SENJA DI PAGI HARI

Pagi ini seperti biasa, seperti pagi yang lain, walau tidak akan pernah sama antara pagi saat ini dengan pagi yang kemaren. Matahari tetap dengan ikhlasnya, membagikan sinar kepada seluruh mahluk hidup atau apa pun yang ada di jagat ini. Pernah kah terpikir olehnya untuk libur bersinar sehari saja. Mesin saja butuh istirahat agar tidak rusak, apalagi manusia mahluk yang paling banyak keinginannya, sangat butuh libur agar bisa lepas dari kegiatan yang membuatnya jemu. Itu lah kelebihan matahari sebagai ciptaan-Nya, tidak butuh apapun, tidak banyak menuntut hak, kewajiban yang terus dilakukannya. Tidak seperti manusia, menuntut hak yang melebihi dari seharusnya dan tidak menghiraukan kewajibannya.

Apa jadinya jika matahari libur sehari saja. Tidak ada yang bisa bangun pagi, karena matahari adalah penunjuk waktu disaat pagi hari tiba. Dunia ini akan terus berada dalam kegelapan, ada matahari saja dunia ini berada dalam kegelapan, yang diakibatkan oleh ulah mahluk yang ditakdirkan sebagai khalifah di muka bumi. Banyak yang menyimbolkan matahari sebagai sumber kekuatan, sebagai sebuah harapan atau sebagai sebuah semangat. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai tuhan. Padahal matahari merupakan ciptaan Tuhan, tapi kenapa mereka lebih memilih menyembah kepada Ciptaan-Nya dari pada yang menciptakan.

Tetaplah bersinar wahai matahari. Matahari, siapa yang dapat menciptanya pastilah istimewa. Sinar yang diberikan sungguh sangat tak terhingga, sampai saat ini adakah khalifah yang menciptakan benda yang mampu menerangi jagat raya. Lampu, benda yang diciptakan oleh khalifah tak mampu menandingi tangguhnya matahari. Lampu hanya dapat menyinari sebagian kecil ranah jagat saja, sungguh terbatas. Ciptaan yang terbatas, sesuai dengan kodratnya sebagai mahluk yang terbatas, tapi para khalifah selalu mempunyai keinginan yang tak terbatas. Karena matahari lah lampu itu ada. Karena matahari harus bergantian menyinari belahan jagat yang lain, sehingga ia harus meninggalkan belahan yang satu untuk menuju yang lain secara bergilir. Untuk mengganti sinarnya yang menghilang untuk sementar, lampu akan terasa sangat berguna, dibutuhkan banyak sekali untuk dapat menggantikannya, walau langit tak mendapat sinarnya.

Selain matahari, kicau burung selalu menemani pagi, walau suaranya tak seramai dahulu kala. Karena mereka, para burung mulai tersingkir dari kehidupan juga akibat ulah khalifah bumi. Diburu, ditangkap kemudian dijual atau dipelihara dan diciptakan lingkungan yang tidak sehat buat burung sehingga membuat eksistensi dari burung pun lama kelamaan berkurang dan terus berkurang.    Simponi yang indah sudah tidak lagi terdengar, karena yang bernyanyi hanya lah satu jenis burung saja, burung gereja. Akhirnya makin banyak manusia yang memelihara burung agar mereka dapat tetap mendengar nyanyian-nyanyiannya.

Tak ada kesalahan yang dibuat burung-burung itu terhadap alam dan para khalifah. Ia bertindak sesuai kodrat yang digariskan, ia hanya hidup, dan nanti akan mati. Tak salah saja mereka harus punah, bagaimana jika mereka merugikan para kahlifah muka bumi.

Pagi yang selalu menebar udara segar, udara yang akan kembali diracuni oleh ulah khalifah di muka bumi. Sedikit saja mereka yang dapat menikmati udara pagi yang segar. Beruntung lah para khalifah muka bumi dengan masih adanya pagi, karena dengan adanya pagi para khalifah masih dapat menikmati udara segar.

Udara, zat yang tak berwujud yang sangat dibutuhkan oleh para khalifah untuk tetap dapat menikmati keindahan dunia, walau yang sering terasa bukan keindahannya tapi kepahitan. Kenapa yang lebih terasa kepahitan dibanding keindahan. Tak sadarkah para khalifah akan keindahan yang diberikan padanya, yang mungkin tak akan mampu dihitung secara matematis.

Indah tak dirasa pahit yang diingat. Itulah ulah khalifah yang tak tahu diuntung, keindahan dan kenikmatan duniawi dianggap sesuatu yang lumrah, yang memang harus didapat, tanpa mau menerima kepahitan yang di dihasilkan, padahal akibat ulahnya sendiri. Tak akan ada keindahan atau kenikmatan tanpa melalui kepahitan.

Pagi hari adalah awal hari, yang memberi semangat baru bagi manusia, memberi kekuatan baru dan memeberi harapan yang baru untuk menempuh kehidupannya. Manusia mulai sibuk beraktivitas, ke pasar buat mereka para ibu sambil bergosip dengan rekan-rekannya, dan ke kantor untuk mereka para kepala rumah tangga. Ke sekolah bagi mereka yang masih menimba ilmu di bangku sekolah.

Pagi ini, pagi ini, saat ku berusaha untuk melebarkan mata ku yang telah terpejam untuk beberapa jam, untuk dapat menikmati awal sinar matahari di hari ini. Sayup-sayup terdengar, bukan suara burung, tak ada keindahan dari suara itu. Terasa memilukan, tak ada suara burung yang memilukan di pagi hari, keindahan suara lah yang tercipta dari burung. Ya memang bukan suara burung, tapi suara khalifah, dengan pengeras suara. Udara yang terhirup pun beraroma aneh tak ada kesegaran yang biasa dirasakan di saat pagi.

Ku sempat berpikir, apakah pagi yang selalu ada telah berakhir, karena tak ku dapati ciri-ciri pagi hari yang selalu ternikmati. Walau tetap ada sinar matahari, tapi suara yang ku dapat bukan suara burung, udara yang kuhisap tak sesegar yang kemarin.

Ku pasang telinga ku, untuk mendapat kejelasan suara yang sayup-sayup itu. Khalifah yang bersuara dengan pengeras suara, menyuarakan berita ternyata. Berita yang tak enak didengar. Berita duka yang disampaikan. Disampaikan dengan pengeras suara yang ada di Masjid, yang biasa digunakan untuk adzan, untuk memanggil khalifah mengahadap sang Khaliknya.

Terbangun aku dengan sigap, untuk lebih mengetahui siapa khalifah yang dipagi ini  meninggalkan jagat. Ternyata khalifah yang bertempat tinggal di sebelah rumah ku. Masih kanak-kanak, baru saja berseragam sekolah bulan lalu. Ternyata ini memang masih pagi. Pagi tak hilang, tapi di warnai kesenjaan.

Masa kanak-kanak adalah masa pagi dari seorang khalifah, panjang lagi hidup yang masih harus ditempuh, untuk merasakan kenikmatan dan kepahitan jagat. Masih segar, belum teracuni hal-hal yang menyesatkan, sesegar udara pagi. Suaranya yang masih indah, bak kicauan burung, selalu menyuarakan suara hati yang sebenarnya. Sinar wajahnya yang secerah matahari, menebarkan keriangan selalu. Kenapa mesti ia yang Kau panggil wahai sang Khalik, dunia belum banyak yang ternikmati olehnya, atau Engkau sengaja untuk menjaga kesucian dan keluhurannya dari racun dunia.

Pagi yang selalu membawa harapan dan semangat baru, tapi tidak kali ini, pagi yang membawa pengakhiran. Pengakhiran untuk menuju kehidupan yang kekal. Transformasi dari yang fana menuju yang kekal. Pengakhiran yang identik dengan kesenjaan. Senja yang seharusnya datang setalah pagi. Tapi kali ini keduanya datang secara bersamaan, suasana pagi yang diisi oleh kesenjaan. Tak sabarkah engkau wahai senja untuk menunggu giliran mu, segalanya ada waktunya, bergulir, bergilir. Belahan jagat saja sabar untuk menantikan sinar matahari yang akan meneranginya. Kali ini sarasa sanja yang kehadirannya dipaksakan. Engkau lah sang Khalik yang kuasa mengatur, Engkau lah kekuasaan yang dapat mendatangkan kesenjaan di pagi hari.(ad010303)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: