LIBUR TELAH TIBA

Libur telah tiba…libur telah tiba…kalau kata Tasya dalam lagunya. Penyanyi cilik yang lucu dan imut, yang punya banyak penggemar mulai dari anak-anak sampai orang yang lebih tua usianya, termasuk diriku ini.

Ya, libur ! Kalau dalam kamus punya arti bebas dari kerja atau sekolah. Inilah hal, sesuatu, atau apapun namanya yang paling ditunggu-tunggu oleh orang yang ada di jagat raya ini. Bagaimana tidak ditunggu-tunggu, dengan adanya libur kita bisa bebas dari hal yang rutin dan membosankan dan terus kita lakukan setiap harinya.

Buat ku, libur kadang menjadi momok dan menjadi dilema. Dilema ? bukannya hal itu yang paling ditunggu orang-orang, begitu kata teman ku kepada diriku. Memang aku juga senang dengan adanya libur, bukan hanya senang tapi juga butuh libur. Mesin saja yang tidak punya rasa letih – mesin mana punya perasaan sih – butuh libur, paling tidak istirahat apalagi Aku seorang manusia. Ya, dulu waktu Aku masih kecil dan kira-kira sampai SMA aku paling senang kalau libur, tapi saat aku mulai kuliah rasa itu mulai ada, rasa dilmma tentunya.

Ijinkan Aku perkenalkan diri dulu, Aku seorang Mahasiswa semester 9, mengambil jurusan Akuntansi disalah satu Perguruan tinggi terkemuka di Jakarta. Dilihat dari banyaknya semester yang telah kupunya tentu orang akan menganggap Aku sebentar lagi akan lulus. Memang saat ini Aku sedang menyusun skripsi walau entah kapan akan selesai.

Kenapa sih Aku kok punya dilema dengan libur? Begini, yang menyebabkan Aku dilema adalah masalah klasik. Tidak punya uang di saat liburan, itu saja. Kalau masalah yang satu ini setiap orang Aku yakin pasti pernah mengalami, bahkan bukan saja pernah tapi terus mengalami, bagi sebagian orang yang kurang beruntung.

Pada saat liburan datang banyak teman-teman ku yang mengajak untuk pergi berlibur bersama mereka. Ada yang mengajak kesini lah, kesitu lah, bahkan ada yang mau ke ujung dunia, padahal dunia tidak punya ujung. Jelas namanya pergi jalan-jalan butuh uang, tapi bagaimana uang pula yang menyebabkan Aku tak bisa ikut bersama mereka. Bodah sekali sih, kumpulin uang dulu kalau mau liburan agar di saat liburan kamu punya uang, semua teman ku memberi komentar yang sama. Mengumpulkan uang adalah hal yang bertentangan dengan hobi ku, yang selalu menghamburkannya. Bisa dibilang Aku tidak tahan kalau punya duit, pasti saja Aku habiskan yang kadang tidak jelas hasilnya. Padahal Aku seorang pria, biasanya yang punya hobi semacam itu adalah kaum hawa.

Aku bingung mau kemana, mau diisi apa liburan ku kali ini. Setelah liburan yang lalu Aku hanya menghabiskan waktu di rumah saja, rumah yang kecil dan sumpek, ngga tau apa emang rumahnya yang sempit atau kebanyakan penghuninya. Jelas akan sangat membosankan, dan menyebabkan timbul rasa rindu ingin kembali kuliah lagi. Di rumah Aku tidak punya kegiatan yang berarti yang bisa membunuh waktu, dan akhirnya selalu disuruh oleh orang tua ku untuk ini dan itu, yang setiap harinya selalu ada saja.

Tapi kini terlintas dalam pikiran ku untuk pergi ke rumah nenek ku di Jawa. Karena nenek ku tinggal di Jawa, dan orang tua ku orang Jawa Aku juga kebagian disebut orang Jawa. Padahal Aku tidak suka kalau disebut sebagai orang Jawa, bagaimana tidak, Aku lahir dan besar di Jakartakota Metropolitan katanya. Ya jelas, Aku orang Jakarta, walau bagaimanapun Aku mengakui kalau Aku ini keturunan orang Jawa.

Selain Aku sudah lama tidak mengunjungi rumah nenek ku, ada hal yang utama dibalik semau itu, apalagi kalau bukan agar Aku mendapatkan uang. Ya, dengan cara ini Aku pasti akan diberi uang untuk ongkos dan uang saku. Orang tua pasti akan memberinya kalau Aku pergi ke rumah nenek atau ke rumah saudara ku yang lain, belum lagi sepulangnya Aku akan mendapatkan uang dari nenek atau saudara ku untuk ongkos, katanya. Uang..uang…uang, matre bener sih, dari tadi ngomongin masalah UANG terus. Ah, namanya juga orang hidup pasti butuh uang, bohong orang hidup ngga butuh uang. Orang tua ku lebih senang memberi ku uang untuk pergi ke rumah sanak saudara atau keluarga ku yang lain, dibanding memberi untuk keperluan ku pergi bersama teman teman ku. Pasti untuk yang ngga bener, Cuma hura-hura, ngga ada hasilnya, begitu alasan mereka. Habis bagaimana lagi namanya anak muda, kalau pergi berlibur kebanyakan, ya hura-hura. Tidak semua sih, tapi umumnya seperti itu adanya.

Di keluarga besar ku, Aku paling jarang terlihat, karena memang Aku paling sering tidak ikut kalau pergi ke rumah keluarga ku yang lain dan semenjak menginjak masa ABG Aku hampir tidak pernah menghadiri pertemuan keluarga. Alasannya Aku tidak merasa nyaman bersama mereka, walaupun tidak pernah Aku mengatakan pada orang tua ku. Paling Aku beralasan ada kegiatan dengan teman, sekolah atau yang lainnya. Walaupun Aku sadar bohong itu dosa, tapi mau menggunakan cara apalagi, karena cara itu menurut ku cara yang ampuh dan selalu berhasil.

Aku akan diam seperti kambing dongo kalau berada dalam linkungan keluarga ku, memperhatikan mereka berbicara, bercanda, kadang ikut tertawa karena terpaksa, larut dalam kegembiraan mereka yang Aku rasakan semu. Betapa gembiranya mereka, keakraban yang mereka rasakan sayangnya tak kurasakan. Mereka benar-benar seperti pepatah Jawa “mangan ora mangan sing penting kumpul”. Aku juga ingin merasakan seperti apa yang mereka rasa, tapi entah kenapa seperti ada yang mengganjal.

Sebenarnya mereka juga menganggapku sebagai bagian dari mereka, bagian dari keluarga. Dasar Aku saja yang aneh, tidak bisa ikut membaur, betapa sombongnyakah diri ku. Sombong? Itu pula sifat yang ku benci, Aku tak ingin punya sifat seperti itu. Apa yang Aku sombongkan dari diriku, jelas Aku tidak punya kelebihan apapun, apalagi dalam ajaran Agama ku sifat ini tidak boleh dimiliki.

Sudahlah, yang penting sekarang bagaimana Aku dapat menikmati liburan ku saat ini, dengan pergi ke rumah nenekku. Aku pergi naik bis yang biasa menjadi langganan keluarga ku jika sedang mudik. Semalam lamanya perjalanan, akan terasa lama buat ku, karena Aku hanya seorang diri tanpa teman. Naik bis malam seorang diri, dengan ditemani walkman, mungkin jika  walkman itu diciptakan dengan mempunyai mulut pastilah mengeluh, karena tak bosan-bosannya aku mnedengarkan lagu dengan walkman ini.

Bis malam ini ber ac, dengan bangku dua-dua yang bisa disetel sandarannya, ada kamar kecil yang hanya dapat digunakan untuk kencing saja, juga ada alunan musik dan video yang memutar film-film lama yang pernah diputar di TV ataupun bioskop. Sang pemilik berusaha sebaik mungkin untuk membuat nyaman para penumpangnya dengan segala fasilitas yang disediakan. Jauh berbeda dengan bis dalam kota yang sering aku tumpangi, tak ada keramahan dari awak bus, tak ada bangku yang masih pantas disebut bangku, sumpek, panas, belum lagi ongkos yang selalu naik yang semakin mambuat tak seimbang dengan uang jajan yang diberikan oleh orang tua ku, sama sekali tidak ada kenyamanan yang dirasakan. Sudah kenyamanan tidak ada rasa aman pun tak ada yang menjamin, pembajak bangsat, pencopet tai, penodong, pencoleng, selalu saja mengintai menunggu waktu yang pas. Mau sedikit nyaman tanpa jaminan rasa aman ongkosnya jauh berbeda semakin membuat tidak balance-kalau istilah akuntansi- kondisi keuangan ku, jika kupaksakan naik.

Di dalam bis malam ku melihat para penumpang yang kebanyakan keluarga. Aku duduk dekat jendela mungkin lebih tepat kaca, kalau jendela bisa dibuka, tapi karena ini bus yang ber AC, jelas tidak bisa dibuka.

Tidak lama seorang ibu naik, berjalan menuju kearah ku, sambil memperhatikan nomor tempat duduk agar sesuai denga yang tertera dalam tiketnya. Tak ku lihat yang menemaninya, hanya seorang diri. Diumur yang sudah cukup tua dan pantas punya cucu, seorang ibu menempuh perjalanan yang jauh tanpa ada yang menemaninya. Sampailah di disebelah ku, dan tersenyum puas karena telah menemukan tempat duduknya, setelah mencari dengan paksa karena penglihatannya yang sudah tidak lagi sempurna, apalagi untuk melihat nomor yang tulisannya kecil.

Tak banyak barang bawaannya, hanya sebuah tas sedang yang mungkin berisikan pakaian dan mungkin oleh-oleh dan sebuah tas kecil yang ada di bahu kirinya yang biasanya berisi dompet, alat make up dan barang-barang yang kecil lainnya.

Aku hanya melihatnya sebentar, dan kembali melemparkan pandangan ku ke arah luar. Ada sedikit perasaan menyesal, karena aku berharap yang duduk di dekat kuadalah seorang wanita yang seumur dengan ku dan cantik, paling tidak dengan begitu aku bisa membunuh rasa bosan ku dalam perjalanan dan mengistirahatkan walkman ku untuk sementara.

Tempat duduk sudah terisi penuh tak ada yang tersisa, tapi tak ada yang berdiri seperti bis dalam kota. Hal ini biasa terjadi disaat libur, hari besar atau lebaran, tiket pasti akan habis, karena banyaknya yang, melakukan perjalanan. Bis berjalan meninggalkan rumahnya menuju suatu kota di Jawa dan jika tak ada halangan besok pagi akan sampai. Ku membaca do’a agar diberikan keselamatan dan kelancaran dalam perjalanan.

Dalam perjalanan yang baru saja dimulai, aku merasa ibu yang ada disis ku sedang memperhatikan ku. Aku penasaran dan menoleh kapadanya, ternyata benar ia sedang melhat ke arah ku. Aku lemparkan senyum padanya, dia pun membalas. Aku kembali melihat keluar yang menurut ku lebih indah daripada memandanginya yang keriputnya ada di mana-mana, sambil diiringi deru musik yang cepat.

Tapi kembali aku merasa sedang diperhatikannya, aku berusaha menganggap kalau itu hanya pikiran ku saja, mungkin aku ge-er. Tapi rasa pensaran ku yang menang, kembali aku menoleh kepadanya. Ternyata benar dia sedang memperhatikan ku.

Semakin penasarannya aku, kulepas earphone yang mencantel ditelinga ku, dan menanyakan padanya, mengapa dia memperhatikan ku terus menerus.

Dia menjawab, kalau aku sebaya dengan anaknya yang ingin dijumpainya. Mulailah kami bercakap-cakap. Jika walkman ku dapat berkata dia akan menyatakan kegembiraannya karena dapat beristirahat. Ibu itu menceritakan tentang anaknya yang sekolah diluar kota. Anaknya sekolah di luar kota karena berhasil lulus UMPTN, dan mendapat sekolah negeri, sekolah yang sangat dimpikan oleh orang tua mana pun. Pastilah bangga orang tuanya jika sang anak berhasil masuk sekolah negeri.

Benar saja dugaan ku, dia bercerita dengan bangga perihal sang anak. Bagaimana usaha sang anak untuk dapat lulus ujian, semua yang diceritakan perihal sang anak jauh berbeda dengan ku. Ia rajin, patuh, cerdas dan segala sifat anak yang didambakan orang tua. Telah tiga tahun lamanya sang anak sekolah diluar kota dan sudah dua tahun sang ibu ditinggal suaminya kabur denga gadis jauh lebih muda darinya. Sepi kehidupannya ditengah kesibukan kota yang tak ada kata istirahat. Ingin tinggal dengan anaknya diluar kota jelas tidak mungkin, karena ia masih bekerja untuk bertahan hidup dan biaya anaknya. Mau kawin lagi, siapa yang mau, wanita tua yang gembrot seperti itu. Tangannya saja sebesar paha ku, apalagi pahanya. Belum lagi perutnya yang buncit. Aku membayangkan anaknya jika perempuan pastilah tidak ada yang menyebutnya cantik dan jika laki-laki juga tak ada yang menyebutnya ganteng.

Cerita yang panjang, dimana aku hanya menjadi pendengar yang baik. Dan akhirnya sampailah pada sebuah rumah makan untuk makan malam. Dalam hati ku aku merasa gembira yang tak tampak dari luar. Karena paling tidak aku dapat berpisah dengannya untuk sementara. Meninggalkan ocehannya, yang selalu membanggakan anaknya, yang kadang membuat aku iri, karena ternyata aku bukanlah seorang anak yang didambakan orang tua.

Turun dari bis, dia mengajak ku untuk makan bersamanya, aku bingung ingin menolak dengan halus, karena aku tak pandai untuk berbasa-basi. Karena ku rasa basa-basi hanya membuang waktu atau hal yang tak ada gunanya. Ingin bilang tidak, aku segan, karena dia orang tua. Begitulah, budaya Timur, selalu mendahulukan orang yang lebih tua, walaupun dilihat hanya dari usianya saja. Dengan sangat terpaksa aku mengiyakannya.

Dengan perasaan tidak enak, yang dipaksakan, aku melahap makanan. Hawa dingin di dalam bus membuat rasa lapar meneyerbu. Perasaan ku bertambah tidak enak, saat ingin membayar hidangan yang telah ku habiskan. SemuaIa yang membayarnya. Mau tak mau kuucapkan terima kasih padanya, karena telah membayari makan ku.

Kembali ke dalam bis, dengan perut yang telah terisi, sedikit menghilangkan rasa kantuk. Kembali bercerita Ia. Tapi kali ini, Ia memulai dengan wajah yang berbeda denga sebelumnya, yang tampak ceria. Wajahnya terlihat murung, bagaikan seseorang yang ditinggalkan kekasih. Mulailah dia bercerita. Isi ceritanya kali ini bagaikan langit dan bumi, dari apa yang Ia ceritakan di awal. Semuanya hancur. Kehidupannya yang dulu bahagia, walau tanpa materi yang berlebih, kini semua bagai tidak ada artinya bagi Dia.

Suaminya, yang selalu setia meninggalkannya, setelah mendapatkan kekasih yang jauh lebih muda. Dasar lelaki. Entah mulai kapan suaminya mulai mengenal perempuan lain, Ia sendiri tidak tahu. Tapi ia merasa, semenjak anaknya yang cuma satu, sekolah keluar kota, perilakunya mulai berubah. Mulai tak sehangat dulu, tak ada lagi kecupan perpisahan dikala sang suami ingin berjuang mencari nafkah. Hilang nasihat-nasihat yang selalu di dengar dari suaminya, dikala Ia merasa susah. Ia benar-benar senang telah memilih seorang suami yang bijaksana dan dapat membimbingnya.

Mulailah dengan perselisihan hal-hal yang kecil. Dan Ia merasa rumahnya tak terasa nyaman lagi. Dan samapai pada akhirnya, suaminya mengatakan, kalau Ia sudah tak secantik dulu lagi dan tak ada yang istimewa dari dirinya. Semua perkataan itu diucapkan oleh suaminya, bersama dengan kekasih barunya dan beberapa tas yang telah siap untuk  dibawa pergi, saat pergi meninggalkannya. Betapa pun Ia masih diberikan tempat tinggal, dan suaminya pergi bersama dengan kekasih barunya, yang kalau dilihat usianya lebih pantas menjadi anaknya.

Sejak itu tinggal rumah dan anak semata wayang. Mulai lah Ia mencari pekerjaan, untuk menyambung hidupnya, di kota Metropolitan. Ingin pulang atau mengunjungi keluarganya Ia malu. Karena dulu ia selalu merasa kalau keluarganya yang paling sempurna dibanding yang lainnya.

Setahun setelah terpisah dan Ia masih dapt hidup dikota yang lebih kejam dari Ibu tiri ini, Ia mendapatkan kabar dari anaknya, kabar dari kerabatnya yang pernah bertugas di kota tempat anaknya sekolah, kalau anaknya mulai melacur dan memakai obat-obatan. Hancur perasaannya, semuanya telah berubah. Ya Tuhan begitu mudahnya engkau merubah kehidupan seseorang.

PernahIa berkunjung ke tempat anaknya, tapi ia tidak pernah bertemu. Karena rumah yang anaknya biasa tempati sudah berubah, dibangun menjadi wartel. Tak tahu Ia harus mencari kemana, karena tak satu pun yang dikenalnya di tempat itu. Pulang denga tangan hampa, tanpa hasil, dan menambah berat beban hatinya. Yang diselubungi ketidakpastian, anaknya dan hidupnya. Perubahan yang terjadi pada anaknya dimulai saat mendengar perpisahan Ayah dan Ibunya. Dengan emosi yang labil dan jauh dari bimbingan orang tua terjerumuslah anaknya. Sempat Aku berpikir, ternyata aku masih lebih baik dari anaknya.

Dan kepergiannya untuk menemui anaknya kali ini, karena mendapatkan berita, melalui surat yang dikirim langsung oleh anaknya. Berita yang diterimannya menambah rasa iba ku kapadanya bertambah. Ia mendapatkan berita kalau ternyata anaknya sekarang sedang hamil dan akan segera melahirkan anak, yang kelak akan menjadi cucunya. Kehamilan yang tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas hasil dari semua itu. Resiko yang diperoleh jika melacur.

Tak lama setelah Ia memberitahu beritanya kepada ku, bis yang ku tumpangi mulai kehilangan kendali. Suasana berubah total, dari yang tadinya hening, yang hanya terdengar suaranya saat Ia bercerita dan deru mesin, kini semua orang berteriak panik. Tergambar wajah ketakuatan dari setiap penumpang, keterkejutan, disaat sedang nikmatnya beristirahat. Kehilangan kendali yang berakhir terjun ke jurang. Dan saat Ku tersadar, Aku berada di bawah tempat tidur Ku, sambil Ku amati sekeliling Ku, yang ternyata kamar tidur Ku. (ad190103)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: