mendo’akan musuh dengan hal yang buruk, karena tindakan mereka yang merugikan, menindas dan tak adil. Tapi bagaimana jika orang yang kita do’akan seiman dengan kita? Padahal dalam Islam, Ukhuwah Islam sangat dipegang dan dijaga bahkan harus dipertahankan. Apakah salah jika mendo’akan “orang jahat” dengan hal yang baik? Apakah tidak mulia jika mendo’akan “mereka” kepada kebaikan? Kemanakah ajaran kedamaian yang engkau dapat dalam mempelajari Islam wahai ustadz ? Wallahu’alam (ad160103)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: