ILMU DUNIA “YANG ISLAMI”

“Benar Wak Haji Ali, guru kita, Anah. Keempat anaknya tak ada yang meniru menjadi mubaligh seperti Ayahnya. Tapi menjadi dokter, insinyur, dan dosen. Sekaligus menjalankan syiar Islam dengan baik. Andaikan leluhur-leluhur kita semua punya pemikiran demikian, seperti kata Wak Haji, ‘tidak terjebak dan berhenti pada masalah syariat semata’; betapa kita akan memiliki kebanggaan dan harga diri. Tidak terpojok dan tersisih sebagaimana orang-orang maju melecehkan kita. Bayangkan, jika semua konsep keilmuan berdiri di atas nama kalimat syahadat…”  Sepenggal cerita, yang diangkat dari cerita pendek karya Joni Ariadinata, yang berjudul “Tentang Lelaki Bergamis”.

Resapi dan rasakan makna yang terkandung dalam sepenggal cerita di atas. Bukan menyepelekan pelajaran agama dan menganggap tak berarti seorang mubaligh. Pelajaran agama adalah pelajaran yang penting, dasar dan fundamental bagi setiap manusia sebagai pedoman dalam berkehidupan, mubaligh harus lah ada, untuk mengajarkan kita tentang agama.

Dalam kehidupan ini terdapat tiga alam yaitu alam rahim, dunia nyata yang kita alami, dan alam akhirat yang akan kita hadapi. Di alam rahim kita tidak dapat berbuat sesuatu karena alam tersebut adalah alam bawah sadar. Di dunia barulah kita dapat berbuat banyak, untuk dapat bertahan dan menghimpun bekal untuk alam yang akan kita hadapi nanti, akhirat.

Nabi pernah bersabda untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Tidak lah berat sebelah diantara salah satunya. Dunia kita capai dan akhirat pun kita raih, mungkin itu makna yang terkandung dalam sabda Beliau. Kecenderungan mementingkan hal yang berbau akhirat hal yang kurang baik, karena kita juga hidup di dunia dan sebaliknya mementingkan dunia sangatlah tidak baik, karena tanpa bekal yang cukup kita akan sengsara di akhirat. Dengan kata lain seluruh kehidupan kita di dunia akan dimintai pertanggung jawabannya nanti di akhirat.

Kesungguhan mendalami ilmu yang kita jalani, yang bersifat duniawi adalah suatu keharusan. Dan agama, sekali lagi, adalah sebagai pedoman dasar dalam mendalami ilmu yang bersifat duniawi tersebut agar, ilmu itu dapat bermanfaat bagi kita dan orang banyak. Hal ini juga merupakan sarana syiar atau dakwah, yang memiliki banyak bentuk dan cara. Tanpa harus menjadi mubaligh, dengan banyak melakukan khotbah dan ceramah. Dan bukan hanya menjadi mubaligh saja yang dapat memasuki tampat yang mulia di dunia yang akan kita hadapi nanti.

Menciptakan atau menjadikan ilmu duniawi dengan berkonsepkan Islam adalah tugas masing-masing dari kita. Dalam sejarahnya dahulu, para ulama atau pemikir-pemikir dunia di dominasi oleh umat Islam. Mereka mengembangkan ilmu keduniaan berdasarkan agama, yang didapat melalui berbagai sumber dan salah satunya Al-Qur’an.

Itu semua dapat memberikan dasar bagi kita untuk terus bersungguh-sungguh dalam menekuni ilmu yang sedang kita pelajari tanpa mengesampingkan pelajaran agama. Ekonomi, politik, biologi, matematika, fisika, sosial dan banyak cabang ilmu yang lain, yang dapat kita tekuni di dunia ini untuk menciptakan dunia yang sejahtera.

Jadi tidak ada lagi keraguan bagi kita untuk mendalami ilmu-ilmu keduniawian, dan menjadikannya sarana syiar atau dakwah bagi agama kita sehingga kita dapat menciptakan ekonomi yang Islami, fisika yang Islami, biologi yang Islami, matematika yang Islami, dan lainnya yang Islami. “Bayangkan, jika semua konsep keilmuan berdiri di atas nama kalimat syahadat…” Wallahualam (ad280103)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: