Korupsi ?? Itu Mah Biasa…

Brasil jawara dalam sepak bola, AS jawara dalam teknologi informasinya dan Jepang dalam industri elektroniknya, Indonesia? Jawara Korupsi!!! Transparansi Internasional (TI) mengeluarkan laporan tentang tingkat korupsi yang terjadi dalam setiap negara. Disusun berdasarkan peringkat. Indonesia kembali mendapat juara keenam negara paling korup dari 133 negara yang dinilai oleh Transparansi Internasional Indonesia. Tahun lalu Indonesia juara keempat dari 102 negara paling korup.

Korupsi bukan barang baru bagi bangsa ini. Mungkin juga sudah ada sejak jaman Majapahit, cuma saja pada masa itu belum mengenal kata korupsi. Tapi paling tidak perbuatan yang didefinisikan sebagai korupsi mungkin telah terjadi. Korupsi secara sederhana dapat diartikan sebagai tindakan memperkaya diri sendiri atau kelompok atau golongan dengan memanfaatkan fasilitas yang tidak semestinya digunakan untuk kepentingan sendiri atau kelompok.

Pada masa lalu, jaman orde baru misalnya, perbuatan yang satu ini dilakukan secara “malu-malu” dan modusnya terpusat pada kalangan keluarga atau yang dekat dengan cendana. Namun kini seiring bergulirnya reformasi, perbuatan nista ini, tanpa malu-malu lagi dan dilakukan tidak secara terpusat, tapi oleh berbagai pihak. Bahkan ada pihak yang mengatakan jumlahnya lebih besar dari masa lalu.

Penyebaran tindakan korupsi ini salah satunya disebabkan oleh yang dulunya tidak mendapat akses dan kesempatan untuk melakukannya, sekarang telah memiliki hal tersebut. Atau dengan kata lain dulu tidak “kebagian” sekarang “kebagian”. Setelah peluang itu terbuka maka semaraklah tindakan terjadi dan dilakukan secara “berjama’ah”.

Otonomi daerah yang dimaksud untuk membagi kewenangan kepada daerah untuk menjalani pemerintahan ternyata menciptakan raja-raja kecil di daerah. Bukan konsep otonominya yang salah tapi implementasinya yang serong entah kemana. Dalam suatu acara tentang penghargaan tantang liputan korupsi yang diadakan oleh ICW (Indonesian Coruption Watch), dari 25 peserta 20 diantaranya mengangkat tentang korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan legislatif daerah dengan eksekutifnya.

Begitu merebaknya perbuatan nista dan bejat ini di negeri kita. Sampai-sampai perbuatan ini dijadikan sebagai salah satu cerminan budaya bangsa. Aduh, sudikah kita jika korupsi dimasukkan kedalam budaya bangsa kita? Begitu sulitkah memberantas binatang yang satu ini? Apakah “dokter” belum menemukan obat yang mujarab yang dapat menyembuhkan “penyakit” yang menyerang negeri ini?

Entah kenapa sikap kebanyakan masyarakat terhadap “virus mematikan” ini semakin permisif saja. Bahkan sampai-sampai terlontar pernyataan  yang sangat mengharukan; Korupsi? Itu mah biasa…..Jika hal ini sudah terjadi begitu buruknya wajah bangsa ini yang telah melumrahkan sebuah tindakan yang sangat nista ini.

Jika di kaitkan sedikit ke “wilayah” agama, Indonesia walaupun bukan negara agama, namun mayoritas masyarakatnya adalah masyarakat yang beragama, walau beraneka ragam. Namun, dalam setiap agama tersebut sudah pasti melarang tindakan nista ini. Yang tidak beragama pun pasti tidak setuju dengan tindakan nista ini, karena melanggar aturan. Tapi tetap saja para pelakunya membandel dengan tetap melakukannya, mungkin mereka berpikir masih ada waktu untuk bertobat nanti.

Aparat hukum atau yang berwenang dalam mengurusi hal ini mandul dan tak mampu “ngerem” laju korupsi. Disebabkan mereka diduga juga “belepotan” dengan tindakan nista ini.  Untuk itu perlu adanya sangsi sosial yang dilakukan masyarakat. Sangsi sosial ini kadang lebih ampuh “khasiatnya”. Bentuk sangsi sosial itu salah satunya antara lain dengan mengucilkan si pelakunya. Dengan terkucil, pelaku diharapkan “tersiksa” karena tak ada lagi “teman” untuk berinteraksi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat  dan untuk menunggu “pulihnya” aparat berwenang.

Gerakan pemberantasan korupsi haruslah dilakukan secara serentak dan menyeluruh dari berbagai lapisan masyrakat. Dan tak kalah pentingnya adalah merubah paradigma dan sikap terhadap tindak korupsi. Sehingga yang akan tumbuh ialah pernyataan; Korupsi? Kurang ajar !!!. Tapi semua itu dapat dilakukan jika diri kita juga “bersih”, jangan main teriak saja tapi ternyata diri kita “berlumuran noda”. Maling teriak maling akhirnya. Untuk itu mulai dari diri sendiri dan sekarang. Ayo…..!!! (ad191203)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: