‘BATU NISAN’ UNTUK DEMOKRASI

Perjalanan ‘hidup’ demokrasi rasanya sedang mengalami kemerosotan. Demokrasi yang banyak diperjuangkan diberbagai belahan dunia, baik dalam sebuah negara atau dalam wilayah publik yang lain, nampaknya kini sedang dirundung duka.

Demokrasi yang memiliki arti gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakukan yang sama bagi semua warga negara. Demokrasi memiliki ‘musuh’, yaitu diskriminasi yang membeda-bedakan perlakuan berdasarkan warna kulit, ras, agama dan sebagainya. ‘Musuh’ yang lain adalah otoriter yaitu kesewenang-wenangan. Demokrasi juga memiliki arti yang lain yaitu permerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Hal ini menggambarkan begitu ‘kuatnya’ kekuatan rakyat dalam sebuah pemerintahan. ‘Musuh’ dari pemerintahan demokrasi atau rakyat ini adalah pemerintahan tirani, pemerintah yang sewenang-wenang.

‘Kedukaan’ demokrasi ini disebabkan oleh ulah dari sebuah negara yang disebut-sebut sebagai ‘jagoan’ demokrasi. Permasalahannya adalah dimana dunia selama ini hanya melihat sebuah negara yang selalu dijadikan ‘model’ dalam proses modernisasi. Dalam segala aspek negara ini selalu dijadikan ‘model’ bagi yang lain. Ternyata berjalannya waktu memperlihatkan bahwa negara ini ternyata memperlakukan standar ganda dalam kebijakan luar negerinya. Negara ini memiliki nama Amerika.

Demokrasi yang dikenalkan oleh dunia barat sebagai wujud dari modernisasi, dan harus diterapkan ke seluruh negara di dunia untuk menciptakan sebuah dunia yang beradab. Perjuangan terhadap demokrasi ini, juga dilakukan di negeri Indonesia, untuk meruntuhkan kekuasaan otoriter masa orde baru. Walaupun sudah memperlihatkan hasil perjuangan tersebut, namun demokrasi yang diharapkan belum muncul sampai saat ini.

Sebagai manusia yang pada hakikatnya memiliki derajat yang sama, paham demokrasi ini sangat ‘membantu’ dalam perwujudan hakikat manusia tersebut. Tindakan kesewenang-wenangan harus dilawan. Kerana tindakan ini biasanya hanya menguntungkan kelompok kecil tertentu dan mengorbankan kelompok yang lebih besar. Kelompok yang lebih kecil ini biasanya memiliki kewenangan dan kekuasaan. Dan lebih sering dilakukan oleh pemerintah dalam sebuah negara, yang bertujuan untuk ‘menikmati’ kekuasaan yang dimiliki dan melanggengkan kekuasaannya.  Pemerintahan otoriter ini juga disebut dengan pemerintahan tiran.

Dengan demokrasi tidak hanya kelompok yang besar saja yang dijadikan ‘perhatian’ tapi kelompok kecil atau minoritas juga termasuk di dalamnya. Karena dalam domokrasi tidak ada perbedaan perlakuan bagi setiap warga negara. Dalam demokrasi, untuk membuat kebijakan yang menyangkut kehidupan orang banyak wajib memperhatikan banyak aspek dan dampak yang dihasilkan dan tidak hanya menguntungkan bagi sekelompok orang saja. Keseimbangan yang menjadi tujuannya.

Namun kini demokrasi telah ‘dirusak’ oleh Amerika. Hal ini terbukti dalam tindakannya terhadap Irak. Penolakan yang terjadi terhadap tindakannya banyak terjadi di muka bumi ini, mulai dari otritas paling kecil sampai ‘pemilik’ otoritas muka bumi ini yaitu PBB, bahkan sebagian besar rakyat Amerika sendiri. Mulai dari tindakan invasi sampai kepada penanganan pasca invasi. Dimana Amerika berlaku sangat sewenang-wenang, dan tidak mengindahkan nilai-nilai demokrasi yang ‘dikampanyekannya’ keseluruh dunia. Sebuah fenomena ironis, dan cocok dengan ungkapan ‘menjilat ludahnya sendiri’. Seolah-olah Amerikalah ‘pemilik’ dunia ini. Sungguh sebuah kemunduran dalam perjuangan demokrasi yang telah banyak memakan korban dalam perjuangan penegakan demokrasi.

Menjadi ancaman bagi kehidupan demokrasi, disebabkan karena Amerika yang selama ini menjadi ‘model’ negara yang modern bagi negara lain melakukan ‘perbuatan’ bar-bar. Tentunya perbuatan ini dikhawatirkan diikuti oleh negara-negara yang lain. Dan menjadi pelegalan terhadap perbuatan kesewenang-wenangan oleh negara lain, dan akan menghidupkan kembali negara-negara tiran. Sehingga cita-cita mewujudkan masyarakat yang beradab yang memperhatikan persamaan hak dan kewajiban, akan sulit tercapai. Dunia jadinya akan menganut sistem bar-bar yaitu siapa kuat dia menang.

Berkurangnya negara tiran, yang termasuk Indonesia di dalamnya (masa orde baru) adalah perjuangan dari demokrasi dan merupakan perwujudan bagi sebuah masyarkat yang beradab. Sebuah masyarakat yang memiliki persamaan hak dan kewajiban dan partisipatif. Perbuatan yang dilakukan oleh Amerika wajib dikutuk (kalau perlu jadi batu seperti malin kundang), karena mematikan kehidupan demokrasi. Negara yang katanya menjadi ‘juaranya’ demokrasi telah meninggalkan nilai-nilai yang selama ini oleh ‘ia’ sendiri diagung-agungkan. Apakah demokrasi telah ‘kadaluarsa’ ? Ataukah ini pertanda kematian kehidupan demokrasi ?  (ad/110503)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: