Amerika = “Preman Pasar”

Amerika sebagai pelopor yang selalu menggembar-gemborkan dan ‘mengiklankan’ kan kehebatan ekonomi pasar, ingin ‘mengajak’ seluruh dunia melakukan ‘permainan’ pasar terbuka. Yang katanya akan banyak menciptakan keuntungan dan keefisienan, entah buat siapa. ‘Permainan’ pasar terbuka ini mungkin lebih di kenal dalam bahasa ‘kerennya’ globalisasi’.

Dengan ‘mahluk’ ini negara-negara yang ikut ‘bermain akan dengan mudah melakukan transaksi-transaksi dan hubungan dagang. Karena dalam ‘permainanan’ ini peraturan-peraturan tentang kebijakan ekonomi suatu direduksi atau dihapuskan, sekali lagi guna mempermudah melakukan transaksi dan hubungan dagang. Dengan kata lain batas-batas negara tereduksi bahkan terhapus. Jadilah negara sebagai perusahaan besar yang melakukan perdagangan.

Diakui atau tidak, dirasakan atau tidak, ‘iklan’ Amerika telah berhasil ‘dimakan’ dan ‘permainan’ mulai dilakukan. Walaupun belum secara penuh, tapi sudah terlihat bagiamana negara-negara telah melakukan ‘pembukaan diri’ terhadap pasar. Dan telah melakukan proses transformasi menjadi perusahaan.

Ditengah-tengah ‘permainan’ yang mulai ‘digemari’, si ‘pencipta’ dan pelopor (seperti nama sebuah partai saja), mulai terasa bingung dan terancam. Perasaan terancam dalam permainan yang dibuatnya sendiri (malu-maluin ih…). Ternyata kemajuan yang pesat bukan terjadi ‘padanya’, ternyata tidak mampu menguasai permainan itu secara mutlak.

Hal-hal tersebut membuatnya melakukan ‘revisi’ terhadap peraturan secara sepihak, karena yang direvisi bukan peraturan umum tapi kebijakan untuk negaranya sendiri. Alih-alih untuk keamanan, mereka melakukan sebuah peraturan yang diberi nama bioterorism (yang kita sudah kenal bersama), dan yang baru adalah perturan, eh lebih pantas diberi istilah hambatan,  untuk kebijakan barang tekstil impor. Katanya untuk ‘memompa’ produktivitas produksi dalam negeri. Hambatannya yaitu dengan cara meningkatkan tarif bea masuk dan mekanisme kuota.

Untuk yang pertama, Cina yang jadi korban, untuk barang tekstil dari Cina yang menjadi sasaran awal, dengan dipatok tarif padanya sekitar 12%. Setelah Indonesia, barang tekstil dari INdonesia yang di’makan’, dan kena tarif sebesar 18% (wah lebih gede!!!).

Seenak perutnya menggonta-ganti dan mengutak-atik pasar, serta menggangu pasar seperti preman pasar. Dengan melihat ulasan di atas, masih perlukah wahai para ‘pemain’ untuk dapat mempercayai ‘preman pasar’ lagi? Mending besok-besok jangan di ajak main lagi, suruh aja main di rumah!!!

Wassalam…….

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: