DAMPAK PERANG TERHADAP EKONOMI

Banyak aspek terkena dampak dari Perang Irak. Dari aspek kemanusiaan jelas dampaknya sangat-sangat merugikan, tak ada lagi nilai kemanusiaan yang tersisa dalam sebuah perang. Dampak politik, khususnya politik luar negeri, yaitu berubahnya peta politik dunia. Bagaimana dengan dampak ekonomi, dimana yang satu ini ‘berurusan dengan perut’.

Jika kita melihat perekonomian kedua negara yang berperang, Iraq dan Amerika, jelas sangat terasa. Bagi Iraq, setelah perekonomian mereka ‘berantakan’ akibat embargo ekonomi yang terjadi selama kurun waktu 12 tahun akan semakin tak tergambarkan dengan terjadinya perang ini. BagiAS, menurut Stephen Roach ekonom AS, perekonomian negaranya akan mengalami perlambatan dengan perkiraan pertumbuhan hanya dua persen. Menurut dia, sekitar 40% ekonomi Amerika akan terancam resesi akibat invasi yang terjadi. Hal ini akan terjadi pada pertengahan tahun ini jika serangan AS ke Iraq berkelanjutan. Defisit anggaran akan semakin ‘membengkak’ akibat adanya pemotongan pajak. Nilai tukar dolar semakin melemah terhadap Euro.

Berbeda dengan pernyataan Faisal Basri,”sementara itu, beberapa industri justru terbantu dengan adanya perang. Stok di gudang-gudang senjata yang selama ini menumpuk segera susut, dan tentunya posisi itu akan digantikan oleh produksi senjata baru yang lebih canggih. Biaya perang, ditanggung renteng di antara para anggota sekutu, terutama negara-negara Timur Tengah yang selama ini memandang Presiden Irak Saddam Hussein sebagai ancaman langsung bagi mereka”.

Menurut dia, bagi kebanyakan negara di seluruh kawasan dunia, perang dipandang sebagai bencana. Tak hanya karena perang mengancam peradaban umat manusia, melainkan juga karena membuat kehidupan bertambah sulit. Ketegangan akibat rencana penyerbuan saja sudah membuat perkiraan pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa terpangkas dari 2,8 persen menjadi hanya 1 persen. Jepang yang optimistis pertumbuhannya tahun ini bisa menembus di atas 1 persen, terpaksa harus menerima kenyataan, cuma tumbuh sekitar 0,4 persen.

Sungguh ironis. Negara pemicu perang justru berpotensi memperoleh keuntungan. Sebaliknya, negara-negara lain dibuat susah olehnya. Yang paling terkena dampak perang ialah negara-negara yang memiliki tingkat keterbukaan relatif tinggi, khususnya bergantung pada perdagangan luar negeri. Semakin tinggi proporsi ekspor dan impor barang dan jasa suatu negara terhadap produk domestik brutonya, semakin besar pula dampak perang terhadap pertumbuhan ekonomi. Perekonomian Indonesia tergolong memiliki tingkat keterbukaan yang relatif sangat tinggi.

Bagaimana perang ini memberi dampak bagi perekonomia negara Indonesia. Berdasarkan analisis Drajad Wibowo ekonom Indef, ada dua kategori dampak yang terjadi. Pertama, dampak langsung yang terkait dengan terganggunya ekspor ke Timur Tengah dan berkurangnya penerimaan devisa TKI di Timur Tengah. Kedua, dampak tidak langsung terkait dengan prospek perdagangan global, kemungkinan meningkatkan suku bunga dan tingginya harga minyak. Semakin lama perang ini terjadi akan semakin berdampak terhadap ekonomi Indonesia, turunnya volume ekspor dan turunya devisa TKI akan mengakibatkan turunya laju pertumbuhan ekonomi. Target pemerintah pada angka 4 persen akan sulit untuk ‘dapat dikejar’.

Untuk itu diperlukan segera langkah-langkah yang dikiranya dapat membendung dampak yang terjadi bagi perekonomian Indonesia. Menurut peneliti CSIS Ari A Perdana, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi dampak ini. Pertama, adanya pengalokasian windfall profit (keuntungan kenaikan harga minyak) untuk subsidi dan digunakan sebagai dana cadangan, dimana dalam APBN pemerintah mematok harga minyak pada harga US$ 22 per barel sedangkan harga minyak sekarang berkisar pada tingkat US$ 30 an per barel. Kedua, penguatan pasar domestik, sebagai pengganti terhadap pasar barang-barang ekspor. Ditambahkan oleh Faisal Basri, selain memperkuat pasar domestik juga mengamankannya dari rongrongan barang impor. Dimana barang impor yang ilegal tidak dapat di toleransi. Menghapuskan segala rintangan yang menghambat produksi dan pendistribusiannya di dalam negeri. Sudah saatnya pemerintah lebih banyak memusatkan diri pada persoalan ini ketimbang merancang beragam insentif bagi peningkatan ekspor. Paling tidak, pemerintah menawarkan kebijakan-kebijakan yang menjamin netralitas insentif antara yang berorientasi ekspor dan pasar dalam negeri.

Langkah yang terpenting untuk menahan dan menghentikan dampak yang terjadi adalah menghentikan perang!!! Sehingga tak ada lagi korban-korban yang bertambah, baik itu nyawa manusia atau ekonomi Indonesia, bahkan dunia. Perang selalu mengakibatkan kesengsaraan, hanya kepuasan semua yang cuma dapat dinikmati oleh ‘iblis’ saja. (ad040403)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: