KRITIS..

Kritis yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti bersifat tidak lekas percaya.  Sedangkan sikap adalah perbuatan dan sebagai yang berdasarkan pada pendirian (pendapat atau keyakinan). Jadi sikap kritis dapat dikatakan adalah suatu sikap yang tidak lekas percaya terhadap suatu hal. Atau dengan kata lain tidak langsung membenarkan sesuatu langsung dengan bulat-bulat tanpa ada telaah terlebih dahulu.

Kenapa sih kita perlu memiliki sikap kritis? Paling tidak dengan adanya sikap tersebut kita tidak mudah terjerumus dalam sesuatu yang kita tidak mengetahui akibatnya, yang mungkin berakibat buruk.

Kaitannya dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak mendapatkan banyak informasi atau bahkan yang bersifat ilmu, baik itu hal yang baik dan hal yang buruk. Kalau itu bersifat baik tak menjadi masalah, tapi jika berakibat buruk yang menjadi masalah.

Tapi tidak cuma hal yang bersifat buruk saja kita berhati-hati, terhadap informasi, ilmu atau perintah yang bersifat baik juga kita perlu kritis. Dalam artian pahamilah informasi, ilmu, dan perintah yang kita dapatkan secara lengkap sehingga kita dapat mengetahui maksud dan tujuannya dengan benar. Agar kita tidak terjebak kedalam hal yang tidak kita inginkan, terutama informasi- yang sangat mudah untuk diselewengkan.

Sikap kritis ini salah satunya dengan cara bertanya. Dengan bertanya (kepada orang yang lebih mengetahui atau paham) kita akan dapat lebih jelas mengetahuinya. Atau dengan mengecek ulang (cek dan ricek). Seperti pepatah “malu bertanya sesat dijalan”. Hal ini menunjukkan janganlah segan-segan untuk bertanya, dengan jawaban hasil dari pertnyaan kita tersebut paling tidak kita bertambah hal yang kita ketahui.

Sikap kritis ini merupakan bentuk rasa kepedulian kita terhadap sesuatu. Sikap kritis ini juga dapat sebagai filter kita, terhadap arus informasi, yang sekarang ini banyak berdatangan dari berbagai sudut. Bukan berarti informasi yang banyak itu merugikan, justru dengan sikap kritis yang kita miliki, kita dapat membandingkan mana informasi yang dapat kita percaya.

Di dalam Ajaran Islam sendiri, hal ini mungkin sama dengan tabayyun, yaitu menanyakan kembali. Di Al-qur’an terdapat ayat yang menggambarkan untuk melakukan tabayyun kepada orang fasik.

Perlunya dikembangkan potensi sikap kritis yang kita miliki, untuk mengadakan suatu perubahan kearah yang baik dan sebagai rasa kepedulian kita – yang selama ini anak muda terkenal dengan ketidakpeduliannya. Walallu’alam (ad150103)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: