Mewujudkan Setengah Kemerdekaan Lagi

Merdeka adalah bebas, lepas dari tuntutan dan tidak bergantung pada pihak tertentu. Kemerdekaan adalah sebuah keadaan yang merdeka atau keadaan yang lepas dari tuntutan dan tidak bergantung pada pihak tertentu.

Berbicara kemerdekaan sangatlah luas, tapi disini lebih berbicara tentang kemerdekaan bangsa. Yang akan diperingati pada bulan Agustus ini. Bagi setiap bangsa terjajah pasti memiliki hari kemerdekaan, termasuk bangsa Indonesia. Yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945, dan pada setiap tahunnya selalu diperingati dengan berbagai acara.

Untuk dapat mendeklarasikan kemerdekaan, bangsa Indonesia mengalami perjalanan panjang. Yang menurut catatan sejarah, 350 tahun dijajah oleh bangsa Belanda dan 3,5 tahun oleh bangsa Jepang. Dan pada akhirnya dipilihlah tanggal 17 Agustus sebagai hari pendeklarasian bangsa Indonesia. Walau desakan untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan telah muncul tiga bulan sebelumnya, terutama desakan dari kaum muda, yang menganggap Jepang telah lemah setelah negaranya di bom oleh sekutu.

Sebuah perjalanan yang sangat panjang, 3,5 abad lebih atau sekitar lima generasi, bangsa Indonesia berada dalam jajahan bangsa lain. Nyawa, mental dan materiil serta masih banyak yang lain, yang telah menjadi korban akibat terjajah oleh bangsa “asing”. Bagi mereka yang berkorban, jelas bukanlah suatu pengorbanan yang sia-sia, karena akhirnya bangsa Indonesia dapat “menghirup”  kemerdekaan.

Tahun demi tahun terus berlalu, dan pada tahun ini, kemerdekaan bangsa Indonesia telah menginjak keusia 58 tahun. Jika diukur dengan usia manusia, usia 58 tahun adalah usia yang telah matang. Namun hal ini jelas berbeda, karena masa “hidup” negara tidaklah sesingkat manusia. Amerika saja telah berusia ratusan tahun usia kemerdekaannnya. Maka dari itu, dibentuklah sebuah pemerintahan yang salah satunya bertugas untuk mengelola negara agar tetap “hidup” dan dapat “dinikmati” oleh generasi-generasi penerus.

Kembali lagi ke dalam masalah kemerdekaan. Yang telah didefinisikan pada awal tulisan. Suatu keadaan yang lepas dari tuntutan dan tidak bergantung pada pihak lain. Secara jujur kita harus akui, kemerdekaan yang hakiki dan sesuai dengan apa yang telah didefinisikan sebelumnya, sangatlah sulit untuk tercipta-untuk lebih sopan dengan tidak mengatakan mustahil.

Terlihat sebuah pandangan pesimistis dalam kalimat diatas. Namun sebenarnya tidak, karena hal tersebut adalah kenyataan yang terjadi. Merdeka yang telah bangsa ini alami adalah secara militer atau fisik namun tidak dalam hal lain. Sedikit contoh, masih adanya tekanan dari bangsa lain atau intervensi dari pihak lain dalam proses pengelolaan negara.

Tekanan-tekanan tersebut datangnya dari negara-negara besar, yang mempengaruhi kebijakan dari bangsa Indonesia. Sebagai contoh, adalah dalam hal penanganan terorisme, pemisahan Timor Timur yang diikut campuri oleh Autralia dan banyak hal lain yang tak muncul kepermukaan. Ketergantungan kepada pihak lain juga masih terasa, salah satunya lewat utang luar negeri sebagai pembiayaan bagi bangsa ini. Tidak dipungkiri, ketergantungan dan intervensi terhadap IMF dan lembaga keuangan dunia lainnya-walau bukan merupakan sebuah bangsa- juga sangat terasa dalam “hidup” bangsa ini.

Namun bangsa, layaknya seperti manusia-sebagai mahluk sosial. Tentu tidak bisa mengabaikan keberadaan bangsa lain yang juga “hidup” di dunia ini. Indonesia “hidup” berdampingan dengan negara lain di dunia ini, tentu membutuhkan interaksi dengan bangsa atau pihak lain. Hubungan kerjasama haruslah dibina dan dikembangkan dengan tujuan kemakmuran dan kelangsungan “hidup” bangsa Indonesia.

Selain hubungan antar negara, juga ada organisasi atau badan-wadah hubungan anatar bangsa- yang diciptakan untuk membina dan mengembangkan hubungan itu tadi. Sebagai salah satu warga dunia, Indonesia tentu “wajib” bergabung didalamnya. Hubungan-hubungan yang terjadi ini, ditujukan untuk menciptakan sebuah keteraturan dunia dan saling “tolong menolong” antar negara, yang akhirnya mewujudkan kemakmuran bagi dunia, bukan bagi masing-masing bangsa lagi.

Dalam hubungan-hubungan antar bangsa di atas, tentu ada saling ketergantungan diantaranya. Baik dalam hubungan atau kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya. Namun yang perlu ditegaskan disini aalah pemisahan antara mana “ketergantungan” yang dibutuhkan dalam hubungan atau kerjasama dengan “ketergantungan” pada pihak lain yang membuat bangsa ini kembali seperti “terjajah”.

Sebagai bangsa yang merdeka, tentunya bangsa Indonesia haruslah berusaha mandiri dalam mengatur “kehidupan” dalam negerinya. Dan juga memiliki wibawa dalam hubungan keluar, sehingga tidak melulu dalam posisi yang lemah dan akhirnya selalu berada dalam posisi “kalah”. Hubungan yang tercipta haruslah menghasilkan sebuah “win-win’” bagi kedua pihak.

Hal-hal diatas adalah sebuah salah satu bentuk-bentuk ideal dan harapan bagi bangsa yang merdeka. Belum semuanya dapat tercapai oleh bangsa ini. Dan untk menciptakannya tidak cuma oleh pemerintah tapi juga oleh seluruh pihak yang tercakup dalam bangsa, yang diantaranya adalah rakyat. Kerjasama pihak pengelola-pemerintah-dan yang dikelola-rakyat, tentu adalah hal yang terutama dan penting dalam mewujudkan harapan dan bentuk yang ideal tersebut.

Sebagai bangsa yang besar, tentu haruslah memililki pandangan yang optimis dalam menatapkan ke depan dan menggapai cita-cita yang telah disepakati bersama, merdeka, adil dan makmur bagi semua. Namun, optimisme tersebut juga harus dijaga oleh pandangan yang realistis, agar tidak hanya menjadi sebuah utopia saja.

Tanpa mengurangi rasa hormat, dan mengabaikan jasa pahalawan, para pahlawan yang telah berkorban telah berhasil mewujudkan “setengah dari kemerdekaan” dan generasi sekarang dituntut untuk mewujudkan yang setengah lagi. Tentu kita tidak mengharapakan pengorbanan mereka sia-sia, karena salah satu cita-cita mereka adalah, agar kita dapat merasakan “hidup” sebagai negara yang merdeka.

Tugas yang telah menantang dihadapan sekarang ini adalah mewujudkan Indonesia Merdeka dari penyelewengan, kesengsaraan, keserakahan, rasa dendam, kesewenangan, ketakutan, keterbelakangan demi masa depan yang lebih bermanfaat (Cak Nur). MERDEKA, MERDEKA,MERDEKA……Wassalam. (ad170803)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: