“KADO” AWAL TAHUN YANG “INDAH”

Orang akan membuka lembaran baru di tahun yang baru, menatap ke depan dengan optimis, berharap ke depan akan menjadi lebih baik. Yang lalu sebagai pelajaran untuk menghadapi masa depan yang akan dilewati.Yang buruk jangan terulang, yang baik tetap dipertahankan.

Optimisme dan harapan baru untuk lebih baik meluntur setelah ada pengumuman dari pemerintah yang secara mendadak menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik, tarif kereta api kelas ekonomi dan telepon secara “jamaah”. Kehidupan yang belum membaik selama terjadi krisis, ditimpa lagi dengan kenaikkan harga jelas sangat memberatkan rakyat. Seakan rakyat terus ditengelamkan kedalam situasi krisis yang tak berujung.

Masalahnya, kenaikan “jamaah” itu tanpa memperhitungkan daya beli atau kemampuan keuangan dari rakyat. BBM misalnya, yang harganya disamakan menurut standar Singapura, apakah tingkat pendapatan rakyat Indonesia sama dengan pendapatan rakyat Singapura. Jelas kenaikan “jamaah” ini akan segera diikuti barang yang lain secara “jamaah” termasuk transportasi tentunya, dan bukan tak mungkin biaya pendidikan juga akan naik. Contoh lain di mana TELKOM yang memonopoli telekomunikasi di Indonesia, telah mengalami kenaikan keuntungan 100% labanya dari 3.6 triliun menjadi 7 triliun rupiah (koran Tempo 2/1/2003), apakah hal ini masih pantas? dan mereka berdalih ingin melakukan perluasan jaringan ke daerah-daerah yang belum terjangkau, seperti “kampanyenya” di TV yang menggambarkan kehidupan seorang petani cabe di desa.

Bagaimana dampaknya? Rakyatlah yang selalu menjadi korban, dengan memikul beban kenaikan. Ironis sekali kebijakan pemerintah dengan memberi “kado” kebebasan kepada para pengutang dan “memukul” rakyat dengan kenaikkan harga. Yang dikhawatirkan adalah tingkat kesabaran masyarakat terhadap kondisi yang terjadi, jika telah mencapai puncak kekecewaan terhadap pemerintah maka yang akan timbul “chaos” (kerusuhan) seperti tahun 1998 yang lalu.

Kita semua tidak ingin hal itu terulang kembali, itu adalah pengalaman buruk yang wajib dijadikan pelajaran, agar tak terulang. Terus bagaiman selanjutnya? Sebuah ajakan klise, tetap sabar menghadapi keadaan, terus berusaha sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan , tetap bersatu dan yang terpenting mengurangi pola konsumtif (doyan belanja) kita.

Kenaikan yang terjadi sangatlah tidak adil, karena tanpa memperhitungkan kemampuan daya beli yang dimiliki oleh. Tetap sabar dan mengurangi pola konsumtif adalah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menghadapi keadaan yang terjadi.(ad280103)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: