SECUIL RAHASIA 11 SEPTEMBER

Bencana 11 September merupakan suatu tragedy yang memilukan bagi umat menusia di dunia. Dimana tragedy itu banyak menelan korban. Ada beberapa opini bahkan tuduhan yang muncul pasca  terjadinya tragedy ini.

Opini, tuduhan dan propaganda semuanya menyudutkan kepada Usama Bin Laden dengan Al-Qaidahnya bahkan juga umat Islam, walaupun tanpa bukti yang memadai. Tidak adil bagi Amerika yang nota benenya negara yang menganggap dirinya maju dan terkenal dengan penegakan supremasi hukumnya-dibandingkan dengan negara Indonesia-melakukan tuduhan tanpa bukti yang shahih.

Padahal dalam prosedur hukumnya untuk sebuah tuduhan HARUSLAH di kuatkan dengan bukti yang kuat.

Untuk menandingi opini-opini yang datangnya dari satu pihak, kali ini akan coba di buka kejanggalan-kejanggalan yang terjadi seputar tragedy 11 September.

Kejanggalan-kejanggalan ini diungkap oleh Andreas Broeckers dalam bukunya Verschwoerungen, Verschwourungen rungstheorien und Geheimnisse dess 11.9 (Konspirasi, Teori Konspirasi dan Rahasia 11 September). Dalam bukunya berisikan hal antara lain :

Tahukah Anda kakek Prescott Bush mendanai dan mendukung Hitler, sebelum Hitler dilibas tentara AS. Anaknya, George Bush, saat menjadi orang nomor satu di CIA, mempersenjatai Saddam Husein, untuk kemudian sebagai PresidenAS menghajarnya dalam Perang Teluk.

Perusahaan pertama milik cucunya, George W Bush yang kini PresidenAS, ternyata memperoleh penghasilan dari berdagang dengan keluarga Usama Bin Laden. Usama Bin Laden sendiri adalah produk intelejen AS yang didukung penuh sebagai kelompok terror melawan Uni Soviet di Afganistan.

Pada Januari 2001 pemerintahan Bush, yang baru dibentuk, melarang FBI dan CIA menyidik klan Bin Laden. Menurut harian Prancis Le Figaro, pada Juli 2001, utusan CIA menjenguk Bin Laden yang dirawat di rumah sakit AS di Dubai.

Simak pula data ini, Jendral Mahmud Ahmed, Kepala Dinas Intelejen Pakistan (ISI), yang berkolaburasi dengan CIA pada Juli 2001mentransfer uang 100 ribu dollar kepada “pilot teroris” Muhammad Att.

Dari tanggal 4 hingga 19 September 2001, Mahmud Ahmed melakukan kunjungan resmi ke AS dengan tujuan “pembicaraan tentang Taliban”. Pada tanggal 11 September 2001 ia bersantai makan pago di Capitiol Hill dengan dua orang ketua divisi intelejen AS.

Pada hari itu, meski Komandan Angkatan Udara AS mengetahui pembajakan empat pesawat yang melaju mendekatai daerah larang terbang, toh dibutuhkan waktu lebih dari 75 menit sebelum pesawat pemburu diizinkan lepas landas guna menghalang-halangi keempat “pesawat teroris” itu.

Dalam beberapqa informasi ini Broeckers mengajukan banyak pertanyaan. Mengapa hubungan radio dengan dengan menara dan informasi dari kotak hitam tidak dipublikasikan? Mengapa nama 19 pembajak tak ditemukan dalam daftar penumpang? Mengapa lima tersangka ternyata dalam keadan sehat wal afiat? Mengapa tidak ada foto atau video yang merekam bangkai pesawat yang dikabarkan menghujam Pentagon? Mengapa pula bangkai pesawat lainnya berserakan dengan jarak puluhan mil satu dari lainnya? Apakah pesawat itu justru jatuh akibat ditembak?

Lalu, apa alasan pengunduran diri John O’Neil sebagai ketua tim penyidik Bin Laden, delapan pekan sebelum 11 September? Apa saja hubungan bisnis langsung keluarga Bush dengan Bin Laden? Kepentingan bisnis apa yang dimiliki Halliburton, perusahaan milik Wapres Dick Cheney, dalam proyek pipa gas di Afganistan? Mengapa pada Juli 2001 dilakukan perundingan rahasia dengan pemerintah Taliban tentang pembangunan saluran gas itu?

Mengapa penyidikan FBI terhadap beberapa siswa sekolah penerbangan yang dicurigai dihentikan oleh Gedung Putih? Mengapa Bush dan Cheney menekan pimpinan oposisi Dashley, untuk menghindari rencana Kongres melakukan “penelitian mendalam” terhadap peristiwa 11 September.

Broeckers juga mengungkapkan kemiripan antara serangan terhadap Pearl Harbor dengan peristiwa 11 September. Seorang sejarawan menyatakan, sejak awal Presiden Roosevelt mengetahui rencana serangan itu. Bahkan, konon memprovokasi Jepang untuk menyerang Pearl Habor agar dia punya legitimasi untuk terlibat dalam Perang Dunia II. Sebelumnya, Mayoitas rakyat AS (88 persen) tidak setuju dengan keterlibatan AS dalam PD II.

Sejumlah pertanyaan diajukan Brockers di atas mengindikasi bahwa pemerintahan Bush sesungguhnya mengetahui atau bahkan memprovokasi peristiwa 11 September. Namun, pemerintahan Bush membiarkan karena dengan adanya serangan 11 September, dia punya legitimasi untuk memerangi “terorisisme Internasional”. Tanpanya, mayoritas rakyat AS barangkali tidak menyetujiuinya.

Bagaimana kita menyikapi hal-hal di atas? Sebuah pernyataan yang ditulis orang bule yang mungkin lebih obyektif karena latar belakangnya yang non Muslim, tetapi meragukan tindakan AS. Hal ini juga counter opinion yang dilakukan oleh orang bule atas segala opini dari AS.

Sekali lagi tulisan dimaksudkan sebagai penanding opini dan tuduhan dari AS, sehingga kita tidak terbawa bahkan terbentuk kedalam Maistream dari mereka. Dan juga sebuah pengayaan wawasan terhadap apa yang terjadi pada peristiwa 11 September. (ad281002)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: