HUTAN LINDUNG : TOLONG SAYA !?

Tanpa kita sadari, dalam setiap harinya, hutan di negeri kita ini terus berkurang seluas 1.445 kali lapangan bola. Dan dalam setahun, hutan yang “hilang” dari muka bumi Indonesia seluas Provinsi Jawa Barat. Penyebabnya adalah penebangan kayu, baik liar atau resmi. Hal lain yang ikut menjadi penyebab adalah pembukaan lahan untuk bermacam kepentingan, seperti ladang petani, pertambangan dan lain sebagainya.

Semua hal di atas “hanya” dapat dilakukan oleh manusia, sebagai mahluk yang paling sempurna di muka bumi ini. Dan motivasi dari semua itu adalah “urusan perut”. Meraup keuntungan dari hasil alam. Alam memang diciptakan oleh Tuhan untuk dimanfaatkan oleh manusia dalam menunjang hidupnya. Tapi yang terjadi, dalam batas-batas tertentu bukan dimanfaatkan tapi dirusak. Hasil alam yang beragam mulai dari air, mineral, kayu dan masih banyak lainnya lagi terutama keanekaragaman hayati. Dan alam yang diciptakan adalah sepenuhnya “milik” Yang menciptakannya, manusia sebatas “dititipi”. Namun tak semua manusia “serakah” masih ada “yang bener”, maka terciptalah apa yang disebut sebagai Hutan Lindung, guna melindungi hutan dari “gangguan” manusia.

 

Perusakan yang terjadi akan bertambah lagi ketika DPR, menyetujui keputusan pemerintah, yang memberikan izin kepada perusahaan pertambangan, yang jumlahnya 15, untuk berproduksi di areal hutan lindung. Dalam kondisi saat ini, dimana negara “butuh duit banyak”, pemerintah berada dalam posisi dilema. Berdiri diantara dua posisi, mana yang lebih didahulukan. Posisi pertama, mengeruk tambang untuk kesejahteraan rakyat sekarang, atau kepentingan jangka pendek, atau lebih memilih berada dalam posisi yang kedua, melindungi lingkungan untuk kepentingan lebih luas pada masa depan.

Dari sekitar 30 juta hektar hutan lindung di negeri ini, 15 perusahaan tersebut hanya akan melakukan survei di hutan lindung 12 juta hektar “saja”. Jika ditemukan tambang disana, tentu areal yang dibuka jauh lebih sempit dari 12 juta hektar itu. Nah, dari 15 perusahaan itulah yang nantinya pemerintah akan mendapat dana pembangunan. Yang salah satunya adalah setoran dari perusahaan tambang tersebut, yang kemudian dana tersebut digunakan untuk membangun guna kesejahteraan rakyatnya. Hal yang mendesak bagi pemerintah saat ini adalah tersedianya dana sebanyak mungkin untuk membangun dan lingkungan bukanlah prioritas utama.

Sebaliknya, mereka yang prolingkungan menyodorkan fakta bahwa membela kepentingan lingkungan bukan berarti merugikan kepentingan ekonomi. Dalam jangka panjang, lingkungan yang tangguh akan memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi pembangunan ekonomi. Jika hutan lindung yang kemiringannya sangat terjal tetap dijarah eksplorasi tambang, bisa dipastikan bahaya longsor akan mengancam dan daya tahan terhadap banjir akan lemah sekali. Kota besar seperti Jakarta telah merasakan betapa besar kerugian ekonomi dari banjir yang merendam metropolitan itu tahun lalu. Hal ini adalah contoh betapa lemahnya daya dukung kawasan lingkungan sekitar Bogor dan Puncak, yang semakin gundul dan ramai “ditumbuhi” perumahan dan vila.

Akan turut musnah juga keanekaragaman hayati hutan kita, yang paling lengkap di dunia, seiiring “hilangnya hutan”. Aneka biota di hutan Indonesia adalah sebagian dari museum hidup peradaban manusia yang tersisa. Jika akan tahu hutan akan lenyap 20 tahun atau 10 tahun mendatang, seharusnya izin eksplorasi tambang tidak direkomendasikan oleh DPR. Sambil berharap pemerintah tidak mengebaikan rekomendasi itu. Masih banyak alternatif tersedia untuk menambal kas negara.

Sebuah ayat yang dapat digunakan sebagai perenungan bagi pemerintah, DPR dan terutama seluruh manusia di jagat raya,

“Janganlah melakukan kerusakan di muka

            bumi setelah ia dalam keberesannya”. (6:65)

Kepentingan jangka pendek bukan tidak penting, tapi lebih penting adalah kepentingan jangka panjang. Tanpa ada kepentingan jangka pendek, kepentingan jangka panjang tak dapat tercapai. Melindungi dan melestarikan ciptaan-Nya adalah sebagian tugas dari manusia di muka bumi ini.

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: