Pakai Kekerasan Basmi Maksiat..?

Beberapa bulan yang lalu, khususnya sebelum bulan suci Ramadhan tiba, marak terjadi aksi kekerasan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI). Tujuan mereka adalah menutup tempat-tempat maksiat yang ada, terutama yang telah mereka beri peringatan. Aksi mereka menggunakan dalih “amar ma’ruf nahi mungkar” (mengajak kebaikan dan mencegah keburukan-red). Dalam aksinya, FPI cenderung menggunakan kekerasan untuk menutup tempat-tempat yang mereka anggap “sarang maksiat”. Bentuk aksi ini juga merupakan ungkapan kekecewaan terhadap aparat penegak hukum dalam menegakkan hukum, sehingga mereka melakukan aksi sepihak atau cenderung “main hakim sendiri”. Bahkan tak jarang sampai menimbulkan korban luka-luka.

Bila melihat hal di atas terasa sangat mengerikan dan memprihatinkan, seakan hal diatas adalah gambaran wajah dari umat Islam di Indonesia, yang terkesan “menyukai” kekerasan. Padahal adalah hal yang sebaliknya yang terkandung dalam ajaran agama Islam, yang lebih merupakan agama kedamaian. Yang punya tujuan akhir yaitu menciptakan kemslahatan umat.

Dalam membasmi kemaksiatan atau lebih tepatnya menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar ada rujukan yang berupa hadist, yang berbunyi ” Basmilah dengan tangan mu bila tidak mampu dengan lisan mu dan bila tidak mampu dengan hati mu “. Hadist ini yang menjadi dasar tindakan dari saudara-saudara kita (FPI) dalam melaksanakan aksinya. Mereka menganggap mampu dengan tangannya, maka beraksilah mereka tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi.

Bukannya tidak setuju atas tindakan penutupan tempat maksiat tersebut, tapi cara yang digunakanlah yang menjadi pertanyaan dan menyebabkan kekhawatiran sehingga meresahkan warga. Apalagi saudara-saudara kita itu juga dengan gencar memperjuangkan penegakan syariat Islam di Indonesia. Ini yang menjadi sedikit masalah, karena aksi mereka yang cenderung menggunakan kekerasan sehingga akan timbul gambaran atau wajah Islam yang “keras” yang jauh dari kedamaian.

Hal ini paling tidak akan menimbulkan penolakan, yang bahkan datangnya dari sesama muslim. Lepas dari penegakan syariat Islam, tindakan saudara-saudara muslim tersebut adalah tindakan yang melanggar “aturan” karena terkesan main hakim sendiri. Padahal di Indonesia, sebagai negara telah memiliki alat-alat untuk penegakan hukum, seperti aparat penegak hukum.

Boleh kita kecewa terhadap mereka, aparat penegak hukum. Karena dengan jujur, kinerja mereka jauh dari baik. Kelambanan dalam menjalankan tugasnya, berbelitnya prosedur birokrasi, sampai keterlibatan mereka dalam pengelolaan tempat maksiat.

Tapi semua itu pastilah ada jalan lain, selain dengan kekerasan untuk “memperbaiki”. Sebaiknya untuk menyelesaikan masalah adalah temukan dahulu solusinya. Seperti tempat maksiat, walau pun maksiat, kita tidak seenaknya tutup mata karena di dalamnya banyak orang yang bergantung untuk mencari nafkah di tempat itu, bahkan tak sedikit juga saudara-saudara kita sesama muslim.

Sebuah jalan keluar atau solusi lah yang dibutuhkan. Seandainya tempat-tempat tersebut ditutup dan para pekerja tidak diberikan alternatif untuk mencari nafkah lewat jalan lain maka akan menimbulkan permasalahan baru, yaitu bertambahnya tingkat pengangguran dan akan mendorong meningkatnya tingkat kriminalitas, karena kesulitan untuk “mencari makan”.

Tentu kita tidak mau hal itu terjadi, sekarang saja tingkat kriminalitas berdasarkan data statistik Polri meningkat lebih dari 100%. Alangkah baik dan bijaksananya, jika kita semua sesama saudara umat manusia, secara bersama menemukan jalan keluar, sehingga penutupan tempat maksiat itu terasa lebih “sopan”.

Kalau boleh ikut “urun rembuk”, solusi yang mungkin agak klise, yaitu membuka lapangan kerja untuk bekas pekerja yang menggantungkan huidupnya pada tempat maksiat agar mereka masih dapat bertahan hidup. Dan yang tak kalah penting tugas kita semua intensifkan media dakwah yang mengajak untuk menjauhi kemaksiatan. Karena pada dasarnya jika tak ada “pelanggan” maka akan dengan sendirinya tempat tersebut akan tutup karena sepi pengunjung.

Atau jalan lainnya yang terasa lebih “sopan”, yang bisa kita pecahkan bersama. Menunjukkan wajah Islam yang “damai” adalah tugas kita untuk mencapai cita-cita menciptakan kemslahatan umat. Wallahu ‘alam (ad160103)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: