Orang Kaya Kok Disantuni ??

Dengan adanya televisi dewasa ini kita bisa melihat “apa saja”, kita bisa mengetahui segala sesuatunya. Fenomena atau peristiwa yang akahir-akhir ini kita bisa saksikan di televisi adalah ramainya penggusuran, terhadap mereka para penghuni “liar” kota Jakarta.  Ketidak legalan atas kepemilikan wilayah tempat tinggal yang mengakibatkan mereka digusur.

Tidak cukupnya uang yang mereka miliki yang akhirnya mereka menempuh jalan tersebut. Begitu mahalnya harga tanah sehingga mereka tidak mampu membelinya atau mendapatkan yang legal. Pada akhirnya untuk mendapatkan tempat tinggal, mereka “memanfaatkan” lahan tidur yang “tersedia” untuk dibangun tempat tinggal.

Di sisi lain, juga di televisi, kita dapat melihat begitu banyaknya, maraknya dan gegap gempitanya iklan yang ditayangkan di televisi. Iklan-iklan tersebut berisikan promosi yang dilakukan oleh bank, dengan memberikan banyak hadiah untuk menarik nasabah bagi bank tersebut. Hadiahnya berupa-rupa bentuknya, mulai dari yang berbentuk tabungan sampai rumah mewah dan mobil yang juga mewah. Ada yang diberikan secara langsung-biasanya berbentuk souvenir- dan ada yang melalui undian. Jumlahnya pun mencengangkan dan menggiurkan manusia, mencapai milyaran rupiah.

Jika memperhatikan gambaran di atas cukup ironis. Begini, secara normal penghasilan dari seseorang biasanya akan dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama, adalah untuk konsumsi, pada bagian ini penghasilan yang didapat digunakan pemiliknya untuk melakukan konsumsi. Seperti memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada bagian yang kedua, biasanya penghasilan yang didapat disisihkan oleh pemiliknya di luar bagian konsumsi. Tujuannya untuk digunakan sebagai bentuk berjaga-jaga, jika ada kebutuhan mendadak yang membutuhkan jumlah uang yang relatif besar. Uang yang disisihkan ini biasanya disimpan di bank, tempat yang relatif lebih aman dan selain itu dapat menghasilkan uang tambahan yang dihasilkan dari bunganya, di bandingkan jika hanya disimpan di bawah kasur.

Dapat dikatakan mereka yang menggunakan jasa dari bank telah relatif sejahtera. Karena mampu menyisihkan penghasilannya di luar konsumsinya. Dengan kata lain, mereka memiliki penghasilan lebih di atas konsumsi kebutuhan sehari-harinya. Lain halnya yang terjadi pada korban penggusuran-yang nota benenya penduduk miskin kota, dan juga penduduk miskin kota yang lain, yang belum terkena atau tidak kena penggusuran.

Bagi mereka jangankan menyisihkan penghasilan untuk ditabung, untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan saja sudah kembang kempis. Untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak dan legal apalagi, mungkin jauh dari bayangan mereka. Sebab itulah mereka menempati lahan tidur sebagai tempat tinggalnya, karena tidak membutuhkan banyak uang untuk tinggal di tempat itu.

Padahal kebutuhan pokok merupakan hanya sebagian saja dari konsumsi, itu saja sudah “empot-empotan” untuk memenuhinya. Sungguh ironis jika kita melihat iklan promosi televisi dari bank. Untuk mendapatkan peluang lebih besar mendapat hadiah nasabah di pacu untuk menabung dalam jumlah yang lebih banyak. Karena biasanya pihak bank menggunakan sistem poin, dimana setiap poinnya merupakan kelipatan dari jumlah nominal tersebut (contoh, Rp. 500.000 untuk 1 poin). Semakin banyak poin semakin besar peluangnya. Semakin banyak poin yang diterima semakin besar uang yang harus dismpan di bank.

Barang tentu hanya orang-orang kaya saja yang dapat melakukan hal tersebut. Kondisi ini malah semakin menjadikan orang kaya semakin makmur dan orang miskin semakin tidak ketahuan nasibnya. Orang kaya disantuni, itulah yang terjadi. Bukankah mereka yang terkena gusur yang harus disantuni? Tidakkah sebaiknya, hadiah total puluhan milyar itu, digunakan bagi pembangunan perumahan dan pemberdayaan bagi penduduk miskin kota? Bukankah “uang santunan” itu lebig baik diberikan kepada mereka yang wajib disantuni? Atau lebih baik buat bayar utang negara ini?

Jurang perbedaan dibiarkan semakin mengangajika kita perhatikan kondisi yang terjadi. Padahal bank-bank tersebut masih menyisakan kewajiban (obligasi rekap). Bank-bank tersebut masih bisa hidup karena adanya obligasi rekap. Jika obligasi rekap itu dicabut entah seperti apa “raut wajah” bank-bank tersebut.

Di satu sisi, dapat dipahami usaha promosi bank-bank itu untuk menarik nasabah. Karena secara normal, bank “hidup” dengan uang nasabah yang mereka kelola. Tapi “mbok ya tengak-tengok kiri-kanan”, melihat kondisi dan kenyataan yang ada disekitarnya. Mungkin saja disebelah gedung bank terdapat perumahan padat dan kumuh, tempat tinggal penduduk miskin. Apakah bank-bank itu tidak “menengok” ke sebelah?

Banyak hal mungkin yang lebih bermanfaat yang dapat diciptakan dari uang tersebut. Dapat digunakan lebih “tepat” lagi dibanding hanya “disebar” begitu saja. Misalnya, bank memberikan kredit lunak atau super lunak, dimana bunga yang ditetapkan sangat rendah atau mungki lebih “mulia lagi tanpa bunga. Kredit tersebut disalurkan bagi penduduk miskin kota, untuk digunakan sebagai modal usaha. Jika sulit, karena untuk membuka usaha butuh “keahlian” lain dan memiliki jiwa yang ulet dan takut dibawa “kabur” kredit tersebut, perusahaan dapat mendidirikan perusahaan.

Perusahaan yang dibuat mungkin dapat bekerjasama dengan pihak lain, baik swasta atau pemerintah. Tujuannya adalah menampung atau menciptakan peluang kerja bagi penduduk miskin. Usaha tersebut tidak perlu yang berteknologi tinggi atau padat modal. Karena dengan teknologi yang tinggi harus diperlukan skill (keahlian) tambahan, yang mungkin tidak memiliki skill yang dibutuhkan dari perusahaan yang berteknologi tinggi tersebut. Atau dengan kata lain, perusahaan tersebut menyesuaikan kondisi skill dari pekerjanya. Contohnya, pabrik tempe tahu, pembuatan kerupuk atau pembuatan roti.

Diharapkan penduduk miskin itu dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Dengan meningkatnya kesejahteraan penduduk miskin diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan lebih “aman” dan mendirikan tempat tinggal yang layak di atas wilayah yang legal. Dengan kondisi ini, penggusuran akan lenyap dari Jakarta.

Tidak mudah memang dan tidak dengan sekejap perubahan tersebut terjadi. Tapi jika ada niat dan usaha ke arah tersebut bukan tak mungkin perubahan yang diharapkan  dapat terjadi. Bukankah ini lebih bermanfaat dari pada hanya “menyantuni” orang kaya saja ? Wallahualam (ad101003)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: