Bohong…Iklan Tukang Bohong……??

Baca Koran, lho kok isinya iklan semua. Pas lagi nonton tivi, dikit-dikit iklan, dikit-dikit iklan. Lagi dengerin radio, mana lagunya..? iklan semua. Gambaran tersebut mungkin terlalu berlebihan dalam menggambarkan bagaimana ramainya iklan. Iklan saat ini sudah seperti ngerubungin kehidupan kita. Hampir sebagian besar ruang publik, seperti media massa dan jalan raya dipenuhi dengan iklan-iklan. Bukan hanya “menyelimuti” kehidupan kita, tapi iklan juga telah banyak berpengaruh ke dalam kehidupan. Budaya konsumtif adalah salah satu hasil yang dilahirkan oleh maraknya iklan.

Jika diibaratkan iklan adalah sebuah virus. Dimana virus akan mengganas tatkala ia numpang kepada zat organik lain yang dapat mendukungnya. Contohnya, adalah virus dengue yang mengganas jika dia nemplok pada nyamuk adies agiepty. Tanpa ada tumpangan, virus  dengue bak macan ompong. Begitu juga akan halnya iklan, akan semakin menggila jika ia didukung oleh “mahluk” yang dapat memberi tumpangan yaitu media massa atau ruang publik.

Apa sih definisi atau arti iklan itu…? Yang pasti iklan adalah bagian dari promosi. Jika kita menilik berdasarkan UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menyebutkan bahwa promosi adalah kegiatan pengenalan/penyebarluasan informasi suatu barang dan/atau jasa untuk menarik minat beli konsumen terhadap barang dan/atau jasa yang akan dan sedang diperdagangkan. Sedangkan iklan adalah merupakan salah satu bentuk promosi yang dipublikasikan melalui media cetak, elektronik dan media luar ruang untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat dengan tujuan memperkenalkan/memperbesar volume penjualan barang milik pemasang iklan.

Mungkin secara sederhana iklan dapat diartikan sebagai sarana komunikasi antar produsen dengan konsumen, dimana produsen menjelaskan hasil produksinya, manfaatnya, tujuan, cara pakainya, cara mendapatkannya dan sebagainya, yang memiliki tujuan menarik minat beli dari konsumen. Mau lebih sederhana lagi..? Iklan adalah Media atau cara bagi produsen untuk memperkenalkan dan menarik minat beli konsumen.

Iklan menjadi sangat penting keberadaannya bagi kegiatan bisnis atau perdagangan. Tanpa iklan sulit bagi produsen dalam memasarkan barang atau jasa yang dihasilkannya kepada konsumen atau pembeli. Muncul ide-ide kreatif  dalam membuat iklan agar iklan yang ditayangkan dapat menarik perhatian. Bahkan iklan juga dapat melakukan “cuci otak”, dengan menayangkannya berkali-kali atau dalam tingkat frekuensi yang tinggi, dengan demikian menjadikan konsumen menganggap bahwa produk tersebutlah yang terbaik, terhebat dan cocok untuknya.

Beberapa hal yang dibatasi dalam beriklan berdasarkan UU No.8  Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen antara lain, iklan todak boleh seolah-olah telah memiliki potongan harga, secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan atau jasa lain, mengandung janji yang belum pasti dan masih ada beberapa lagi lainnya. Selain ada batasan yang tertuang dalam bentuk perundang-undangan, dunia periklanan juga memiliki kode etik, yang berfungsi sebagai alat kontrol ke dalam bagi dunia periklanan.

Kode etik iklan tersebut antara lain harus jujur, bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Yang dimaksud dengan jujur adalah iklan tidak boleh menyesatkan, diantaranya, dengan memberikan keterangan yang tidak benar, mengelabui dan memberikan janji yang berlebihan. Bertanggung jawab artinya iklan tidak boleh menyalahgunakan kepercayaan masyarakat dan merugikan masyarakat.

Penulis menilai bahwa iklan yang “bertebaran” saat ini jelas-jelas banyak yang melanggar baik itu dari UU Perlindungan Konsumen ataupun kode etik Periklanan Indonesia. Sebagai contoh, iklan obat nyamuk yang terkesan sangat “manjur” dalam membunuh nyamuk. Walau tidak semua iklan melanggar, masih ada beberapa iklan yang “lurus”. Dan para pembaca juga bisa menilai iklan-iklan tersebut sendiri, penilaian terhadap sesuatu adalah hak dari setiap individu. Banyak juga iklan-iklan yang kreatif dan lucu-lucu sehingga tak cuma sekedar memberikan informasi saja tapi juga menghibur.

 

Beriklan bagaimanapun juga sangat dibutuhkan bagi mereka yang berbisnis dalam memasarkan sesuatu-barangdan atau jasa. Bukan untuk melarang adanya iklan, tapi sebatas mengingatkan, bahwa konsumen juga punya hak, dan cobalah untuk lebih diperhatikan. Dimana salah satu haknya adalah berhak untuk tidak dikibili. Patuhilah rambu-rambu perundang-undangan yang ada, dan taatilah kode etik yang telah “kalian” buat sendiri. Sehingga diharapkan kedepan hak konsumen untuk mendapatkan informasi yang benar tentang suatu “produk” dapat terjamin. Jika sebuah informasi telah dipublikasikan ternyata menyesatkan maka dapat dianggap sebagai kebohongan publik. Lalu bagaimana dengan iklan Capres…..??? Wassalam. (ad230604)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: