CIPTAKAN PERDAMAIAN DENGAN HAPUS TENTARA ?

Tentara adalah suatu kesatuan alat negara yang terdiri dari orang-orang terlatih untuk berperang. Tentara juga disebut dengan laskar atau prajurit. Mereka memiliki perangkat senjata yang dapat membunuh yang digunakan dalam berperang. Dalam setiap negara tentara adalah sebuah kekuatan vital yang ‘wajib’ dimiliki oleh setiap negara, yang berguna bagi pertahanan negara tersebut dari serangan negara lain. Hal ini juga sering disebut-sebut dengan militer. Kekuatan sebuah negara juga tergantung oleh kekuatan militernya.

Militer ini terbagi menjadi dua, atau memiliki dua fungsi, pertama ia berfungsi sebagai alat pertahanan negara dari serangan ‘musuh’. Yang berguna untuk mempertahankan kedaulatan sebuah negara. Dan yang kedua, adalah sebagai alat keamanan dalam negeri, yang biasa disebut dengan polisi.

Begitu vital dan pentingnya kekuatan militer ini, menjadi alasan bagi ‘berlomba-lombanya’ setiap negara dalam meningkatkan kekuatan dan kapasitas militernya tersebut. Selain dari sisi kekuatan dan jumlah personilnya juga dari perangkatnya, yaitu persenjataan. Alasan yang ‘masuk akal’ dari kegiatan peningkatan-memperkuat militer baik dari sisi personil maupun persenjataan- semua ini adalah untuk mempertahankan kedaulatan negara. Pertahanan kedaulatan negara, yang dilakukan dengan cara berperang melawan ‘musuh’.

Begitu strategis dan vitalnya kekuatan militer jika melihat gambaran di atas. Sehingga penguasa setiap negara pun ‘wajib’ rukun dengan kekuatan militer di negaranya, untuk mengamankan posisinya. Dan tidak sedikit negara-negara yang puncak atau pemerintahannya di kendalikan oleh kekuatan yang satu ini. Seperti yang ada di Vietnam dan Libya.

Kestrategisan kekuatan ini, membuat kekuatan militer ikut terjun ke dalam dunia politik. Seperti halnya yang terjadi di Indonesia pada masa lalu. Jika melihat sepak terjang politik di Indonesia, keikutsertaan militer dalam politik, biasanya ‘diajak’ oleh pemegang kekuasaan. Mereka ‘malu-malu’ untuk secara frontal merebut tampuk kekuasaan. Berbeda dengan yang terjadi di luar negeri, militer melakukan kudeta-secara terang-terangan dan frontal- untuk mencapai puncak kekuasaan tertinggi.

Alat kekuasaan yang memiliki kekuatan yang besar dan mungkin sangat menentukan ini, banyak disalah gunakan oleh penguasa negara dalam memperkuat posisinya. Banyak terjadi ‘penyelewengan’ fungsi militer, dari fungsi yang sebenarnya sebagai alat pertahanan negara menjadi alat kekuasaan negara atau lebih tepat ‘beking’ kekuasaan negara. Atau lebih ‘parah’ lagi, dengan ‘merebut’ tampuk pimpinan negara. Hal ini mungkin terjadi disebabkan karena militer ‘tidak memiliki pekerjaan’ untuk mempertahankan negara, khususnya pasca Perang Dunia II, dimana ancaman invasi hampir tidak pernah terjadi.

Perang adalah ‘perusak’ cita-cita perdamaian dunia. Salah satu komponen dalam perang adalah militer dengan kekuatan bersenjatanya. Perdamaian adalah sebuah cita-cita-kadang terdengar seperti utopia saja- seperti kebebasan dan demokrasi yang sulit dicapai dan butuh banyak pengorbanan. Perdamaian, kebebasan dan demokrasi adalah cita-cita universal bagi dunia, sampai saat ini sulit merumuskan ‘titik akhirnya’, batasan-batasan yang diinginkan dari ketiga hal tersebut sulit didefinisikan. Walaupun sulit bukan berarti tidak perlu diciptakan atau dicapai. Karena perdamaian adalah bentuk kehidupan yang-semua orang mengakui- lebih baik.

Sebagai jalan perwujudan dari perdamaian, yang terdengar ‘konyol’ adalah dengan menghapus militer! Dalam hal ini tentara dan perangkat persenjataan yang dapat memusnahkan manusia secara massal. Seperti diungkapkan sebelumnya, perang-militer/tentara sebagai komponennya-merupakan perusak kedamaian. Perang atau invasi akan sulit dilakukan tanpa kekuatan bersenjata ini. Tanpa militer perang fisik atau invasi sewenang-wenang akan mustahil terjadi.

Hal ini tidak serta merta menyelesaikan permasalahan perdamaian. Tapi paling tidak perang dan invasi tidak akan terjadi tanpa kekuatan militer. Penghapuasan ini diberlakukan bagi seluruh negara di dunia. Dengan kata lain dunia tanpa militer. Setiap negara hanya diizinkan memiliki kekuatan untuk keamanan dalam negeri dalam hal ini polisi. Polisi dalam bentuk yang lebih komplit. Kekurangan personil dapat diambil dari tentara yang telah dihapuskan. Dan bagi sebagian yang lain, diciptakan lapangan pekerjaan yang ‘lebih manusiawi’, agar mereka tidak menjadi preman. Sekali lagi polisi hanya mengurusi keamanan dalam negeri saja, dan tak ada kekuatan militer yang dapat mencampuri urusan negeri orang. Satu langkah maju, mungkin telah terlaksana dengan tidak adanya militer/tentara dan perangkat persenjataan pemusnah massalnya, dalam perwujudan perdamaian. Semua ini dapat terwujud dengan adanya konsistensi dari seluruh negara di dunia. Nah, relakah Amerika melakukan hal ini ? Negara inilah yang samapi saat ini menjadi ‘patokan’ negara lain dalam bertindak. (ad/210503)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: