Jakarta Bukan Buat Orang Miskin

Setiap negara pasti memiliki ibukota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan juga pusat segala kegiatan dari Negara. Indonesia memiliki Jakarta sebagai ibukotanya, induk dari seluruh kota yang ada di Indonesia. Jakarta telah dianggap sebagai kota metropolitan.

 

Segala macam rupa ada di Jakarta, sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat perdagangan sampai pusat-pusat yang lainnya. Karena pada masa lalu pengelolaan negara yang sentralistik, membuat Jakarta menjadi pusat segalanya. Karena dianggap sebagai pusat dari segalanya tersebut akhirnya ada anggapan bahwa Jakarta adalah “surga”-nya Indonesia. Adanya kemudahan dalam “mengumpulkan” uang, mengundang urban (para pendatang dari desa ke kota) untuk beramai-ramai mengadu nasib, sambil berharap terjadi perubahan nasib yang dialaminya.

 

Sayangnya tidak memiliki peruntungan yang sama. Banyak yang berhasil dan tak sedikit pula yang bernasib buntung. Karena ramainya urban sampai-sampai kota Jakarta yang mempunyai luas ± 10 Km2 tidak mampu menampung para urban tersebut. Saking ramainya akhirnya tercipta kesemrawutan, kekumuhan dan ketidakteraturan. Akhirnya bertambah gelar pusat yang di sandang oleh kota Jakarta. Pusat kesemrawutan, kekumuhan sampai pada pusat polusi yang kelewat batas.

 

Banyak hal yang bisa diangkat dari “kehidupan” kota Jakarta. Namun pada kali ini, tulisan ini akan coba “melihat” sisi bagi mereka yang ternyata bernasib buntung dalam mencoba peruntungannya di kota Jakarta. Banyaknya urban yang bernasib buntung sangat mewarnai kehidupan kota metropolitan ini. Peluang “mengumpulkan” uang di Jakarta ternyata tidak seimbang dengan jumlah yang menginginkannnya. Kalau dalam bahasa ekonomi, permintaan lebih banyak dari penawaran, yang menciptakan ketidakseimbangan. Dalam hal apapun jika terjadi posisi yang tidak seimbang pasti akan menciptakan permasalahan.

 

Banyak dari mereka yang “kehabisan modal” sehingga tidak sanggup kembali ketempat “semula” dan pada akhirnya mereka “melahap” peluang apapun yang dapat menghasilkan uang walau dengan cara yang “haram” sekalipun sebagai usaha agar tetap “survive” di kota yang oleh sebagian orang dikatakan lebih kejam dari ibu tiri ini. Banyak dari mereka yang akhirnya bekerja di sektor informal, seperti berdagang, menjadi pemulung, kuli angkut, pekerja kasar, pelacur, preman sampai menjadi “penjahat”.

 

Bisa dikatakan salah satu permasalahan dari mereka yang bernasib buntung telah terpecahkan, yaitu dapat memperoleh penghasilan walau tak pasti dan jauh dari cukup. Ada masalah lain yang juga termasuk kebutuhan pokok, yaitu papan atau tempat tinggal, yang digunakan bagi mereka sebagai tempat “berlindung” dan beristirahat. Karena penghasilannya yang sangat kecil, yang belum tentu dapat mencukupi kebutuhan pangannya, sudah tentu sulit bagi mereka untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak. Jangankan tempat tinggal yang sehat, yang “cukup” untuk di tempati saja sudah termasuk beruntung. Mereka biasanya hidup mengelompok, dan mendirikan “perumahan” pada lahan yang tidur yang belum termanfaatkan, yang hak kepemilikannya dimiliki oleh pihak lain. Hak tersebut biasanya dimiliki “tuan tanah”, Pemda, atau pun perusahan.

 

Sekitar tahun 1998, Pemda memberikan izin untuk memanfaatkan lahan tidur itu untuk bercocok tanam. Hal ini terkait dengan program padat karya. Namun seiring dengan melajunya waktu, lahan-lahan yang semula diperuntukan hanya untuk bercocok tanam bagi mereka yang tidak mendapatkan peluang kerja berubah fungsi. Mereka mulai satu per satu mendirikan bangunan tempat tinggal di wilayah tersebut. Bertambah setiap waktunya, bahkan pertumbuhan yang terjadi tergolong pesat, sehingga terkesan kumuh yang dikarenakan luas lahannya yang tidak seimbang dengan jumlah bangunan yang didirikan. Dari gubuk sampai rumah permanen berdiri.

 

Lima tahun berlalu, timbul masalah ketika sang empunya tanah yang sah ingin mengambil haknya. Warga dengan berkeras menolak untk meninggalkan wilayah tersebut. Karena erasa sudah tinggal lama di lahan tersebut dan merasa mendapatkan izin dari aparat yang berwenang. Bahkan listrik pun telah “menjamah” ke wiliyah tersebut. Sebagai pemilik sah wajar saja mereka menuntut hak mereka. Terjadilah penggusuran bagi warga “liar” yang menempati lahan tersebut.

 

Peristiwa penggusuran tersebut menimbulkan konflik antara aparat dengan warga setempat. Karena warga tetap ngotot mempertahankan keberadaannya. Hal yang menjadi fenomena adalah waktu yang berdekatan dalam melakukan penggusuran diberbagai tempat. Jumlah kepala keluarga yang menjadi korban hampi mencapai 4000 KK. Jika ditambah dengan anggota keluarganya tentu berkali-kali lipat jumlahnya.

 

Penggusuran bukanlah peristiwa baru. Peristiwa ini telah terjadi sejak masa yang lalu. Biasanya objeknya adalah pedagang kaki lima dan perumahan kumuh, dimana yang berada dalam “wilayah” tersebut adalah orang-orang miskin. Namun keanehan yang terjadi penggusuran terjadi saat jumlah mereka telah banyak. Dan hal ironis, saat terjadi penggusuran sebuah apartemen yang belum jadi yang harganya berkisar 5-17 miliar telah terjual habis dalam waktu lima bulan.

 

Sebuah hal dilematis, secara hukum legal mereka memang disebut “liar”, namun dari sisi kemanusiaan sungguh memprihatinkan hal yang menimpa mereka. Mereka hanya ingin dapat tetap hidup di dunia ini. Apakah hukum hanya diperlakukan pada mereka yang lemah. Apakah konsep kota Jakarta tidak diperuntukkan bagi orang-orang miskin? Hanya mereka sajakah yang berduit yang boleh menempati kota metropolitan ini? Tak adakah tempat bagi mereka yang miskin? Tak adakah peluang bagi mereka yang miskin untuk “mencicipi” Jakarta. Jika hal itu yang berlaku, maka sebaiknya Pemda memasang papan pengumuman pada setiap pintu masuk kota, yang berisikan “Orang Miskin Tidak Boleh Masuk”. Wallahualam (ad081003)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: