Sosok Kecil…

Teriknya matahari pagi ini, tak seperti hari-hari yang lalu. Begitu cerahnya Ia bersinar, hanya warna biru selain matahari, jika melihat kelangit. Perlahan pagi akan habis, berganti siang. Semakin ramai jalan dengan kendaraan. Beratus, beribu, berjuta dan terus bertambah kendaraan yang melewati jalan ini. Jika jalan raya ini dapat berhitung pasti pusinglah ia. Jalan urat nadi kota metropolitan, yang tak pernah berhentinya dilewati kendaraan, keculi jalan itu ditutup untuk kepentingan penguasa atau pun orang-orang yang selalu berteriak-teriak di jalan sambil membawa spanduk dan tulisan-tulisan yang lainnya, yang bernadakan sebuah ketidakpuasan.

Lampu itu selalu berkelap kelip, berganti warna dari hijau ke merah dan kemudian kuning, terus berganti tanpa pernah mati. Jika lampu itu sampai mati maka jalan itu menjadi terlihat sumpek dan tak bercelah sehingga tak ada lagi kendaraan yang mampu berjalan. Lampu yang tak perduli pada apa yang ada di sekitarnya, yang terjadi hanyalah pergantian warna, merah, hijau, kuning.

Padahal disekitar Ia berdiri sungguhlah ramai, tak saja kendaraan, tapi juga orang lalu lalang. Yang hanya sekedar berjalan menyebrang dan yang mencari uang untuk dapat hidup di kota yang dikenal kejam oleh sebagian orang ini.

Tampak sosok kecil, di pinggir jalan tak jauh dari lampu itu. Sosok kecil yang sedang duduk sambil memegang uang receh, terlihat ia menghitungnya, dan sesekali mendongakkan kepalanya ke atas, entah sedang berpikir atau yang lainnya, tak jelas hanya ia yang tahu. Saat kepalanya mendongak terlihat jari-jarinya yang mungil seperti sedang berhitung.

Sosok kecil yang dekil itu, telah selesai menghitung uangnya dan memasukkannya ke dalam kantong permen besar, lalu memasukkannya ke dalam bajunya yang kumel seperti kain lap. Entah telah berapa hari ia tak mandi dan tak dicuci bajunya. Adakah ia punya orang tua, yang memeliharanya. Sosok kecil yang tak terawat.

Lampu telah berganti merah, ia dengan segera berlonjak dari tempatnya. Menuju kendaraan yang berhenti tak jauh dari tempat ia duduk tadi. Memukul-mukul benda yang ada di tangannya untuk mengiringinya bernyanyi. Suara yang tak jelas, dan pasti tidak enak terdengar. Tak lama kemudian menjulurkan tangannya ke arah kendaraan tadi untuk meminta uang, entah telah selesai atau belum nyanyian yang dibawakannya. Sepotong tangan keluar dari dalam kendaraan, memberinya uang recehan. Pergilah ia dari kendaraan itu menuju kendaraan yang lain. Terus seperti itu yang ia lakukan dan terkadang ia naik bis, juga untuk bernyanyi dan meminta uang sebagai imbalan atas jerih payahnya bernyanyi.

Matahari menukik ke bawah, tanda ia harus menyelesaikan kebiasaannya bernyanyi. Dilanjutkan esok hari, saat matahari kembali terlempar ke atas. Pulang bersama rekan-rekan seperjuangannya, yang juga seusianya. Terlihat mereka bersenda gurau, sambil melepas lelah setelah seharian lelah bernyanyi. Kadang ia bermimpi ingin seperti Joshua, menjadi terkenal dengan bernyanyi. Tapi tak tahu harus bagaimana ia agar impiannya dapat terwujud. Mimpi tinggallah mimpi untuk orang sekecil dia, mimpi yang digantungkan jauh dilangit, entah bagaimana akan tercapai, hanya dengan mukjizat mungkin mimpi itu dapat tercapai.

Sesampainya di rumah dengan peluh yang belum kering, masih menghiasi wajah dan tubuhnya, bau matahari yang sengat, dekil yang belum hilang, ia disambut orang tuanya yang terlihat tak ramah. Terlihat seperti macan yang telah menemukan sebuah mangsa setelah puasa lebih dari seminggu. Sepertinya orang tuanya telah menantinya sedari tadi.

Orang tuanya tinggal satu, tinggalah seorang ayah saja. Ibunya pergi karena tak tahan hidup bersama ayahnya. Yang setiap hari selalu menghabiskan waktunya di meja judi dan dengan pasti ditemani minuman keras dan wanita yang senang menghibur laki-laki semacam dia. Ia punya cita-cita yang tak kalah tinggi dari anaknya, merubah nasib menjadi orang kaya lewat permainan judi. Sungguh jalan pintas untuk menjadi orang kaya, tanpa harus bersusah payah memeras keringat, tentu banyak orang yang ingin.

Sebab itu semualah ia ditinggal istrinya, karena kerjaannya hanya bermain judi, dan tak pernah menafkahi keluarganya. Istrinyalah yang berusaha mencukupi kebutuhan keluarga itu, dan dibantu anaknya yang bekerja sebagai penyanyi jalanan. Istrinya ingin membawa anaknya tapi dilarang olehnya. Ia berpikir, jika si anak ikut Istrinya, lalu siapa yang akan memberinya modal untuk bertarung dalam merubah nasib. Terjadi perebutan yang sengit, bukanlah lagi perebutan tapi telah menjadi pertempuran, untuk menentukan hak kepemilikan anak.

Istri yang merasa ia yang melahirkan dan merawat dan membesarkan serta memberinya makan hingga si anak masih bisa hidup. Tapi suami yang betapa egoisnya, mengklaim bahwa ia lah yang berhak atas si anak, karena ia sebagai kepala rumah tangga, ia yang membuat dan juga ia turut mengasuh dan membesarkannya.

Berbagai macam daya upaya, yang akhirnya si anak menjadi milik Ayah. Suatu yang tidak lazim terjadi dalam perceraian, perceraian yang tidak resmi tanpa lewat pengadilan agama, kawinnya pun tanpa lewat KUA dan penghulu. Dimana biasanya si anak ikut kepad Ibunya. Si anak tak dapat memilih, ia hanya menangis dan tak tahu apa yang dapat dilakukan, pasrah dan menerima apa adanya. Si Istri pun tak berdaya harus meninggalkan keluarganya dan darah daging yang didambanya itu dengan berat hati, dan kelak akan kembali mengambilnya di saat kehidupannya mulai membaik.

Sosok kecil itu menunjukkan wajah yang agak takut di depan Ayahnya. Dan tak perlu waktu yang lama, uang yang disimpan di dalam kantong permen besar milik si anak berpindah tangan ke Ayahnya. Diambilnya uang sekedarnya untuk membeli makan si anak dan sisanya sudah tentu akan dijadikan sebagai modal merubah nasib. Selalu marah karena hasil yang didapat kurang. Ayah bangsat yang tak tahu diri. Sungguh tak punya hati nurani. Pernah terpikir oleh si anak untuk membunuh ayahnya suatu saat. Begitu menderitanya ia hidup, tanpa ada rasa tanggung jawab yang harusnya diberikan orang tua pada anak.

Pergilah si anak untuk membeli nasi bungkus, untuk makan malamnya, agar ia bisa tidur dengan nyenyak dan bisa hidup untuk bernyanyi lagi. Si Ayah yang kejam kembali ketempat idamannya, melanjutkan cita-citanya untuk merubah nasib kehidupannya yang takkan pernah tercapai, jika usahanya hanya seperti itu.

Pulang kerumah dengan kekalahan, seperti biasanya. Dan lagi-lagi si anak yang menjadi media pelepas amarah dan kekesalan akibat kekalahannya dalam pertarungannya untuk merubah nasib. Tak tahu apa-apa, tiba si anak di pukuli, hingga anggota badannya mengeluarkan darah baru lah pukulan itu dapat berhenti. Pukulan yang diterimanya, yang telah menjadi rutinitas, lama kelamaan membuat si anak bertambah daya tahan tubuhnya, dan semakin lama pula pukulan itu mendarat ketubuhya.

Bangun pagi, saat Ayahnya masih terbuai atas mimpinya menjadi orang kaya, bergelimang harta dan dapat berbuat semaunya, anak berangkat untuk kembali bernyanyi. Dan pulang pada sore hari untuk menyetorkan uang hasil nyanyi itu kepada Ayahnya. Terjadi setiap hari, entah hingga kapan semua ini dapat berakhir. Anak yang seharusnya pada saat itu mengenakan seragam untuk pergi ke sekolah bersama teman-temannya, bermain menikmati masa kecilnya. TakIa dapat kan semua itu, entah bagaiman masa depannya, tak tergambarkan.

Ia seperti kehilangan masa-masa yang harusnya dapat dilewati orang yang seusianya penuh dengan kesenangan, tanpa harus berpikir macam-macam, hanya bermain lah pikiran yang pantas untuk anak seusianya. Cita-cita seakan sebutir pasir di jalan yang tak ada arti, tak ada guna. Dia hanya berusaha untuk bagaimana esok agar dapat melihat matahari kembali bersinar. SesekaliIa merindukan Ibunya yang tak tahu Ia akan rimbanya.

Hari itu seperti biasanya. Jalan dan lampu itu yang menjadi tempat mangkalnya. Jalan yang selalu ramai, lampu yang terus berganti tiada lelah bagai Ia tiada bosan untuk terus bernyanyi setiap ada kendaraan yang berhenti. DiajakIa oleh temannya untuk bernyanyi di dalam bis. Temannya mengiminginya uang yang didapat akan lebih banyak dibanding Ia terus bernyanyi di dekat lampu itu.

Tak banyak tanya ikut lah Ia. Benar ternyata, uang yang di dapatnya lebih banyak. Tampak wajah yang berseri-seri, wajah yang seharusnya terus tergambar padanya di usia yang sedini sepertinya. Tak terasa sepuluh bis telah Ia naiki, walau sekarang Ia harus sendiri tanpa temannya, berharap hasilnya lebih banyak lagi jika di banding Ia bersama temannya, karena harus berbagi hasil.

Bis yang ditumpanginya ugal-ugalan, dengan alasan mencari penumpang. Berdiri dengan terhuyung-huyung, seperti orang yang habis minum sebotol Vodka, untuk menahan keseimbangannya. Dengan susah payah Ia dapat menyelesaikan nyanyiannya. Ingin turun tapi bis itu malah tancap gas. Terlempar lah Ia dari pintu bis, yang melaju kencang. Menggelinding bak bola boling, orang hanya terpaku melihat semua itu.

Tak lama terjadi kerumunan orang-orang yang ingin mengetahui nasib anak itu, hanya mengucapkan kata kasihan dan terus melihat anak itu, tanpa ada yang memberi pertolongan. Akhirnya datang ambulance yang membawa sosok kecil itu ke rumah sakit. Tubuhnya tersiram darah yang keluar dari lukanya, yang ada di kepala, kaki, tangan, dan mulutnya. Kondisi yang kritis, dan sopir ambulance meramalkan kalau sosok kecil ini takkan bertahan hingga rumah sakit.

Tiba ke ruang gawat darurat, dan betul ramalan dari sopir ambulance itu, sosok kecil itu telah tak bernyawa lagi. Ia bersosok kecil, yang berjiwa besar, seorang pahlawan untuk Ayahnya yang bejat. Tersediakah tempat yang layak di sana untuk sosok kecil itu. Ayahnya masih menunggu di depan pintu rumahnya dengan kegeramannya dan penuh ambisi untuk segera menghabisi anaknya jika Ia pulang, karena penantian kali ini yang paling lama yang pernah dirasakan. Oh….sosok kecil…..200103

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: