Yuk, Saling Menghargai…

Manusia sebagai mahluk sosial dan sudah merupakan  Sunatullah, untuk saling berinteraksi dan saling membutuhkan dalam “berjuang hidup”. Baik itu antar sesama maupun dengan alam, tempat dimana ia hidup. Perlu ada keseimbangan dalam pola interaksi yang terjadi tersebut, tidak berat sebelah, karena dua faktor (manusia dan alam) tersebut bukanlah sabagai substitusi (pengganti) – tidak ada yang satu, diganti dengan yang lain – tapi faktor komplementer (saling melengkapi).

Namun pada kenyataannya, hal di atas sangat sulit untuk dapat diterapkan. Jangan kan untuk menjaga hubungan dengan alam, yang bersifat pasif, dengan sesama manusia saja sulit. Maka tak heran terjadi konflik antar manusia, karena sulitnya melakukan interaksi yang baik, yang disebabkan banyak faktor penyebabnya.

Ada satu sikap yang mungkin dapat membantu dalam “melanggengkan” hubungan antar sesama manusia, yaitu saling menghargai. Sebuah sikap yang sangat mudah diucapkan namun sulit untuk dilaksanakan. Karena sikap ini terkait dengan ego dari masing-masing individu. Ego ini adalah potensi yang dimiliki oleh setiap manusia, yang kadarnya berbeda-beda setiap individunya.

Jika diamati pola hidup anak-anak dengan orang dewasa, perbedaanya lebih banyak pada soal di atas, yaitu sikap menghargai dan egoisme. Pada anak-anak, tingkat ego masih tinggi, hal ini wajar karena ia belum tahu banyak tentang kehidupan dan keberadaan orang lain. Sehingga sikap menghargai orang lain pada anak masih kurang. Semakin bertambah usia dan pengalaman yang dirasakan oleh seseorang maka mestinya tumbuh sikap menghargai dan merendahnya kadar ego yang dimiliki. Sifat kedewasaan dapat dilihat dari sikap-sikap tersebut.

Semakin dewasa seseorang, semakin banyak yang diketahui, dan makin dapat menerima keberadaan orang lain dalam kehidupannya. Sikap menghargai ini dapat dalam berbagai bentuk. Diantaranya adalah sikap dalam menghargai sebuah pendapat dan sebuah karya. Jika diamati sikap tersebut masih kurang dimiliki oleh mayoritas bangsa ini. Terutama terhadap karya, baik itu dalam wujud penemuan, penciptaan kesenian maupun pemikiran dalam bentuk tulisan.

Betapa pun tidak setujunya kita terhadap karya tersebut, cobalah bersikap untuk dapat menghargai karya tersebut. Bukan malah dengan merusak karya orang lain. Penghargaan terhadap sebuah karya orang, dengan sendirinya akan memicu tumbuhnya karya-karya yang lain, karena adanya respon yang baik.

Jika tidak setuju terhadap karya tersebut, ada baiknya jika membuat karya baru yang merupakan tanggapan terhadap karya sebelumnya atau melakukan diskusi untuk mengoreksi karya tersebut dengan si pembuatnya, bukan main rusak. Jika dalam alam demokrasi, tindakan merusak karya orang lain dapat dikatakan sebuah tindakan yang anarki.

Bersikaplah lebih dewasa, dengan berusaha untuk menghargai buah karya dari orang lain. Dengan menciptakan budaya saling menghargai terhadap sesama, yang diharapkan dapat melanggengkan hubungan antar sesama manusia. Wallahualam. (ad/250803)

Published by andidarmawan80

a Regular People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: