FORMALISASI IMAM SHALAT

Kata Formal dapat diartikan resmi. Atau sesuai dengan peraturan yang sah atau sesuai norma yang berlaku umum. Sesuatu hal yang dianggap sesuai dengan peraturan yang sah atau resmi maka disebut formal. Seperti halnya dalam berpakaian. Ada pakaian formal yang biasa digunakan untuk menghadiri pesta atau acara. Dan pakaian non-formal yang hanya digunakan sehari-hari di rumah.

 

Formalisasi dapat diartikan sebagai tindakan melakukan pemformalan terhadap sesuatu. Sama halnya yang berlaku pada kata Islamisasi dan kristenisasi. Yaitu melakukan pengIslaman atau pengkristenan. Formalisasi ini juga dapat diartikan ke dalam suatu bentuk pelembagaan.

 

Dan yang terjadi disini (Masjid At-Taqwa), adalah hal yang baru berdasarkan tradisi yang berlaku disini, yaitu penetapan Imam tetap untuk Shalat berjama’ah. Walau hal ini telah berlaku dalam Islam sejak jaman dahulu. Penetapan Imam Shalat dapat dikategorikan sebagai bentuk formalisasi, yaitu formalisasi Imam Shalat.

 

Berdasarkan tradisi yang berlaku di Masjid At-Taqwa, yang menjadi Imam Shalat tidaklah tetap atau bergantian. Dengan kata lain, bahwa yang menjadi Imam lebih kepada bentuk spontanitas sesuai keadaan waktu itu.

 

Dengan kata lain, Imam Shalat tidak ditetapkan atau ditentukan sebelumnya, tapi ditentukan beberapa saat sebelum Shalat. Bahkan ditentukan setelah iqomat. Namun kali ini Imam Shalat telah ditetapkan terlabih dahulu untuk menjadi Imam tetap dalam setiap Shalat berjama’ah.

 

Secara garis besar syarat untuk menjadi Imam Shalat adalah yang paling baik dalam pemahamannya terhadap Al-qur’an, yang fasih bacaannnya dan yang lebih tua. Syarat yang terakhir bukanlah hal yang mutlak, tapi kedua syarat pertama yang dapat dikatakan mutlak.

 

Di Timur Tengah, hampir setiap Masjid selalu ada yang namanya Imam tetap. Kondisi yang terjadi disana, dimana setiap Masjid mendapatkan dana subsidi dari pemerintah. Subsidi tersebut digunakan untuk mengelola atau mengoperasionalkan Masjid, termasuk didalamnya Imam, Muazin dan Marbot (penjaga Masjid) juga mendapatkan “upah”. Maka dapat dikatakan pekerjaan sebagai Imam, Muazin dan Marbot dapat dikategorikan sebagai profesi. Dan sebenarnya talah berlaku juga di banyak Masjid di Indonesia. Namun pada umumnya Imam tetap ini disenyawakan atau berfungsi juga sebagai pengelola tempat ibadah (Masjid).

 

Yang menjadi pertanyaan, khususnya bagi orang awam dan “belum mengerti” tradisi Islam tersebut adalah bagaimana mekanisme dalam pengangkatan dan penetapan bagi Imam tetap tersebut? Bagaiman “nasib” bagi mereka yang memiliki potensi menjadi Imam, tidak ditetapkan sebagai Imam tetap atau tidak memiliki “peluang” menjadi Imam? Mungkin, untuk menjadi Imam diperlukan “training” untuk dapat terbiasa, tidak langsung tiba-tiba. Ada baiknya jika keberadaan dan fungsi Imam tetap yang merupakan “tradisi baru” disini  disosialisasikan terlabih dahulu, agar orang awam menjadi paham. Wa-llãhu a‘lam bi-l-shawãb (ad150803)

 

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: