Masyarakat Indonesia Doyan Kekerasan

Kekerasan adalah hal yan bersifat keras atau perbuatan dari seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Definisi kekerasan tersebut berasal dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Betapa pun definisi tentang kekerasan tak ada satu pun yang terdengar “sejuk” ditelinga kita. Tindakan ini juga banyak dikecam baik itu oleh sesama manusia, negara, bahkan agama apapun. Tapi kenapa kita (yang katanya manusia beradab) banyak mengambil jalan ini dalam menyelesaikan masalah ?

Di negara kita yang “tercinta” ini hal kekerasan juga sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Sebagai analogi (gambaran) dapat terlihat dalam tayangan di  TV. Ya ! media ini, adalah media yang sangat dikagumi oleh manusia pada umumnya, karena melaui TV kita tidak hanya dapat mendapatkan informasi tapi juga hiburan-hiburan yang menarik, bahkan hiburan-hiburan yang dihadirkan menjurus kepada kekerasan.

Butuh bukti ? Lihatlah RCTI yang punya slogan “oke” banyak menayangkan hiburan yang mengandung kekerasan, seperti Smack Down yang “booming” beberapa waktu lalu, kita dapat dengan mudahnya melihat anak-anak yang “tak sungkan” meniru bintang pujaannya. Ditambah lagi tayangan yang berbaju “olah raga” seperti tinju, hampir setiap TV pasti ada tayangan ini, baik itu tingkat nasional, internasional dan bahkan yang ngga pernah tinju pun ditayangkan. Selain RCTI, TPI juga menyangkan program “kekerasan” -sekali lagi dengan kedok olah raga. Yaitu, Ultimate Fighting Championship, sebuah olah raga- katanya- tanpa peraturan yang jelas, dimana para petarung dapat dengan puas menggunakan cara apa p pun agar dapat mengalahkan atau kalau bisa “membunuh” lawannya. Pertarungan para “jagoan” ini juga mulai dari yang internasional sampai nasional, bahkan “tukang becak” pun dapat ikut asal dia punya sertifikat dari perguruan beladiri yang diikutinya.

Belum cukup sampai situ, di MTV yang katanya TV-nya “anak nongkrong” juga ada, namanya celebrity Deadmatch, acara ini juga banyak digemari oleh “anak nongkrong”. Selain itu, film-film yang ditayangkan juga berbau kekerasan, bahkan sinetron-sinetron banyak mengambil cerita rakyat yang penuh dengan pertarungan antar “pendekar”. Tiap hari hampir selalu ada, dan jam tayangnya pun prime time, dimana banyak orang yang “menikmatinya”. Mulai dari Nini Pelet, Mak Lampir, Angling Darma dan masih banyak lagi yang lain yang dapat ditonton secara bergilir setiap harinya dengan stasiun TV yang berbeda-beda. Protes tayangan anak juga tak kalah, nyaring banyak film kartun juga yang beraroma kekerasan, seperti Hunter Vs Hunter. Entah mulai kapan tayangan seperti ini menjamur dan “dinikmati” oleh khalayak ramai. Yang mengkhawatirkan adalah porsi tayangan tersebut yang semakin hari kian bertambah.

Diakui atau tdak tayangan-tayangan di atas cukup menarik, karena tayangan tersebut dikemas secara apik. Yang di takutkan adalah implikasi atau dampak yang terjadi akibat tayangan-tayangan tersebut. Karena kecenderungan “peniru” yang dimiliki oleh setiap manusia, akan semakin meresahkan, atau paling tidak akan terlihat kemungkinan peniruan yang ditonton kepada perilakunya sehari-hari.

Di kehidupan sosial sehari-hari pun kekerasan juga merajalela, mulai kerusuhan SARA di Ambon, kerusuhan Mei’98, Poso, Kalimantan dan menjamurnya tawuran warga baik masalah etnis atau hal-hal yang lain. Penghakiman massa yang berakibat tercabutnya nyawa pelaku kejahatan (padahal Cuma maling jemuran). Sekarang ini pun manusia tidak canggung lagi dengan tindak kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan, ambil contoh bagaimana aparat yang bertindak represif (menekan atau menindas) terhadap penghuni liar yang akan digusur. Juga perebutan hak milik tanah yang cenderung “memamerkan otot” dengan menyewa preman-preman. Juga merembes kepada tindakan kriminal dengan menggunakan kekerasan. Juga penghalauan demontrasi secara represif oleh aparat. Atau pun tindakan saudara-saudara kita yang cenderung menggunakan kekerasan dalam menegakkan Ammar Ma’ruf Nahi Mungkar, seperti penutupan tempat-tempat maksiat. Sekarang kita tidak lagi terheran-heran mendengar berita kriminal dimana pelakunya menggunakan senjata api dalam melakukan aksinya. Padahal dulu yang kita tahu, pemilik senjata api adalah tentara dan polisi.

Ketidakpuasan atas pemebritaan dari media juga dilakukan dengan bentuk kekerasan, seperti yang terjadi pada Majalah Tempo, baru-baru ini, belum yang lalu-lalu seperti yang terjadi pada wartawan harian Bernas. Jalan kekerasan akhir-akhir ini selau dijadikan ‘”solusi” yang mujarab bagi kebanyakan masyarakat.

Di atas adalah sedikit contoh tindak kekerasan yang “digemari” masyarakat, yang merupakan bentuk fenomena sosial yang terjadi pada masa kini.  Kita coba untuk telaah kembali awal kecenderungan dari kekerasan, berawal dari TV- yang mulai “senang” menyangkan adegan kekerasan pasca kerusuhan Mei 1998- atau dari perilaku masyarakat yang mulai ” asik dengan tindak kekerasan dalam penyelesaian masalahnya. Keduanya timbul hampir secara bersamaan, entah TV yang “cukup cerdik” dalam memenuhi selera pasar atau perilaku masyrakat yang “memang doyan” kekerasan. Tapi yang jelas tayangan yang ditonton dapat menjadi cerminan dari perilaku atau pun sebaliknya perilaku dapat menjadi cerminan tayangan yang ditonton.

Walau bagaimana pun kita tidak dapat seenaknya menyalahkan tayangan di TV karena “secara jujur” kita pun menggemarinya. Yang jelas adalah perubahan perilaku kita, dan juga filterisasi (penyaringan) terhadap apa yang di tonton, tidak hanya pada anak-anak saja tapi juga kaum remaja bahkan dewasa, karena pelaku kekerasan justru banyak dari kalangan yang menganggap dirinya sudah dewasa. Lebih ironis lagi kampanye perdamaian justru dikumandangkan oleh tentara yang terkenal dengan sejarah kekerasannya, dengan spanduk-spanduk kedamaiannya.

Budaya kita bukanlah budaya kekerasan seperti yang dimiliki orang bar-bar, akan menjadi ironis jika kita mengaku sebagai orang modern tapi perilaku kita tak ada bedanya dengan orang bar-bar. Mulai sekaranglah kita mencoba untuk merubah perilaku kekerasan kita, dan saling mengingatkan sesama akan tindak kekerasan. Dengan jujur kita akui kalau slogan yang ada dalam spanduk tentara itu benar “DAMAI ITU INDAH”.

Mulai dengan menggunakan dialog sebagai langkah dalam penyelesaian masalah yang terjadi. Dengan catatan dialog yang dilakukan juga disertai kejujuran bagi pihak-pihak yang bermasalah. Kabesaran hati, sikap mau menerima dan toleransi sangat dibutuhkan dalam melakukan dialog. Dialog akan “melahirkan” win-win solution bagi kedua pihak jika dialog yang terjadi berlangsung adil.

Tulisan ini juga adalah sebagai bentuk nyata dari kampanye “ANTI KEKERASAN”. Marilah kita secara bersama dengan semangat gotong royong (yang juga sudah mulai ditinggalkan karena identik dengan orba, padahal budaya yang baik) kita hapus KEKERASAN dimuka bumi ini dan menciptakan perdamaian yang berawal dari lingkungan kita hingga tercapai cita-cita bersama kedamaian dimuka bumi. Karena pada dasarnya “KELERASAN BUKAN SOLUSI”. Salam Damai (ad080403)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: