Halal Bihalal

Bulan Syawal adalah puncak dari pergulatan rohani yang diritualkan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Puasa, tarawih, dan tadarus merupakan bentuk ibadah yang sakral untuk mengukuhkan hubungan dengan Tuhan (Hablum Minallah).

Di sini, dalam suasana Idul Fitri 1423 H, alangkah baiknya kita melihatnya sebagai simbol yang membebaskan. Artinya, segala bentuk ibadah yang baru saja dituntaskan di bulan Ramadhan harus dijadikan modal utama untuk kembali ke fitrah, yang bermakna “pulang ke kesucian”, yaitu, sebagai manusia yang ditugaskan memakmurkan bumi, yang tidak menebarkan kerusakan, marbahaya, dan kekerasan.

Di Tanah Air, kita mempunyai tradisi keagamaan yang amat berharga, yaitu Halal bihalal, yang sulit ditemukan di negara muslim lainnya. Halal bihalal berarti pertemuan antara dua halal guna menjadi satu dalam kesucian. Perbedaan, kekhilafan dan kealpaan yang kita perbuat selama ini disucikan kembali dengan cara saling meminta maaf.

Karenanya, Halal bihalal tidak dilakukan secara sendirian, melainkan bersifat dialog. Ada keterbukaan untuk mengakui kesalahan sembari meminta maaf. Begitu halnya bagi seseorang yang dimintai maaf mesti menerima uluran dan pengakuan tersebut. Sebab, setiap manusia adalah mahlukyang menyimpan sejuta kesalahan dan kealpaan.

Secara umum, Halal bihalal biasanya dimulai dari keluarga, saudara, tetangga dan lalu masyarakat secara umum. Dengan berbagai caranya sendiri-sendiri.

Karena itu, dalam kaitan agama sebagai modal dasar dalam mewujudkan masyarakat yang adil, damai, dan keberadaban, Halal bihalal mestinya didorong sebagai simbol yang membebaskan.

Pertama, Halal bihalal sejatinya dalam menyadarkan masyarakat beragama, bahwa agama tidak hanya menekankan aspek hubungan kita dengan Tuhan, melainkan juga mendorong pada kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan dalam tataran bermasyarakat. Agama tidak hanya berbicara tentang hal-hal yang abstrak, melainkan juga mengulas mengenai realitas (kenyataan) kemanusiaan. Di sini agama dapat menyentuh wilayah kemanusiaan secara umum. Kedua, halal bihalal sejatinya dapat membuka pikiran dan hati nurani, bahwa setiap insan dilahirkan dalam keperbedaan dan kemajemukan. Bahkan perbedaan dan kemajemukan tersebut merupakan khazanah yang perlu dihidupkan guna menciptakan keseimbangan dan kesempurnaan.

Ketiga, Halal bihalal sejatinya dapat menghapuskan prasangka buruk terhadap “yang lain”, baik berbeda suku, agama, dan ras. Di tengah merebaknya kebencian dan prsangkaburuk terhadap “yang lain”, semestinya kita dapat menebarkan kesucian perasaan dan perasaan empati untuk melihat “yang lain” dalam kesetaraan. Ini penting guna merekatkan kembali simpul-simpul kehidupan berbangsa dan bernegara yang sedang retak dan tercabik-cabik.

Di sinilah arti penting halal bilhalal dalam konteks kekinian (pada zaman ini). Halal bihalal memberikan inspirasi penting bagi sikap inklusif, yaitu sikap terbuka terhadap perbedaan dan kemajemukan menuju penghayatan terhadap doktrin keagamaan yang substantif (pokok). BERAGAMA TIDAK HANYA UNTUK DIMILIKI DIRI SENDIRI, MELAINKAN JUGA HARUS DINIKMATI OLEH SEGENAP UMAT MANUSIA. Wallahualam (ad201202)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: