Punya kekuasaan, jadi korupsi…

Judul di atas di ambil dari sebuah adagium atau sebuah peribahasa yang sudah terkenal, “kekuasaan yang mutlak akan melahirkan korupsi yang mutlak”. Hal ini secara empiris atau berdasarkan pengalaman sudah banyak terjadi. Sebagai contoh, di era orde baru, dimana kekuasaan mutlak berada di tangan seorang Suharto dan kita dapat melihatnya sendiri bagaimana beliau beserta keluarga dan kroninya berpesta pora melakukan korupsi.

Contoh lain yang terjadi adalah di era saat ini yang banyak dikatakan sebagai era reformasi, juga banyak terjadi korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang baru memegang kekuasaan, seperti anggota-anggota dewan yang pada pemilu 1999 baru terpilih dan menikmati empuk dan basahnya kursi dewan legislatif. Atau pada jabatan-jabatan lain yang diisi orang-orang baru. Dimana semula orang-orang tersebut diharapkan membawa perubahan yang menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih baik, tapi malah melenceng entah kemana. Atau dengan kata lain tidak sesuai dengan salah satu tuntutan reformasi, yaitu memberantas KKN.

Apa hubungan antara korupsi dengan kekuasaan? Sangat jelas antara kekuasaan dan korupsi memiliki hubungan yang “erat”. Karena dengan dipegangnya atau dikuasainya sebuah kekuasaan maka akan “melahirkan” sebuah kesempatan. Kesempatan didapat dari besarnya kewengan dari orang yang memiliki kekuaasan tersebut. Kesempatan yang dimaksud adalah kesempatan untuk korupsi. Dan korupsi disini tidaklah sebatas korupsi uang saja, tapi juga segala bentuk penyelewengan.

Kenapa kesempatan begitu berarti? Tanpa ada kesempatan dan peluang tentu kita tidak dapat berbuat sesuatu. Sebuah kesempatan tidak “melekat” begitu saja pada setiap orang. Sebagai contoh, di negeri tidak banyak yang memiliki kesempatan untuk dapat melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi, mungkin karena keterbatasan biaya atau hal lainnya.

Kembali kepada pokok permasalahan, kekuasaan memiliki kewenangan, kewenangan menciptakan kesempatan dan peluang, dan kesempatan dan peluang yang dimaksud adalah kesempatan untuk korupsi inilah yang pada akhirnya digunakan oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Jadi kalau begitu hapus saja “kekuasaan” dari muka bumi ini, agar tak terjadi korupsi!

Tentu tidak bisa begitu saja, bukan kekuasaan yang harus dihapus. Karena korupsi yang disebabkan oleh adanya kekuasaan bisa saja tak terjadi. Ada faktor-faktor yang menentukan disini, sedikitnya ada dua faktor yang coba diketengahkan. Pertama, si empunya kekuasaan, jika si pemilik kekuasaan tersebut memiliki keimanan yang kuat atas keyakinannya, korupsi mustahil terjadi. Karena, bentuk keyakinan apapun tidak ada yang mengizinkan penganutnya untuk melakukan korupsi. Selain memiliki keimanan yang kuat, se pemilik kekuasaan juga memiliki integritas dan kejujuran yang kuat, dimana hal tersebut merupakan faktor turunan dari adanya keimanan yang kuat dari seseorang.

Yang kedua adalah sistemnya, dimana sistem didesign sedemikian rupa sehingga menutup kesempatan bagi terjadinya korupsi. Sistem bagaimana yang didesign untuk menutup kesempatan untuk korupsi? Yang jelas bahwa tidak ada kepemilikan kekuasaan yang absolut atau mutlak. Sistem tersebut harus memberikan ruang bagi adanya pengawasan dan supervisi yang ketat terhadap penggunaan kekuasaan.

Harus tercipta sebuah mekanisme check and balances-istilah yang digembar-gemborkan oleh Cak Nur. Syarat bagi terbentuknya sebuah tatanan demokrasi adalah adanya mekanisme check and balances tersebut, atau adanya kekuatan pengimbang. Dengan adanya mekanisme ini ada pihak lain, di luar pemegang kekuasaan, yang melakukan pengawasaan dan supervisi terhadap penggunaan kekuasaan tersebut. Sehingga dengan adanya check and balances tersebut dapat meminimalkan penyalahgunaan wewenang atau juga yang disebut korupsi oleh si pemilik kekuasaan.

Jika kita melihat sistem pemerintahan saat ini sebenarnya sudah baik, namun pelaksanaanya saja yang masih berantakan. Pemisahan antara kekuatan ekskutif sebagai pelaksana, legislatif sebagai pengawasan dan yudikatif sebagai “pemberi” hukuman, adalah bentuk yang ideal, paling tidak sampai saat ini. Implementasi yang idealnya adalah antara ketiga “kekuatan” tersebut saling “bertempur” sesuai dengan masing-masing kewenangan yang dimilikinya sehingga nantinya akan tertutup kesempatan-kesempatan berbuat korupsi.

Namun, yang terjadi adalah adanya interaksi simbiosis mutualisme antar ketiga “kekuatan” tersebut, interaksi yang saling menguntungkan antar “kekuatan” untuk saling dapat melakukan korupsi. Di sini lah fungsi dari masyarakat untuk melakukan mekanisme check and balances atau berperan sebagai kekuatan pengimbang, setelah tak jalannya fungsi check and balances di atas. Namun juga sayang, masyarakat juga banyak yang nyemplung ikut berkorupsi ria dengan kekuasaan yang terbatas yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Inti dari semuanya adalah harus, wajib dan fardhu hukumnya ada mekanisme check and balances, sebagai kekuatan pengimbang, untuk meminimalkan penyalahgunaan wewenang. Ini bukan hanya terjadi pada tataran ketatanegaraan saja, tapi disetiap bentuk atau lingkup, sehingga nantinya tidak ada pemegang kekuasaan mutlak, dimana akan dengan sangat mudahnya bertindak korup dengan “senjata” wewenang. Perlu ditekan lagi bahwa selain harus adanya check and balances juga harus ada manusia-manusia yang beriman, karena keduanya, antara manusia dan sistem (check and balances) adalah faktor yang saling melengkapi, tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Bukankah Allah menciptakan di dunia ini dengan mekanisme keseimbangan dan saling melengkapi ? Ada jahat ada baik, ada laki ada perempuan, ada gembira ada sedih, ada gula ada semut……Wassalam. (ad140404)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: