BAGONG INGIN MASUK SURGA

Pagi hari yang tak berbeda dengan pagi kemarinnya. Masih ada kicau burung, kokok ayam, angin sepoi dan embun di daun. Dalam sebuah taman yang asri dengan sinar matahari yang masih redup tampak lah Bagong yang sedari tadi mengitari taman, namun sepertinya ia tak berniat olah raga pada pagi itu. Tampangnya kuyu, pucat seperti orang lelah dan tidak dapat tidur semalan.

Datang lah Semar yang menuju ke taman itu. Dihampirinya lah Bagong yang sedari tadi ada di taman itu. Terlihat jelas kegelisahan dan kebimbangan di raut Bagong. Tampaknya Bagong tidak sebiasa paginya.

Semar :

Ada apa toh le..?

Bagong :

Pagi Romo, tidak ada apa-apa..tapi, ya tidak ada apa-apa..

Semar :

Tidak ada apa-apa bagaimana..? Aku ini Romo mu le, jelas aku tau kalau kamu sedang kenapa-kenapa..? Jangan lah kau tutupi kegelisahan dan kebimbangan yang tampak di wajah mu itu le..

Bagong :

Mmm, iya Mo..sayang memang lagi gelisah dan bingung Mo..

Semar :

Iya, cerita saja le, aku ini Romo mu..aku akan bantu kamu untuk mengurangi gelisah mu itu le..

Beranjaklah mereka menuju tempat yang lebih nyaman untuk berbincang, di bawah pohon yang rindang di tepi taman. Bongkahan batu di sisi kanan pohon rindang dijadikan tempat duduk bagi mereka.

Semar :

Ayo le, sekarang ceritakanlah  masalah mu..

Bagong :

Hhhhh, begini Mo..beberapa hari ini aku gelisah memikirkan sesuatu. Sampai-sampai semalam tak bisa tidur aku di buatnya..

Semar :

Sesuatu apa yang membuat mu seperti itu le..?

Bagong :

Aku memikirkan..tentang bagaimana caranya bisa masuk surga Mo…

Semar :

Oalah le..kamu kan sudah tahu, apa yang aku ajarkan kepada mu selama ini adalah jalan menuju surga.

Bagong :

Maksud Romo..?

Semar :

Mungkin ajaran yang diberikan bukanlah pelajaran formal yang didapat disekolah-sekolah, seperti yang didapat oleh para bangsawan atau perwira. Hanya bentuk laku, nasehat dan perintahlah ajaran itu aku berikan kepada kalian.

Bagong :

Lalu, apakah yang romo berikan itu bisa menjamin kita untuk masuk surga..?

Semar :

Mungkin kamu kurang memahami apa yang sudah kuberikan selama ini. Mungkin kamu hanya menganggap laku dan nasehat itu hanya hal biasa dari seorang Romo kepada anak-anaknya. Seandainya kau lebih mengerti, kau dapat belajar dari itu semua untuk jalan mu ke surga.

Bagong:

Aku tidak mengerti Mo, bicara Romo malah jadi semakin buat aku bingung.

Semar:

Coba kau ingat-ingat le..selama ini apa kau pernah kuajarkan untuk berbuat baik kepada sesama, kepada alam dan kepada Sang Pencipta. Memberikan kasih kita kepada semua, berbuat jujur dan selalu membantu yang lemah. Selalu saja kularang kau untuk mencuri, berbohong, berbuat tidak adil dan menganiaya yang lemah.

Bagong:

Semua itu adalah perintah Romo kepada kami..

Semar:

Ya, memang aku memberikan perintah laku itu kepada kalian. Jika kalian dapat menjalankannya, sebenarnya kalian sedang berjalan menuju surga.

Bagong:

Ya Mo..tapi semua itu tidak mudah Mo. Tak adakah jalan yang lebih singkat untuk ke surga. Jalan yang Romo berikan kepada kami, berasa berliku, panjang dan sulit Mo.

Semar:

Le, kenikmatan tidak akan ada rasa tanpa harus merasa sengsara. Bahagia tak akan ada rasa tanpa sedih. Surga itu berisi nikmat dan bahagia, tanpa kau rasa sengsara dan sedih, apa kau yakin dapat merasakan surga yang penuh nikmat dan bahagia itu..?

Bagong:

Mo, aku ini lagi bingung..aku butuh sesuatu yang dapat menjelaskan kebingunganku. Tapi Romo, malah semakin membuat ku bingung. Keingingan ku sederhana Mo, masuk surga dengan jalan yang mudah.

Semar hanya bergeleng ketika mendengar ucapan terakhir dari Bagong, dan Bagong pun beranjak dari tempatnya setelah berucap, perlahan meninggalkan Romonya, perlahan meninggalkan taman asri itu, perlahan dia melangkah ke luar. Sapa dan tegur Romo Semar yang menanyakan tujuan langkah Bagong tak digubrisnya.

Berjalan tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas, berkalut bingung. Tak digubrisnya apa yang dilewatinya, pasar ramai pun berasa sunyi. Bagong terus melangkah. Tak terasa dia sampailah pada sebuah bukit. Ketika itu malam sudah menjadi penguasa bumi, gelap, dingin dan sunyi. Ketika itu rembulan tak kebagian jatah untuk berbagi kepada bumi, karena harus mengalah kepada awan mendung. Hanya titik-titik sinar di kejauhan di bawah bukit yang terlihat. Titik sinar yang berasal dari obor penduduk kampung yang tinggal di bawah bukit.

Bertemu Bagong dengan sebuah gua kecil, yang dia rasa bisa dijadikannya untuk tempat bermalam. Duduk lah ia dimulut gua, belumlah napasnya teratur, terkejutlah ia dengan sesuatu. Kaget bukan kepalang, terlompat ia tiba-tiba ketika mendengar sapa dari dalam gua. Padahal selama perjalanananya tak pernah ada sapa dan tegur yang diperhatikannya. Napasnya yang belumlah teratur semakin tak karuan jadinya.

Dengan rasa takut, kejut dan penasaran yang bercampur jadi satu, diperhatikannya lah mulut gua itu. Menanti gerangan si pemilik sapa. Hanya degup jantung saat ini yang terdengar jelas olehnya. Yang dinantipun akhirnya menampakan diri, sosok tua, berambut putih, dengan sorban putih melilit dikepalanya, jubah putih dikenakannya sebagai pakaiannya dan tanpa alas kaki.

Raut senyum tampak pada lelaki tua itu. Takut dan kejut bagong mulai reda namun penasarannya malah semakin menjadi. Siapa gerangan yang berada di gua di atas bukit ini, tak terpikir sebelumnya oleh Bagong kalau-kalau ada orang lain ditempat ini. Setelah beberapa saat tanpa suara setelah sapa yang mengagetkan tadi, Bagong memberanikan diri untuk bersuara, sekaligus untuk mencari tahu sebagai pelepas rasa penasarannya.

Bagong:

Siapa kau..??

Dengan nada agak keras Bagong bertanya. Sapaan yang kurang sopan mungkin terhadap lelaki tua itu, yang mungkin sepantasnya dipanggil dengan panggilan Romo. Lelaki tua itu tak langsung menjawab, senyumnya lah yang diberikan terlebih dahulu baru kemudian ia mulai menanggapi pertanyaan Bagong.

Lelaki tua:

Jangan kau takut nak, tenangkan dirimu, mari sini.

Bagong:

Ya, tapi Romo ini siapa..??

Lagi-lagi lelaki tua itu melemparkan senyum dahulu lalu kemudian menjawab. Memberikan kesan kalau ia seorang yang ramah, namun berwibawa. Bagong sudah tidak  takut lagi ketika mendapati sosok lelaki tua itu yang ramah dan berwibawa ini. Tampaknya ia lebih seperti seorang pandita yang sedang bertapa, untuk menyempurnakan ilmunya. Seperti biasa, tempat pertapaan yang dipilih adalah tempat yang sunyi dan jauh akan hiruk pikuk dunia.

Lelaki tua:

Yang jelas kau tak salah mendatangi tempat ini. Bingung mu, gundah mu dan rasa ingin tahu mu akan ku bantu untuk menyelesaikannya.

Dengan penuh wibawa, selayaknya pandita memberikan nasihat kepada umatnya. Namun itu malah membuat Bagong menjadi bingung, darimana lelaki tua ini tahu akan apa yang dirasanya.

Bagong:

Darimana Romo tahu apa yang aku rasakan..??

Lelaki tua:

Sudahlah nak, jangan kita buang waktu ini dengan pertanyaan darimana mu itu. Baiknya adalah kita selesaikan masalah yang terasa menyiksa mu itu. Mari sini kita duduk agar kita lebih enak untuk berbicara.

Mendekatlah Bagong mengikuti ajakan lelaki tua itu, dan duduk berhadapan ia dengan lelaki tua itu. Kali ini lelaki tua yang lebih dahulu memulai percakapan.

Lelaki tua:

Apa yang kau rasakan, bukanlah kau sendiri yang pernah merasakannya. Banyak orang yang juga memiliki perasaan dan keinginan yang sama dengan mu. Rasa dan keinginan mu itu sebenarnya wajar saja.

Bagong menyahut dengan cepat.

Bagong:

Lalu, mereka juga datang kemari..?? Berapa banyak orang yang datang sebelum aku, Mo..??

Lelaki tua:

Hanya kau saja yang datang kemari.

Bagong:

Lalu, darimana Romo tahu kalau banyak orang yang punya perasaan dan keinginan yang sama dengan ku..?

Lelaki tua:

Apakah aku tahu perasaan mu itu setelah kau cerita pada ku..?? Tapi sudahlah, bukan itu yang akan kita bicarakan. Malam ini kita gunakan saja untuk menyelesaikan bingung mu itu nak.

Bagong:

Baik, Romo..

Lelaki tua:

Asal kau tau, masuk surga adalah keinginan setiap orang yang beragama di bumi ini. Karena hanya orang yang beriman kepada agamanya yang yakin akan adanya surga, yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan, seperti yang dikatakan oleh Romo mu.

Bagong terkejut dengan akhir kalimat lelaki tua itu. Begitu banyak yang lelaki tua itu tahu akan dirinya. Bagong semakin yakin kalau lelaki tua yang dihadapannya bukannya sembarang lelaki biasa, yang tersasar di gua di atas bukit, seperti dirinya. Kehebatan lelaki tua akan pengetahuannya tentang Bagong dan segala yang berhubungan dengan Bagong, ditambah sikap dan penampilannya yang memang layaknya seorang pandita membuat Bagong yakin kalau lelaki tua ini adalah orang yang tepat untuk membantunya menyelesaikan masalahnya.  Lelaki tua itu menangkap kejut yang dialami Bagong.

Lelaki tua:

Jangan lah, kau terkejut kalau aku tahu banyak mengenai dirimu nak. Apa yang dikatakan oleh Romo mu itu benar, surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Romo mu juga benar akan ajarannya kepada mu tentang jalan menuju surga.

Bagong:

Tapi..

Lelaki tua:

Dengar dulu nak, jangan kau sela bicaraku, bukannya Romo mu juga mengajarkan untuk bersikap sopan dan baik pada orang yang lebih tua..?

Bagong

Benar..

Lelaki tua:

Nah, baik kita teruskan. Namun, jalan yang diajarkan Romo mu adalah hanya salah satu jalan dari banyak jalan untuk menuju surga. Dan, jalan yang dipilih Romo mu adalah ibarat jalan umum, memang terasa berat dan penuh liku bagi mu. Sedangkan jalan yang kau inginkan adalah jalan yang singkat.

Bagong:

Benar Romo, kalau memang ada jalan lain seperti yang Romo katakan, adakah jalan lain itu singkat..??

Lelaki tua:

Bisa dibilang begitu nak, mungkin tepat juga kalau dikatakan jalan pintas menuju surga.

Bagong:

Jalan apakah itu Romo..?? Lekas katakan, adakah aku bisa melewatinya..??

Lelaki tua:

Tentu nak, siapa pun bisa melewatinya. Karena jalan-jalan itu merupakan pilihan, mana yang akan kita pilih untuk dilaluinya. Walaupun setiap jalan memiliki syarat dan pengorbanan sendiri-sendiri.

Bagong:

Jalan apa itu Romo..??

Lelaki tua:

Nak, sebelumnya aku akan bertanya dahulu kepada mu. Apakah kau banyak melihat banyak kejahatan di kota mu ? Apakah kau banyak melihat orang-orang berbuat menyimpang dari ajaran kebaikan, seperti mencuri, menipu dan perbuatan asusila lainnya ?

Bagong:

Banyak Romo, bahkan hal itu sudah menjadi laku keseharian. Perkara kecil banyak yang berakhir dengan saling membunuh, orang berdagang di pasar dengan cara menipu, bahkan orang bersenggama tanpa jelas hubungannya dan masih banyak lainya Romo.

Lelaki tua:

Tepatlah sudah waktunya, jika kau akan memilih jalan ini.

Bagong:

Tepat waktunya, bagaimana Romo..?

Lelaki tua:

Iya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk kau pilih jalan pintas menuju surga. Tatkala kau sudah rasakan dan lihat begitu banyak kejahatan, penyimpangan dan keburukan yang terjadi, itu adalah waktu yang paling tepat untuk mengambil jalan ini.

Bagong:

Katakan lah Romo, bagaimana aku harus melalui jalan itu..??

Lelaki tua:

Yang pertama harus kau lakukan adalah meyakini kalau jalan ini adalah jalan yang benar. Kau juga harus siap meninggalkan seluruh yang kau rasa milik mu di dunia ini termasuk Romo dan saudara-saudara mu sampai dengan nyawa mu sendiri. Dan kau juga harus bersikap tega mengorbankan orang lain.

Bagong:

Kalau memang benar, tentu aku yakin. Kalau memang harus kutinggalkan apa yang kumiliki termasuk Romo dan saudara-saudara ku pun aku siap, karena di surga tentu aku akan dapat gantinya dan aku yakin akan bertemu mereka kelak. Tapi untuk apa aku harus mengorbankan nyawa dan tega mengorbankan orang lain, bukannya aku berjalan sendiri, apa hubungannya dengan orang lain..??

Lelaki tua:

Semua itu syarat anak ku, jalan yang kau tempuh memerlukan syarat-syarat dan pengorbanan tertentu untuk kau lalui. Bahkan jalan yang diajarkan oleh Romo mu Semar juga perlu syarat-syarat dan pengorbanan yang dipenuhi, seperti yakin, sabar, tekun dan lainnya.

Bagong:

Ya, tapi jalan Romo tak pernah sampai harus mengorbankan nyawa dan tega mengorbankan orang lain, malah dia memerintahkan untuk memperhatikan dan membantu orang lain.

Lelaki tua:

Tadi sudah ku bilang, jalannya berbeda, dan setiap jalan punya syarat dan bentuk pengorbanan masing-masing. Sekali lagi ku tanyakan, siapkah kau dengan syarat tadi ?

Bagong:

Syarat itu terasa berat Romo, memang aku harus melakukan apa..??

Lelaki tua:

Mudah saja yang mesti kau lakukan. Kau hanya perlu pergi ke satu tempat dimana tempat itu menjadi pusat dilakukannya segala laku jahat dan menyimpang. Dan kemudian bunuhlah mereka semua.

Bagong:

Apa..!!! tidak, tidak mungkin. Itu jelas menyalahi ajaran dari Romo Semar. Membunuh sendiri adalah perbuatan jahat, Romo pun tadi juga mengakuinya. Kenapa untuk ke surga harus membunuh orang lain, kenapa harus menggunakan jalan kejahatan menuju surga.

Bagong terkejut mendengar syarat yang diperintahkan lelaki tua itu. Jelas-jelas syarat itu menyalahi ajaran yang diterimanya dari Romo Semar, juga ajaran kebaikan yang ada di muka bumi. Membunuh adalah perbuatan kejahatan. Mengakhiri hak hidup manusia sudah barang tentu jadi hak Sang Pencipta. Tak hanya terkejut, tapi Bagong pun mulai meragu. Benar kah jalan yang disarankan oleh lelaki tua ini kepadanya.

Namun, lelaki tua yang terlihat penuh wibawa dan tinggi ilmunya ini tak berhenti begitu saja, ketika Bagong menolak salah satu syarat jalan itu. Dengan penuh ketenangan dan keyakinan lelaki tua itu tetap berusaha menjelaskan dan malah terkesan membujuk Bagong untuk memilih jalan itu.

Lelaki tua:

Dengar dulu nak..kau belum mengerti apa yang ku maksudkan. Kau juga jangan hanya melihat dunia ini secara hitam dan putih saja. Membunuh itu jahat titik. Coba kau lihat, ketika negara mu diserang, dan terjadi perang apakah kau juga tidak boleh membunuh ?

Bahkan kita diwajibkan mempertahankan Negara kita dari para penyerang yang ingin merampas kedaulatan Negara. Kita dipaksa oleh keadaan untuk membunuh, karena hanya ada dua pilihan dalam perang, mereka yang dibunuh atau kita akan terbunuh. Siapa yang dianggap sebagai pahlawan ketika perang itu usai ? Tentunya adalah mereka yang berhasil banyak membunuh para penyerang bukan.

Bagong:

Tapi itukan jaman perang, berbeda keadaanya dengan saat ini. Siapa yang sedang menyerang Negara ku, lagi pula yang akan ku bunuh adalah saudara-saudara ku sendiri.

Lelaki tua:

Nak, jangan kau kira saat ini bukan dalam keadaan perang. Apa kau masih anggap saudara-saudara mu itu jika mereka terus berbuat kejahatan dan menyimpang ?

Nak, yang sedang diserang saat ini adalah bukan Negara mu, tapi Sang Pencipta mu. Mereka yang kau anggap sebagai saudara-saudara mu menyerang dengan melanggar dan mengabaikan ajaran Sang Pencipta, perbuatan mereka mencerminkan kalau mereka tidak percaya lagi dengan Sang Pencipta mu. Apa kau akan diam saja akan hal itu, sedangkan terhadap negara saja kau wajib membelanya, bagaimana dengan Sang Pencipta apa kau cukup diam saja. Tentu pengorbanan yang kau lakukan akan mendapatkan balasan surga, karena yang kau perjuangkan adalah membelaNya.

Bagong:

Tapi, tapi..Sang Pencipta adalah Maha Segala, apa Ia masih harus perlu dibantu dengan hambanya yang lemah.

Lelaki tua:

Kalau memang Ia Maha Segalanya, kenapa Ia biarkan kejahatan dan penyimpangan terus merajalela. Kenapa Ia menurunkan utusan-utusanNya untuk menegakkan ajaranNya. Kenapa juga diperlukan pandita untuk membantu kita tetap dalam ajaranNya.

Berapa banyak utusanNya yang telah turun, berapa  banyak pandita yang telah berusaha membimbing,tapi toh tetap subur kejahatan dan penyimpangan yang terjadi. Mereka bukanlah harus dituntun dan dibimbing, tapi haruslah dibinasakan dari muka bumi ini. Tanpa mereka tentu tak akan ada lagi kejahatan dan penyimpangan yang terjadi.

Begitu meyakinkan lelaki tua itu menjelaskan kepada Bagong, sampai-sampai Bagong pun akhirnya sependapat kalau para pelaku kejahatan dan penyimpangan tak layak mendapatkan tempat di muka bumi ini. Mereka sudah berani melawan dan melecehkan Sang Pencipta dengan tindakan-tindakannya. Bukan hanya itu tapi juga menyengsarakan rakyat yang lain. Bagong pun semakin tertarik dan yakin akan jalan yang ditunjukan oleh lelaki tua itu.

Bagong:

Lalu, dengan cara apa aku membunuh para penjahat itu. Mereka berjumlah sangat banyak. Tak ada kesaktian dan kemampuan ku miliki untuk melawan mereka Romo. Dan apakah tak ada cara lain tanpa mengorbankan nyawa ku Romo.

Lelaki tua:

Jika kau yakin, itu semua  akan mudah terlaksana anak ku. Nyawa mu menjadi bagian dari pengorbanan dalam perjuangan mu, dan yang kau perjuangkan adalah jelas adanya, pun balasan yang kau terima nantinya. Nyawa mu akan suci dan surga telah menanti anak ku. Malam belum habis, kau punya waktu untuk berpikir apakah kau akan menempuh jalan pintas ini atau kau kembali ke Romo Semar mu dan hidup dengan penuh kesengsaaraan lagi.

Bagong hanya terdiam bingung, di mulut gua,  nyawanya, nyawa saudara-saudara sebangsanya, Romo dan saudara-saudaranya terlintas. Mereka semua harus dikorbankan dan ditinggalkannya untuk keinginannya menuju surga. Sedang lelaki tua itu sudah masuk ke dalam gua untuk kembali bertapa. Segala perlengkapan telah disiapkan oleh lelaki tua itu, seakan dia begitu yakin akan pilihan Bagong akan jalan pintas yang ia tunjukan pada Bagong.

Dalam malam di taman tempat terakhir kalinya Romo Semar bertemu dengan Bagong, berdiamlah Romo Semar, kali ini ia lah yang tampak kuyu, pucat seperti orang lelah yang tak dapat kesempatan untuk rehat. Galau, gelisah dan bingung lah yang dialami sang Romo. Memikirkan anaknya yang pergi begitu saja tanpa jelas tujuan. Tak pernah Bagong pergi sendiri seperti itu, tak pernah Bagong terlihat bingung seperti kemarin lalu. Riang adalah sifat bawaan Bagong sedari kecil.

Menghampirilah anak-anak Romo Semar kecuali Bagong. Mereka juga terlihat lelah, karena mendapatkan tugas oleh sang Romo untuk mencari adiknya. Namun dalam pencariannya, mereka tak mampu menemukan apapun, bahkan tanda dan jejak sang adik.

Saat Gareng, sebagai anak tertua ingin angkat bicara terdengar lah gelegar dahsyat bunyi sebuah ledakan. Suasana hening sebelumnya sontak berubah ramai dan menjadi sengkarut orang berlarian takut. Api terlihat menjulang ke langit, membakar tempat bunyi ledakan. Tak hanya teriak, tangis, tapi juga rintih sakit, yang menguasai malam itu.

Tersiar kabar ada bom bunuh diri, di sebuah tempat yang terkenal dengan pusat kejahatan dan penyimpangan yang terjadi di kota ini. Tersiar kabar banyak korban yang berjatuhan baik pelaku kejahatan dan juga orang baik-baik. Tersiar kabar lelaki berciri-ciri seperti Bagong lah yang melakukan bom bunuh diri itu. Tersiar kabar Bagong sempat terlihat mendaki bukit yang sepengetahuan Romo Semar adalah tempat persembunyian Rahwana selama ini.

Romo, tertunduk dan menangis. Bukan hanya kehilangan Bagong lah yang menjadi sedih dan penyebab tangisnya, tapi juga karena kegagalannya dalam membimbing dan mendidik Bagong. Hanya do’a dan asa kepada Sang Pencipta yang di panjatkan Romo Semar agar Sang Pencipta mengampuni laku anak bungsunya itu. (ad271209)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: