Karena Keadaan Maka Tak Disiplin

Dalam sebuah acara di televisi swasta nasional, yang merupakan program baru dari televisi tersebut, dimana acara tersebut mengangkat topik mengenai hal-hal yang terkait dengan kota Jakarta. Hal-hal yang dibahas merupakan hal yang tidak menyenangkan yang ada di kota Jakarta, yang diantaranya ketidakdisiplinan dan kemacetan.

Dalam program tersebut terdapat opini yang dilontarkan oleh seorang sosisolog yang cukup terkenal. Dalam opininya, ada hal yang membuat terkejut dan ketidaksetujuan atas opini yang terlontar.

Kurang lebihnya beliau mengatakan bahwa kemacetan yang juga disebabkan oleh karena ketidaksiplinan berkendara diakibatkan oleh keadaan jalan, dan pengguna mercy juga ikut tak beradab atas keadaan tersebut.

Tak disangka begitu mudahnya sosiolog tersebut menyalahkan sebuah keadaan sebagai alasan untuk tidak berdisiplin. Yang tambah menyakitkan adalah pengguna mercy, yang diidentikkan dengan kaum kaya dianggap sebagai kaum yang dikategorikan sebagai kaum yang lebih beradab.

Tak pantas rasanya menyalahkan keadaan sebagai penyebab, karena sadar atau tidak suatu keadaan terbentuk karena campur tangan dari kita semua. Sehingga keadaan jalan yang ada saat ini juga tak jauh dari campur tangan kita juga. Atau dengan kata lain, kita juga ikut turut andil dalam membentuk keadaan tersebut.

Kedisiplinan adalah sebuah nilai, yang banyak orang bijak menganjurkan untuk dimiliki oleh diri atau bangsa yang ingin diri atau bangsanya maju. Jadi, seyogyanya kedisiplinan dijadikan prinsip hidup bagi siapa yang ingin maju. Jika telah dijadikan sebagai prinsip hidup maka tentunya takkan goyah oleh hantaman keadaan, dan keadaan dapat dijadikan sebagai ujian bagi prinsip tersebut. Namun, jika kedisiplinan hanya tampil sebagai slogan semata, tentu akan begitu mudah terbawa arus keadaan.

Menjadikan keadaan sebagai penyebab dari ketidakdisiplinan sama saja menunjukan kelemahan diri kita. Kita seperti tak mampu manjawab permasalahan dan hanya pasrah menerima keadaan yang terjadi. Padahal keadaan dibuat oleh kita tapi kita tak bisa berbuat dalam keadaan tersebut.

Begitu juga halnya dengan tingkat keberadaban seseorang tentunya tak layak jika dinilai dari status sosial, dalam hal ini hanya dimiliki oleh orang kaya. Begitu picik rasanya penilaian sederhana tersebut. Karena keberadaban adalah soal kearifan dan kedewasaan dari seseorang, tak lantas hanya karena status sosialnya saja yang bisa membawa seseorang menjadi beradab.

Alangkah baiknya, jika keadaan, dalam hal ini keadaan jalan yang ada, menjadi tanggung jawab kita bersama dalam memecahkan masalah tersebut. Tentunya dari pemecahan masalah ini dibutuhkan pengorbanan. Seperti dengan meninggalkan kendaraan pribadi dengan beralih ke transportasi umum. Karena jalan yang ada sudah tidak mampu lagi menampung kendaraan yang ada. Penyediaan transportasi umum yang layak, aman dan nyaman adalah kebutuhan yang wajib secepatnya tersedia. Sulit mengharapkan peralihan pengguna kendaraan pribadi menjadi pengguna transportasi umum jika transportasi umum yang tersedia tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

Jadi, tak berguna rasanya menyalahkan keadaan karena yang lebih berguna adalah menjawabnya. Dengan mendobrak keadaan tersebut, tentunya dengan bersama-sama.

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: