LEBIH BAIK GOLPUT ??

Kabar santer sanksi pidana bagi yang tidak menggunakan hak pilih (golongan putih) atau menganjurkan golput dalam Pemilu 2004 membuat anggota Panitia Khusus RUU Pemilu DPR kebakaran Jenggot. Mereka pun ramai-ramai membantah keras mencantumkan pasal-pasal itu.

Fenomena golput ini sudah terjadi sejak lama, awalnya sekitar tahun 70-an. Dan terakhir cukup ramai pada saat pemilu tahun 1997, dikarenakan pada saat itu banyak pemilih dari partai PDI yang “tidak rela” menyumbangkan suaranya untuk PDI “buatan” pemerintah atau lebih dikenal dengan PDI Suryadi. Pemilu tahun 1999 jumlah golput menyurut, karena timbulnya harapan pada Pemilu ditahun tersebut dan banyaknya partai-partai baru yang bisa dijadikan alternatif.

Seiring waktu “berlari” kepercayaan pada partai-partai yang mendapatkan suara dan mendapatkan posisi di lembaga eksekutif dan legislatif mulai jatuh, karena kinerja mereka yang buruk dan tidak membawa perubahan yang baik bagi nasib rakyat, padahal isu yang mereka usung pada saat kampanye adalah “perubahan”, yang tentunya ke arah yang lebih baik.

Kepercayaan pada Parpol yang semakin jatuh ini membuat fenomena golput “terlahir kembali”. Apa sih golput? sepertinya membuat sebuah persoalan yang “pelik”. Golput adalah mereka yang memiliki hak pilih tetapi tidak menggunakan hak pilihnya. Atau dengan kata lain “tidak nyoblos”. Pada jaman “sejahtera”, dimasa orde baru, mereka-mereka yang melakukan persuasif untuk ikut golput dikenakan sanksi pidana, ini terjadi pada salah satu korbannya Lukas Suwarso. Ia terkena kurungan selama 11 tahun, karena melakukan “kampanye” golput, sekitar tahun 70-an dikampusnya Universitas Diponegoro, juga pada tokoh nasional lain seperti Arief Budiman.

Golput ini terjadi karena adanya rasa ketidakpercayaan baik pada Parpol yang berkompetisi dan sistem Pemilunya sendiri. Seperti Diskusi yang dilakukan oleh Radio Namlapanha dengan tajuk “Kecawa pada partai-partai? Golput Saja!, yang diikuti oleh Ali Masykur Musa (anggota Panja RUU Pemilu), A Farhan Hamid (Fraksi Reformasi) dan Lukas Suwarso aktivis golput, pada kamis lalu (6/2).

Ali mengatakan, “Golput adalah sebuah bentuk aspirasi politik, hak dari masyarakat. Ini merupakan sebuah otokritik bagi partai-partai yang ada sekarang untuk melakukan intropeksi terhadap kinerjanya, sebuah tantangan yang harus dijawab oleh Parpol sekarang ini”. Dalam diskusi ini A Farhan menyatakan “Ada kemungkinan bertambahnya jumlah golput, terutama pada kota-kota besar, di AS dan Swiss jumlah golput pernah mencapai 50% dari jumlah pemilih”, ujar A Farhan. Dan para pembicara sepakat bahwa golput adalah sebuah bentuk aspirasi dan ekspresi politik yang harus dijaga.

Dikesempatan lain Ferry M Baldan, Wakil Pansus RUU Pemilu mengatakan, “Yang ada aturan pidana bagi yang memaksa dengan kekerasan agar orang tidak mencoblos, dan melakukan politik uang dalam pemilu”. Pasal aturan pidana menyebutkan, orang yang sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menghalangi seseorang untuk memilih, diancam pidana penjara 2 sampai 12 bulan dan/atau denda Rp 1-10 juta. Jadi dapat dikatakan mempengaruhi orang untu golput bukan sebuah tindakan pidana, selama tidak ada pemaksaan, seperti yang uraikan oleh Wakil Ketua Panitia dai Fraksi PPP, Chozin Chumaidy, yang memastikan aturan pidana tak berlaku bagi demonstran atau pembicara seminar golput. “Yang penting tidak memaksa!” ujarnya.

Sebuah hal yang wajar, timbulnya rasa kekecewaan dan ketidakpercayaan dikarenakan buruknya prestasi dari parpol yang berkuasa saat ini baik di eksekutif dan legislatif. Rakyat kecewa pada “mereka” yang pada saat kampanye terlihat “putih” tapi pada saat berkuasa baru terbongkar “boroknya” dan mereka tidak merasa malu akan hal itu. Golput ini merupakan sebuah protes pada Parpol-Parpol yang ada, bentuk kekecewaan dan rasa tidak percaya lagi pada mereka. Jika ikut memilih, mereka akan merasa orang yang “sama lah” yang akan terpilih, jadi ikut tidaknya memilih akan sama saja. Karena yang terpilih orang-orangnya “sama”. Jadi buat apa ada Pemilu lagi.

Jika golput jumlahnya tinggi, Ali mengatakan,”Akan ada konsekuensinya yaitu, pertama tingkat keterlibatan atau partisipasi dari rakyat terhadap pembuatan kebijakan menjadi rendah dan kedua legitimasi anggota parlemen menjadi rendah.”

Permasalahan Pemilu adalah memilih dan dipilih, sedangkan permasalahan golput adalah memilih atau tidak memilih. Dengan memilih golput sebenarnya telah menggunakan hak pilihnya, yaitu memilih untuk tidak memilih.(ad70203)

Korupsi ?? Itu Mah Biasa…

Brasil jawara dalam sepak bola, AS jawara dalam teknologi informasinya dan Jepang dalam industri elektroniknya, Indonesia? Jawara Korupsi!!! Transparansi Internasional (TI) mengeluarkan laporan tentang tingkat korupsi yang terjadi dalam setiap negara. Disusun berdasarkan peringkat. Indonesia kembali mendapat juara keenam negara paling korup dari 133 negara yang dinilai oleh Transparansi Internasional Indonesia. Tahun lalu Indonesia juara keempat dari 102 negara paling korup.

Korupsi bukan barang baru bagi bangsa ini. Mungkin juga sudah ada sejak jaman Majapahit, cuma saja pada masa itu belum mengenal kata korupsi. Tapi paling tidak perbuatan yang didefinisikan sebagai korupsi mungkin telah terjadi. Korupsi secara sederhana dapat diartikan sebagai tindakan memperkaya diri sendiri atau kelompok atau golongan dengan memanfaatkan fasilitas yang tidak semestinya digunakan untuk kepentingan sendiri atau kelompok.

Pada masa lalu, jaman orde baru misalnya, perbuatan yang satu ini dilakukan secara “malu-malu” dan modusnya terpusat pada kalangan keluarga atau yang dekat dengan cendana. Namun kini seiring bergulirnya reformasi, perbuatan nista ini, tanpa malu-malu lagi dan dilakukan tidak secara terpusat, tapi oleh berbagai pihak. Bahkan ada pihak yang mengatakan jumlahnya lebih besar dari masa lalu.

Penyebaran tindakan korupsi ini salah satunya disebabkan oleh yang dulunya tidak mendapat akses dan kesempatan untuk melakukannya, sekarang telah memiliki hal tersebut. Atau dengan kata lain dulu tidak “kebagian” sekarang “kebagian”. Setelah peluang itu terbuka maka semaraklah tindakan terjadi dan dilakukan secara “berjama’ah”.

Otonomi daerah yang dimaksud untuk membagi kewenangan kepada daerah untuk menjalani pemerintahan ternyata menciptakan raja-raja kecil di daerah. Bukan konsep otonominya yang salah tapi implementasinya yang serong entah kemana. Dalam suatu acara tentang penghargaan tantang liputan korupsi yang diadakan oleh ICW (Indonesian Coruption Watch), dari 25 peserta 20 diantaranya mengangkat tentang korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan legislatif daerah dengan eksekutifnya.

Begitu merebaknya perbuatan nista dan bejat ini di negeri kita. Sampai-sampai perbuatan ini dijadikan sebagai salah satu cerminan budaya bangsa. Aduh, sudikah kita jika korupsi dimasukkan kedalam budaya bangsa kita? Begitu sulitkah memberantas binatang yang satu ini? Apakah “dokter” belum menemukan obat yang mujarab yang dapat menyembuhkan “penyakit” yang menyerang negeri ini?

Entah kenapa sikap kebanyakan masyarakat terhadap “virus mematikan” ini semakin permisif saja. Bahkan sampai-sampai terlontar pernyataan  yang sangat mengharukan; Korupsi? Itu mah biasa…..Jika hal ini sudah terjadi begitu buruknya wajah bangsa ini yang telah melumrahkan sebuah tindakan yang sangat nista ini.

Jika di kaitkan sedikit ke “wilayah” agama, Indonesia walaupun bukan negara agama, namun mayoritas masyarakatnya adalah masyarakat yang beragama, walau beraneka ragam. Namun, dalam setiap agama tersebut sudah pasti melarang tindakan nista ini. Yang tidak beragama pun pasti tidak setuju dengan tindakan nista ini, karena melanggar aturan. Tapi tetap saja para pelakunya membandel dengan tetap melakukannya, mungkin mereka berpikir masih ada waktu untuk bertobat nanti.

Aparat hukum atau yang berwenang dalam mengurusi hal ini mandul dan tak mampu “ngerem” laju korupsi. Disebabkan mereka diduga juga “belepotan” dengan tindakan nista ini.  Untuk itu perlu adanya sangsi sosial yang dilakukan masyarakat. Sangsi sosial ini kadang lebih ampuh “khasiatnya”. Bentuk sangsi sosial itu salah satunya antara lain dengan mengucilkan si pelakunya. Dengan terkucil, pelaku diharapkan “tersiksa” karena tak ada lagi “teman” untuk berinteraksi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat  dan untuk menunggu “pulihnya” aparat berwenang.

Gerakan pemberantasan korupsi haruslah dilakukan secara serentak dan menyeluruh dari berbagai lapisan masyrakat. Dan tak kalah pentingnya adalah merubah paradigma dan sikap terhadap tindak korupsi. Sehingga yang akan tumbuh ialah pernyataan; Korupsi? Kurang ajar !!!. Tapi semua itu dapat dilakukan jika diri kita juga “bersih”, jangan main teriak saja tapi ternyata diri kita “berlumuran noda”. Maling teriak maling akhirnya. Untuk itu mulai dari diri sendiri dan sekarang. Ayo…..!!! (ad191203)

Ingin Da’wah yang Damai

Bulan ini merupakan bulan Muharram, bulan awal dalam kalender Islam. Pada sabtu lalu di adakan acara Malam Dzikir dan Do’a sebagai peringatan pergantian tahun Islam. Yang bertempat di masjid ini dengan peserta yang cukup banyak hingga masjid ini terasa sangat kecil, karena banyak peserta.

Namun, pada bagian acara Tauziyah (ceramah) ada sedikitnya dua hal yang membuat ‘gelisah’ dan menebarkan ‘aroma’ permusuhan, dikarenakan pernyataan ustadz atau sang penceramah. Yang pertama pernyataan bahwa Amerika negara ‘kafir’ dan perang Iraq adalah perang agama.

Akan dibahas satu persatu atas keberatan pernyataan diatas tersebut. Pertama, Amerika negara ‘kafir’. Jelas ini sebuah pernyataan yang bernada provokatif. Akan terjadi kontradiksi (kondisi yang berlawanan) jika kita melihat realitas yang terjadi di sana (Amerika). Dimana Agama terbesar kedua di Amerika adalah Islam. Dengan adanya pernyataan seperti ini, lalu akan dikemanakan muslim-muslim di sana, atau mereka juga termasuk kafir? Pernyataan yang ‘berbau’ generalisasi atau menyamaratakan seharusnya tidak lagi perlu dilakukan.

Kita dihadapkan pada sebuah jargon atau propaganda Amerika bahwa Muslim sama dengan teroris. Jelas kita akan menolak hal ini, tidak ada dalam ajaran Islam untuk menjadi teroris. Kalau pun ada muslim yang terlibat terorisme itu hanya segelintir dan pembuktiannya belum jelas. Sekarang kita dengan sewenang-wenang mengatakan kalau Amerika negara ‘kafir’, seperti yang diungkapkan di atas bahwa warga Amerika banyak juga yang muslim seperti laiknya kita. Sebuah inkonsistensi atau ketidakcocokan, di saat menolak upaya generalisasi yang dituduhkan pada umat Muslim tersebut, tapi saat yang sama melakukan generalisasi. Sebuah bentuk ketidakadilan. Muslim menuntut ketidakadilan tapi di saat yang sama melakukan ketidakadilan, jika yang seperti ini terjadi apakah masih akan mengharapkan keadilan akan tercapai?

Memang ungkapan di atas sangat terasa pro Amerika. Maksud atas hal di atas adalah pandangan menyamaratakanlah yang dikritik. Paling tidak jika ingin melakukan kritik pernyataan haruslah lebih spesifik, karena itu tadi, tidak semua warga Amerika kafir. Dalam melihat sesuatu janganlah hanya dari satu sudut tapi juga kita melihat sudut atau posisi lain sehingga apa yang kita ungkapkan paling tidak lebih objektif. Sekali lagi kritik ditujukan pada pandangan menyamaratakan, hanya kebetulan di sini Amerika yang menjadi objek, hal ini juga berlaku bagi pemerintah Amerika yang mengaggap muslim adalah teroris.

Kedua, pernyataan perang Agama dalam perang Iraq. Warga Amerika yang menolak perang dan warga Indonesia yang ikut aksi menolak perang apakah mereka beragama Islam semua.  Paus Paulus ‘dedengkot’ Agam Katolik pun ikut menolak. Agama mana yang berperang jadinya? Sudah jelas perang yang terjadi perkara ekonomi dan penancapan hegemoni AS di Dunia Timur Tengah ataupun ambisi pribadi dari Bush. Analisis perang Agama yang dikatakan oleh ‘sang Ustadz’ belum teruji dan bernada provokatif. Jika memang benar ada indikasi ke arah situ, hendaknya dibeberkan argumen-argumen yang menguatkan, jangan asal bunyi. Karena hal ini menyangkut masalah Agama yang sangat sensitif. Seorang Ustadz akan lebih baik ‘membawa kedamaian’ bagi para pengikutnya bukan malah menyebar peperangan. Suara Ustadz akan didengar oleh umat.

Dengan segala permohonan maaf dan rasa hormat pada Ustadz tersebut, diharapkan hal ini dapat dijadikan sebagai sebuah koreksi bagi perjuangan Da’wahnya. Jelas bila dibandingkan dalam hal ilmu agama penulis jauh ketinggalan (penulis tau apa sih…) dengan Ustadz, bak bumi dan langit. Namun hal ini merupakan sebuah suara dari seorang yang menginginkan Da’wah yang lebih terasa damai. Demikian karena bukannya sesama Muslim wajib saling mengingatkan. Wallahualam.(ad25/03/03)

ILMU DUNIA “YANG ISLAMI”

“Benar Wak Haji Ali, guru kita, Anah. Keempat anaknya tak ada yang meniru menjadi mubaligh seperti Ayahnya. Tapi menjadi dokter, insinyur, dan dosen. Sekaligus menjalankan syiar Islam dengan baik. Andaikan leluhur-leluhur kita semua punya pemikiran demikian, seperti kata Wak Haji, ‘tidak terjebak dan berhenti pada masalah syariat semata’; betapa kita akan memiliki kebanggaan dan harga diri. Tidak terpojok dan tersisih sebagaimana orang-orang maju melecehkan kita. Bayangkan, jika semua konsep keilmuan berdiri di atas nama kalimat syahadat…”  Sepenggal cerita, yang diangkat dari cerita pendek karya Joni Ariadinata, yang berjudul “Tentang Lelaki Bergamis”.

Resapi dan rasakan makna yang terkandung dalam sepenggal cerita di atas. Bukan menyepelekan pelajaran agama dan menganggap tak berarti seorang mubaligh. Pelajaran agama adalah pelajaran yang penting, dasar dan fundamental bagi setiap manusia sebagai pedoman dalam berkehidupan, mubaligh harus lah ada, untuk mengajarkan kita tentang agama.

Dalam kehidupan ini terdapat tiga alam yaitu alam rahim, dunia nyata yang kita alami, dan alam akhirat yang akan kita hadapi. Di alam rahim kita tidak dapat berbuat sesuatu karena alam tersebut adalah alam bawah sadar. Di dunia barulah kita dapat berbuat banyak, untuk dapat bertahan dan menghimpun bekal untuk alam yang akan kita hadapi nanti, akhirat.

Nabi pernah bersabda untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Tidak lah berat sebelah diantara salah satunya. Dunia kita capai dan akhirat pun kita raih, mungkin itu makna yang terkandung dalam sabda Beliau. Kecenderungan mementingkan hal yang berbau akhirat hal yang kurang baik, karena kita juga hidup di dunia dan sebaliknya mementingkan dunia sangatlah tidak baik, karena tanpa bekal yang cukup kita akan sengsara di akhirat. Dengan kata lain seluruh kehidupan kita di dunia akan dimintai pertanggung jawabannya nanti di akhirat.

Kesungguhan mendalami ilmu yang kita jalani, yang bersifat duniawi adalah suatu keharusan. Dan agama, sekali lagi, adalah sebagai pedoman dasar dalam mendalami ilmu yang bersifat duniawi tersebut agar, ilmu itu dapat bermanfaat bagi kita dan orang banyak. Hal ini juga merupakan sarana syiar atau dakwah, yang memiliki banyak bentuk dan cara. Tanpa harus menjadi mubaligh, dengan banyak melakukan khotbah dan ceramah. Dan bukan hanya menjadi mubaligh saja yang dapat memasuki tampat yang mulia di dunia yang akan kita hadapi nanti.

Menciptakan atau menjadikan ilmu duniawi dengan berkonsepkan Islam adalah tugas masing-masing dari kita. Dalam sejarahnya dahulu, para ulama atau pemikir-pemikir dunia di dominasi oleh umat Islam. Mereka mengembangkan ilmu keduniaan berdasarkan agama, yang didapat melalui berbagai sumber dan salah satunya Al-Qur’an.

Itu semua dapat memberikan dasar bagi kita untuk terus bersungguh-sungguh dalam menekuni ilmu yang sedang kita pelajari tanpa mengesampingkan pelajaran agama. Ekonomi, politik, biologi, matematika, fisika, sosial dan banyak cabang ilmu yang lain, yang dapat kita tekuni di dunia ini untuk menciptakan dunia yang sejahtera.

Jadi tidak ada lagi keraguan bagi kita untuk mendalami ilmu-ilmu keduniawian, dan menjadikannya sarana syiar atau dakwah bagi agama kita sehingga kita dapat menciptakan ekonomi yang Islami, fisika yang Islami, biologi yang Islami, matematika yang Islami, dan lainnya yang Islami. “Bayangkan, jika semua konsep keilmuan berdiri di atas nama kalimat syahadat…” Wallahualam (ad280103)

SENJA DI PAGI HARI

Pagi ini seperti biasa, seperti pagi yang lain, walau tidak akan pernah sama antara pagi saat ini dengan pagi yang kemaren. Matahari tetap dengan ikhlasnya, membagikan sinar kepada seluruh mahluk hidup atau apa pun yang ada di jagat ini. Pernah kah terpikir olehnya untuk libur bersinar sehari saja. Mesin saja butuh istirahat agar tidak rusak, apalagi manusia mahluk yang paling banyak keinginannya, sangat butuh libur agar bisa lepas dari kegiatan yang membuatnya jemu. Itu lah kelebihan matahari sebagai ciptaan-Nya, tidak butuh apapun, tidak banyak menuntut hak, kewajiban yang terus dilakukannya. Tidak seperti manusia, menuntut hak yang melebihi dari seharusnya dan tidak menghiraukan kewajibannya.

Apa jadinya jika matahari libur sehari saja. Tidak ada yang bisa bangun pagi, karena matahari adalah penunjuk waktu disaat pagi hari tiba. Dunia ini akan terus berada dalam kegelapan, ada matahari saja dunia ini berada dalam kegelapan, yang diakibatkan oleh ulah mahluk yang ditakdirkan sebagai khalifah di muka bumi. Banyak yang menyimbolkan matahari sebagai sumber kekuatan, sebagai sebuah harapan atau sebagai sebuah semangat. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai tuhan. Padahal matahari merupakan ciptaan Tuhan, tapi kenapa mereka lebih memilih menyembah kepada Ciptaan-Nya dari pada yang menciptakan.

Tetaplah bersinar wahai matahari. Matahari, siapa yang dapat menciptanya pastilah istimewa. Sinar yang diberikan sungguh sangat tak terhingga, sampai saat ini adakah khalifah yang menciptakan benda yang mampu menerangi jagat raya. Lampu, benda yang diciptakan oleh khalifah tak mampu menandingi tangguhnya matahari. Lampu hanya dapat menyinari sebagian kecil ranah jagat saja, sungguh terbatas. Ciptaan yang terbatas, sesuai dengan kodratnya sebagai mahluk yang terbatas, tapi para khalifah selalu mempunyai keinginan yang tak terbatas. Karena matahari lah lampu itu ada. Karena matahari harus bergantian menyinari belahan jagat yang lain, sehingga ia harus meninggalkan belahan yang satu untuk menuju yang lain secara bergilir. Untuk mengganti sinarnya yang menghilang untuk sementar, lampu akan terasa sangat berguna, dibutuhkan banyak sekali untuk dapat menggantikannya, walau langit tak mendapat sinarnya.

Selain matahari, kicau burung selalu menemani pagi, walau suaranya tak seramai dahulu kala. Karena mereka, para burung mulai tersingkir dari kehidupan juga akibat ulah khalifah bumi. Diburu, ditangkap kemudian dijual atau dipelihara dan diciptakan lingkungan yang tidak sehat buat burung sehingga membuat eksistensi dari burung pun lama kelamaan berkurang dan terus berkurang.    Simponi yang indah sudah tidak lagi terdengar, karena yang bernyanyi hanya lah satu jenis burung saja, burung gereja. Akhirnya makin banyak manusia yang memelihara burung agar mereka dapat tetap mendengar nyanyian-nyanyiannya.

Tak ada kesalahan yang dibuat burung-burung itu terhadap alam dan para khalifah. Ia bertindak sesuai kodrat yang digariskan, ia hanya hidup, dan nanti akan mati. Tak salah saja mereka harus punah, bagaimana jika mereka merugikan para kahlifah muka bumi.

Pagi yang selalu menebar udara segar, udara yang akan kembali diracuni oleh ulah khalifah di muka bumi. Sedikit saja mereka yang dapat menikmati udara pagi yang segar. Beruntung lah para khalifah muka bumi dengan masih adanya pagi, karena dengan adanya pagi para khalifah masih dapat menikmati udara segar.

Udara, zat yang tak berwujud yang sangat dibutuhkan oleh para khalifah untuk tetap dapat menikmati keindahan dunia, walau yang sering terasa bukan keindahannya tapi kepahitan. Kenapa yang lebih terasa kepahitan dibanding keindahan. Tak sadarkah para khalifah akan keindahan yang diberikan padanya, yang mungkin tak akan mampu dihitung secara matematis.

Indah tak dirasa pahit yang diingat. Itulah ulah khalifah yang tak tahu diuntung, keindahan dan kenikmatan duniawi dianggap sesuatu yang lumrah, yang memang harus didapat, tanpa mau menerima kepahitan yang di dihasilkan, padahal akibat ulahnya sendiri. Tak akan ada keindahan atau kenikmatan tanpa melalui kepahitan.

Pagi hari adalah awal hari, yang memberi semangat baru bagi manusia, memberi kekuatan baru dan memeberi harapan yang baru untuk menempuh kehidupannya. Manusia mulai sibuk beraktivitas, ke pasar buat mereka para ibu sambil bergosip dengan rekan-rekannya, dan ke kantor untuk mereka para kepala rumah tangga. Ke sekolah bagi mereka yang masih menimba ilmu di bangku sekolah.

Pagi ini, pagi ini, saat ku berusaha untuk melebarkan mata ku yang telah terpejam untuk beberapa jam, untuk dapat menikmati awal sinar matahari di hari ini. Sayup-sayup terdengar, bukan suara burung, tak ada keindahan dari suara itu. Terasa memilukan, tak ada suara burung yang memilukan di pagi hari, keindahan suara lah yang tercipta dari burung. Ya memang bukan suara burung, tapi suara khalifah, dengan pengeras suara. Udara yang terhirup pun beraroma aneh tak ada kesegaran yang biasa dirasakan di saat pagi.

Ku sempat berpikir, apakah pagi yang selalu ada telah berakhir, karena tak ku dapati ciri-ciri pagi hari yang selalu ternikmati. Walau tetap ada sinar matahari, tapi suara yang ku dapat bukan suara burung, udara yang kuhisap tak sesegar yang kemarin.

Ku pasang telinga ku, untuk mendapat kejelasan suara yang sayup-sayup itu. Khalifah yang bersuara dengan pengeras suara, menyuarakan berita ternyata. Berita yang tak enak didengar. Berita duka yang disampaikan. Disampaikan dengan pengeras suara yang ada di Masjid, yang biasa digunakan untuk adzan, untuk memanggil khalifah mengahadap sang Khaliknya.

Terbangun aku dengan sigap, untuk lebih mengetahui siapa khalifah yang dipagi ini  meninggalkan jagat. Ternyata khalifah yang bertempat tinggal di sebelah rumah ku. Masih kanak-kanak, baru saja berseragam sekolah bulan lalu. Ternyata ini memang masih pagi. Pagi tak hilang, tapi di warnai kesenjaan.

Masa kanak-kanak adalah masa pagi dari seorang khalifah, panjang lagi hidup yang masih harus ditempuh, untuk merasakan kenikmatan dan kepahitan jagat. Masih segar, belum teracuni hal-hal yang menyesatkan, sesegar udara pagi. Suaranya yang masih indah, bak kicauan burung, selalu menyuarakan suara hati yang sebenarnya. Sinar wajahnya yang secerah matahari, menebarkan keriangan selalu. Kenapa mesti ia yang Kau panggil wahai sang Khalik, dunia belum banyak yang ternikmati olehnya, atau Engkau sengaja untuk menjaga kesucian dan keluhurannya dari racun dunia.

Pagi yang selalu membawa harapan dan semangat baru, tapi tidak kali ini, pagi yang membawa pengakhiran. Pengakhiran untuk menuju kehidupan yang kekal. Transformasi dari yang fana menuju yang kekal. Pengakhiran yang identik dengan kesenjaan. Senja yang seharusnya datang setalah pagi. Tapi kali ini keduanya datang secara bersamaan, suasana pagi yang diisi oleh kesenjaan. Tak sabarkah engkau wahai senja untuk menunggu giliran mu, segalanya ada waktunya, bergulir, bergilir. Belahan jagat saja sabar untuk menantikan sinar matahari yang akan meneranginya. Kali ini sarasa sanja yang kehadirannya dipaksakan. Engkau lah sang Khalik yang kuasa mengatur, Engkau lah kekuasaan yang dapat mendatangkan kesenjaan di pagi hari.(ad010303)

Sosok Kecil…

Teriknya matahari pagi ini, tak seperti hari-hari yang lalu. Begitu cerahnya Ia bersinar, hanya warna biru selain matahari, jika melihat kelangit. Perlahan pagi akan habis, berganti siang. Semakin ramai jalan dengan kendaraan. Beratus, beribu, berjuta dan terus bertambah kendaraan yang melewati jalan ini. Jika jalan raya ini dapat berhitung pasti pusinglah ia. Jalan urat nadi kota metropolitan, yang tak pernah berhentinya dilewati kendaraan, keculi jalan itu ditutup untuk kepentingan penguasa atau pun orang-orang yang selalu berteriak-teriak di jalan sambil membawa spanduk dan tulisan-tulisan yang lainnya, yang bernadakan sebuah ketidakpuasan.

Lampu itu selalu berkelap kelip, berganti warna dari hijau ke merah dan kemudian kuning, terus berganti tanpa pernah mati. Jika lampu itu sampai mati maka jalan itu menjadi terlihat sumpek dan tak bercelah sehingga tak ada lagi kendaraan yang mampu berjalan. Lampu yang tak perduli pada apa yang ada di sekitarnya, yang terjadi hanyalah pergantian warna, merah, hijau, kuning.

Padahal disekitar Ia berdiri sungguhlah ramai, tak saja kendaraan, tapi juga orang lalu lalang. Yang hanya sekedar berjalan menyebrang dan yang mencari uang untuk dapat hidup di kota yang dikenal kejam oleh sebagian orang ini.

Tampak sosok kecil, di pinggir jalan tak jauh dari lampu itu. Sosok kecil yang sedang duduk sambil memegang uang receh, terlihat ia menghitungnya, dan sesekali mendongakkan kepalanya ke atas, entah sedang berpikir atau yang lainnya, tak jelas hanya ia yang tahu. Saat kepalanya mendongak terlihat jari-jarinya yang mungil seperti sedang berhitung.

Sosok kecil yang dekil itu, telah selesai menghitung uangnya dan memasukkannya ke dalam kantong permen besar, lalu memasukkannya ke dalam bajunya yang kumel seperti kain lap. Entah telah berapa hari ia tak mandi dan tak dicuci bajunya. Adakah ia punya orang tua, yang memeliharanya. Sosok kecil yang tak terawat.

Lampu telah berganti merah, ia dengan segera berlonjak dari tempatnya. Menuju kendaraan yang berhenti tak jauh dari tempat ia duduk tadi. Memukul-mukul benda yang ada di tangannya untuk mengiringinya bernyanyi. Suara yang tak jelas, dan pasti tidak enak terdengar. Tak lama kemudian menjulurkan tangannya ke arah kendaraan tadi untuk meminta uang, entah telah selesai atau belum nyanyian yang dibawakannya. Sepotong tangan keluar dari dalam kendaraan, memberinya uang recehan. Pergilah ia dari kendaraan itu menuju kendaraan yang lain. Terus seperti itu yang ia lakukan dan terkadang ia naik bis, juga untuk bernyanyi dan meminta uang sebagai imbalan atas jerih payahnya bernyanyi.

Matahari menukik ke bawah, tanda ia harus menyelesaikan kebiasaannya bernyanyi. Dilanjutkan esok hari, saat matahari kembali terlempar ke atas. Pulang bersama rekan-rekan seperjuangannya, yang juga seusianya. Terlihat mereka bersenda gurau, sambil melepas lelah setelah seharian lelah bernyanyi. Kadang ia bermimpi ingin seperti Joshua, menjadi terkenal dengan bernyanyi. Tapi tak tahu harus bagaimana ia agar impiannya dapat terwujud. Mimpi tinggallah mimpi untuk orang sekecil dia, mimpi yang digantungkan jauh dilangit, entah bagaimana akan tercapai, hanya dengan mukjizat mungkin mimpi itu dapat tercapai.

Sesampainya di rumah dengan peluh yang belum kering, masih menghiasi wajah dan tubuhnya, bau matahari yang sengat, dekil yang belum hilang, ia disambut orang tuanya yang terlihat tak ramah. Terlihat seperti macan yang telah menemukan sebuah mangsa setelah puasa lebih dari seminggu. Sepertinya orang tuanya telah menantinya sedari tadi.

Orang tuanya tinggal satu, tinggalah seorang ayah saja. Ibunya pergi karena tak tahan hidup bersama ayahnya. Yang setiap hari selalu menghabiskan waktunya di meja judi dan dengan pasti ditemani minuman keras dan wanita yang senang menghibur laki-laki semacam dia. Ia punya cita-cita yang tak kalah tinggi dari anaknya, merubah nasib menjadi orang kaya lewat permainan judi. Sungguh jalan pintas untuk menjadi orang kaya, tanpa harus bersusah payah memeras keringat, tentu banyak orang yang ingin.

Sebab itu semualah ia ditinggal istrinya, karena kerjaannya hanya bermain judi, dan tak pernah menafkahi keluarganya. Istrinyalah yang berusaha mencukupi kebutuhan keluarga itu, dan dibantu anaknya yang bekerja sebagai penyanyi jalanan. Istrinya ingin membawa anaknya tapi dilarang olehnya. Ia berpikir, jika si anak ikut Istrinya, lalu siapa yang akan memberinya modal untuk bertarung dalam merubah nasib. Terjadi perebutan yang sengit, bukanlah lagi perebutan tapi telah menjadi pertempuran, untuk menentukan hak kepemilikan anak.

Istri yang merasa ia yang melahirkan dan merawat dan membesarkan serta memberinya makan hingga si anak masih bisa hidup. Tapi suami yang betapa egoisnya, mengklaim bahwa ia lah yang berhak atas si anak, karena ia sebagai kepala rumah tangga, ia yang membuat dan juga ia turut mengasuh dan membesarkannya.

Berbagai macam daya upaya, yang akhirnya si anak menjadi milik Ayah. Suatu yang tidak lazim terjadi dalam perceraian, perceraian yang tidak resmi tanpa lewat pengadilan agama, kawinnya pun tanpa lewat KUA dan penghulu. Dimana biasanya si anak ikut kepad Ibunya. Si anak tak dapat memilih, ia hanya menangis dan tak tahu apa yang dapat dilakukan, pasrah dan menerima apa adanya. Si Istri pun tak berdaya harus meninggalkan keluarganya dan darah daging yang didambanya itu dengan berat hati, dan kelak akan kembali mengambilnya di saat kehidupannya mulai membaik.

Sosok kecil itu menunjukkan wajah yang agak takut di depan Ayahnya. Dan tak perlu waktu yang lama, uang yang disimpan di dalam kantong permen besar milik si anak berpindah tangan ke Ayahnya. Diambilnya uang sekedarnya untuk membeli makan si anak dan sisanya sudah tentu akan dijadikan sebagai modal merubah nasib. Selalu marah karena hasil yang didapat kurang. Ayah bangsat yang tak tahu diri. Sungguh tak punya hati nurani. Pernah terpikir oleh si anak untuk membunuh ayahnya suatu saat. Begitu menderitanya ia hidup, tanpa ada rasa tanggung jawab yang harusnya diberikan orang tua pada anak.

Pergilah si anak untuk membeli nasi bungkus, untuk makan malamnya, agar ia bisa tidur dengan nyenyak dan bisa hidup untuk bernyanyi lagi. Si Ayah yang kejam kembali ketempat idamannya, melanjutkan cita-citanya untuk merubah nasib kehidupannya yang takkan pernah tercapai, jika usahanya hanya seperti itu.

Pulang kerumah dengan kekalahan, seperti biasanya. Dan lagi-lagi si anak yang menjadi media pelepas amarah dan kekesalan akibat kekalahannya dalam pertarungannya untuk merubah nasib. Tak tahu apa-apa, tiba si anak di pukuli, hingga anggota badannya mengeluarkan darah baru lah pukulan itu dapat berhenti. Pukulan yang diterimanya, yang telah menjadi rutinitas, lama kelamaan membuat si anak bertambah daya tahan tubuhnya, dan semakin lama pula pukulan itu mendarat ketubuhya.

Bangun pagi, saat Ayahnya masih terbuai atas mimpinya menjadi orang kaya, bergelimang harta dan dapat berbuat semaunya, anak berangkat untuk kembali bernyanyi. Dan pulang pada sore hari untuk menyetorkan uang hasil nyanyi itu kepada Ayahnya. Terjadi setiap hari, entah hingga kapan semua ini dapat berakhir. Anak yang seharusnya pada saat itu mengenakan seragam untuk pergi ke sekolah bersama teman-temannya, bermain menikmati masa kecilnya. TakIa dapat kan semua itu, entah bagaiman masa depannya, tak tergambarkan.

Ia seperti kehilangan masa-masa yang harusnya dapat dilewati orang yang seusianya penuh dengan kesenangan, tanpa harus berpikir macam-macam, hanya bermain lah pikiran yang pantas untuk anak seusianya. Cita-cita seakan sebutir pasir di jalan yang tak ada arti, tak ada guna. Dia hanya berusaha untuk bagaimana esok agar dapat melihat matahari kembali bersinar. SesekaliIa merindukan Ibunya yang tak tahu Ia akan rimbanya.

Hari itu seperti biasanya. Jalan dan lampu itu yang menjadi tempat mangkalnya. Jalan yang selalu ramai, lampu yang terus berganti tiada lelah bagai Ia tiada bosan untuk terus bernyanyi setiap ada kendaraan yang berhenti. DiajakIa oleh temannya untuk bernyanyi di dalam bis. Temannya mengiminginya uang yang didapat akan lebih banyak dibanding Ia terus bernyanyi di dekat lampu itu.

Tak banyak tanya ikut lah Ia. Benar ternyata, uang yang di dapatnya lebih banyak. Tampak wajah yang berseri-seri, wajah yang seharusnya terus tergambar padanya di usia yang sedini sepertinya. Tak terasa sepuluh bis telah Ia naiki, walau sekarang Ia harus sendiri tanpa temannya, berharap hasilnya lebih banyak lagi jika di banding Ia bersama temannya, karena harus berbagi hasil.

Bis yang ditumpanginya ugal-ugalan, dengan alasan mencari penumpang. Berdiri dengan terhuyung-huyung, seperti orang yang habis minum sebotol Vodka, untuk menahan keseimbangannya. Dengan susah payah Ia dapat menyelesaikan nyanyiannya. Ingin turun tapi bis itu malah tancap gas. Terlempar lah Ia dari pintu bis, yang melaju kencang. Menggelinding bak bola boling, orang hanya terpaku melihat semua itu.

Tak lama terjadi kerumunan orang-orang yang ingin mengetahui nasib anak itu, hanya mengucapkan kata kasihan dan terus melihat anak itu, tanpa ada yang memberi pertolongan. Akhirnya datang ambulance yang membawa sosok kecil itu ke rumah sakit. Tubuhnya tersiram darah yang keluar dari lukanya, yang ada di kepala, kaki, tangan, dan mulutnya. Kondisi yang kritis, dan sopir ambulance meramalkan kalau sosok kecil ini takkan bertahan hingga rumah sakit.

Tiba ke ruang gawat darurat, dan betul ramalan dari sopir ambulance itu, sosok kecil itu telah tak bernyawa lagi. Ia bersosok kecil, yang berjiwa besar, seorang pahlawan untuk Ayahnya yang bejat. Tersediakah tempat yang layak di sana untuk sosok kecil itu. Ayahnya masih menunggu di depan pintu rumahnya dengan kegeramannya dan penuh ambisi untuk segera menghabisi anaknya jika Ia pulang, karena penantian kali ini yang paling lama yang pernah dirasakan. Oh….sosok kecil…..200103

Orang Kaya Kok Disantuni ??

Dengan adanya televisi dewasa ini kita bisa melihat “apa saja”, kita bisa mengetahui segala sesuatunya. Fenomena atau peristiwa yang akahir-akhir ini kita bisa saksikan di televisi adalah ramainya penggusuran, terhadap mereka para penghuni “liar” kota Jakarta.  Ketidak legalan atas kepemilikan wilayah tempat tinggal yang mengakibatkan mereka digusur.

Tidak cukupnya uang yang mereka miliki yang akhirnya mereka menempuh jalan tersebut. Begitu mahalnya harga tanah sehingga mereka tidak mampu membelinya atau mendapatkan yang legal. Pada akhirnya untuk mendapatkan tempat tinggal, mereka “memanfaatkan” lahan tidur yang “tersedia” untuk dibangun tempat tinggal.

Di sisi lain, juga di televisi, kita dapat melihat begitu banyaknya, maraknya dan gegap gempitanya iklan yang ditayangkan di televisi. Iklan-iklan tersebut berisikan promosi yang dilakukan oleh bank, dengan memberikan banyak hadiah untuk menarik nasabah bagi bank tersebut. Hadiahnya berupa-rupa bentuknya, mulai dari yang berbentuk tabungan sampai rumah mewah dan mobil yang juga mewah. Ada yang diberikan secara langsung-biasanya berbentuk souvenir- dan ada yang melalui undian. Jumlahnya pun mencengangkan dan menggiurkan manusia, mencapai milyaran rupiah.

Jika memperhatikan gambaran di atas cukup ironis. Begini, secara normal penghasilan dari seseorang biasanya akan dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama, adalah untuk konsumsi, pada bagian ini penghasilan yang didapat digunakan pemiliknya untuk melakukan konsumsi. Seperti memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada bagian yang kedua, biasanya penghasilan yang didapat disisihkan oleh pemiliknya di luar bagian konsumsi. Tujuannya untuk digunakan sebagai bentuk berjaga-jaga, jika ada kebutuhan mendadak yang membutuhkan jumlah uang yang relatif besar. Uang yang disisihkan ini biasanya disimpan di bank, tempat yang relatif lebih aman dan selain itu dapat menghasilkan uang tambahan yang dihasilkan dari bunganya, di bandingkan jika hanya disimpan di bawah kasur.

Dapat dikatakan mereka yang menggunakan jasa dari bank telah relatif sejahtera. Karena mampu menyisihkan penghasilannya di luar konsumsinya. Dengan kata lain, mereka memiliki penghasilan lebih di atas konsumsi kebutuhan sehari-harinya. Lain halnya yang terjadi pada korban penggusuran-yang nota benenya penduduk miskin kota, dan juga penduduk miskin kota yang lain, yang belum terkena atau tidak kena penggusuran.

Bagi mereka jangankan menyisihkan penghasilan untuk ditabung, untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan saja sudah kembang kempis. Untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak dan legal apalagi, mungkin jauh dari bayangan mereka. Sebab itulah mereka menempati lahan tidur sebagai tempat tinggalnya, karena tidak membutuhkan banyak uang untuk tinggal di tempat itu.

Padahal kebutuhan pokok merupakan hanya sebagian saja dari konsumsi, itu saja sudah “empot-empotan” untuk memenuhinya. Sungguh ironis jika kita melihat iklan promosi televisi dari bank. Untuk mendapatkan peluang lebih besar mendapat hadiah nasabah di pacu untuk menabung dalam jumlah yang lebih banyak. Karena biasanya pihak bank menggunakan sistem poin, dimana setiap poinnya merupakan kelipatan dari jumlah nominal tersebut (contoh, Rp. 500.000 untuk 1 poin). Semakin banyak poin semakin besar peluangnya. Semakin banyak poin yang diterima semakin besar uang yang harus dismpan di bank.

Barang tentu hanya orang-orang kaya saja yang dapat melakukan hal tersebut. Kondisi ini malah semakin menjadikan orang kaya semakin makmur dan orang miskin semakin tidak ketahuan nasibnya. Orang kaya disantuni, itulah yang terjadi. Bukankah mereka yang terkena gusur yang harus disantuni? Tidakkah sebaiknya, hadiah total puluhan milyar itu, digunakan bagi pembangunan perumahan dan pemberdayaan bagi penduduk miskin kota? Bukankah “uang santunan” itu lebig baik diberikan kepada mereka yang wajib disantuni? Atau lebih baik buat bayar utang negara ini?

Jurang perbedaan dibiarkan semakin mengangajika kita perhatikan kondisi yang terjadi. Padahal bank-bank tersebut masih menyisakan kewajiban (obligasi rekap). Bank-bank tersebut masih bisa hidup karena adanya obligasi rekap. Jika obligasi rekap itu dicabut entah seperti apa “raut wajah” bank-bank tersebut.

Di satu sisi, dapat dipahami usaha promosi bank-bank itu untuk menarik nasabah. Karena secara normal, bank “hidup” dengan uang nasabah yang mereka kelola. Tapi “mbok ya tengak-tengok kiri-kanan”, melihat kondisi dan kenyataan yang ada disekitarnya. Mungkin saja disebelah gedung bank terdapat perumahan padat dan kumuh, tempat tinggal penduduk miskin. Apakah bank-bank itu tidak “menengok” ke sebelah?

Banyak hal mungkin yang lebih bermanfaat yang dapat diciptakan dari uang tersebut. Dapat digunakan lebih “tepat” lagi dibanding hanya “disebar” begitu saja. Misalnya, bank memberikan kredit lunak atau super lunak, dimana bunga yang ditetapkan sangat rendah atau mungki lebih “mulia lagi tanpa bunga. Kredit tersebut disalurkan bagi penduduk miskin kota, untuk digunakan sebagai modal usaha. Jika sulit, karena untuk membuka usaha butuh “keahlian” lain dan memiliki jiwa yang ulet dan takut dibawa “kabur” kredit tersebut, perusahaan dapat mendidirikan perusahaan.

Perusahaan yang dibuat mungkin dapat bekerjasama dengan pihak lain, baik swasta atau pemerintah. Tujuannya adalah menampung atau menciptakan peluang kerja bagi penduduk miskin. Usaha tersebut tidak perlu yang berteknologi tinggi atau padat modal. Karena dengan teknologi yang tinggi harus diperlukan skill (keahlian) tambahan, yang mungkin tidak memiliki skill yang dibutuhkan dari perusahaan yang berteknologi tinggi tersebut. Atau dengan kata lain, perusahaan tersebut menyesuaikan kondisi skill dari pekerjanya. Contohnya, pabrik tempe tahu, pembuatan kerupuk atau pembuatan roti.

Diharapkan penduduk miskin itu dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Dengan meningkatnya kesejahteraan penduduk miskin diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan lebih “aman” dan mendirikan tempat tinggal yang layak di atas wilayah yang legal. Dengan kondisi ini, penggusuran akan lenyap dari Jakarta.

Tidak mudah memang dan tidak dengan sekejap perubahan tersebut terjadi. Tapi jika ada niat dan usaha ke arah tersebut bukan tak mungkin perubahan yang diharapkan  dapat terjadi. Bukankah ini lebih bermanfaat dari pada hanya “menyantuni” orang kaya saja ? Wallahualam (ad101003)

HUTAN LINDUNG : TOLONG SAYA !?

Tanpa kita sadari, dalam setiap harinya, hutan di negeri kita ini terus berkurang seluas 1.445 kali lapangan bola. Dan dalam setahun, hutan yang “hilang” dari muka bumi Indonesia seluas Provinsi Jawa Barat. Penyebabnya adalah penebangan kayu, baik liar atau resmi. Hal lain yang ikut menjadi penyebab adalah pembukaan lahan untuk bermacam kepentingan, seperti ladang petani, pertambangan dan lain sebagainya.

Semua hal di atas “hanya” dapat dilakukan oleh manusia, sebagai mahluk yang paling sempurna di muka bumi ini. Dan motivasi dari semua itu adalah “urusan perut”. Meraup keuntungan dari hasil alam. Alam memang diciptakan oleh Tuhan untuk dimanfaatkan oleh manusia dalam menunjang hidupnya. Tapi yang terjadi, dalam batas-batas tertentu bukan dimanfaatkan tapi dirusak. Hasil alam yang beragam mulai dari air, mineral, kayu dan masih banyak lainnya lagi terutama keanekaragaman hayati. Dan alam yang diciptakan adalah sepenuhnya “milik” Yang menciptakannya, manusia sebatas “dititipi”. Namun tak semua manusia “serakah” masih ada “yang bener”, maka terciptalah apa yang disebut sebagai Hutan Lindung, guna melindungi hutan dari “gangguan” manusia.

 

Perusakan yang terjadi akan bertambah lagi ketika DPR, menyetujui keputusan pemerintah, yang memberikan izin kepada perusahaan pertambangan, yang jumlahnya 15, untuk berproduksi di areal hutan lindung. Dalam kondisi saat ini, dimana negara “butuh duit banyak”, pemerintah berada dalam posisi dilema. Berdiri diantara dua posisi, mana yang lebih didahulukan. Posisi pertama, mengeruk tambang untuk kesejahteraan rakyat sekarang, atau kepentingan jangka pendek, atau lebih memilih berada dalam posisi yang kedua, melindungi lingkungan untuk kepentingan lebih luas pada masa depan.

Dari sekitar 30 juta hektar hutan lindung di negeri ini, 15 perusahaan tersebut hanya akan melakukan survei di hutan lindung 12 juta hektar “saja”. Jika ditemukan tambang disana, tentu areal yang dibuka jauh lebih sempit dari 12 juta hektar itu. Nah, dari 15 perusahaan itulah yang nantinya pemerintah akan mendapat dana pembangunan. Yang salah satunya adalah setoran dari perusahaan tambang tersebut, yang kemudian dana tersebut digunakan untuk membangun guna kesejahteraan rakyatnya. Hal yang mendesak bagi pemerintah saat ini adalah tersedianya dana sebanyak mungkin untuk membangun dan lingkungan bukanlah prioritas utama.

Sebaliknya, mereka yang prolingkungan menyodorkan fakta bahwa membela kepentingan lingkungan bukan berarti merugikan kepentingan ekonomi. Dalam jangka panjang, lingkungan yang tangguh akan memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi pembangunan ekonomi. Jika hutan lindung yang kemiringannya sangat terjal tetap dijarah eksplorasi tambang, bisa dipastikan bahaya longsor akan mengancam dan daya tahan terhadap banjir akan lemah sekali. Kota besar seperti Jakarta telah merasakan betapa besar kerugian ekonomi dari banjir yang merendam metropolitan itu tahun lalu. Hal ini adalah contoh betapa lemahnya daya dukung kawasan lingkungan sekitar Bogor dan Puncak, yang semakin gundul dan ramai “ditumbuhi” perumahan dan vila.

Akan turut musnah juga keanekaragaman hayati hutan kita, yang paling lengkap di dunia, seiiring “hilangnya hutan”. Aneka biota di hutan Indonesia adalah sebagian dari museum hidup peradaban manusia yang tersisa. Jika akan tahu hutan akan lenyap 20 tahun atau 10 tahun mendatang, seharusnya izin eksplorasi tambang tidak direkomendasikan oleh DPR. Sambil berharap pemerintah tidak mengebaikan rekomendasi itu. Masih banyak alternatif tersedia untuk menambal kas negara.

Sebuah ayat yang dapat digunakan sebagai perenungan bagi pemerintah, DPR dan terutama seluruh manusia di jagat raya,

“Janganlah melakukan kerusakan di muka

            bumi setelah ia dalam keberesannya”. (6:65)

Kepentingan jangka pendek bukan tidak penting, tapi lebih penting adalah kepentingan jangka panjang. Tanpa ada kepentingan jangka pendek, kepentingan jangka panjang tak dapat tercapai. Melindungi dan melestarikan ciptaan-Nya adalah sebagian tugas dari manusia di muka bumi ini.

Yuk, Saling Menghargai…

Manusia sebagai mahluk sosial dan sudah merupakan  Sunatullah, untuk saling berinteraksi dan saling membutuhkan dalam “berjuang hidup”. Baik itu antar sesama maupun dengan alam, tempat dimana ia hidup. Perlu ada keseimbangan dalam pola interaksi yang terjadi tersebut, tidak berat sebelah, karena dua faktor (manusia dan alam) tersebut bukanlah sabagai substitusi (pengganti) – tidak ada yang satu, diganti dengan yang lain – tapi faktor komplementer (saling melengkapi).

Namun pada kenyataannya, hal di atas sangat sulit untuk dapat diterapkan. Jangan kan untuk menjaga hubungan dengan alam, yang bersifat pasif, dengan sesama manusia saja sulit. Maka tak heran terjadi konflik antar manusia, karena sulitnya melakukan interaksi yang baik, yang disebabkan banyak faktor penyebabnya.

Ada satu sikap yang mungkin dapat membantu dalam “melanggengkan” hubungan antar sesama manusia, yaitu saling menghargai. Sebuah sikap yang sangat mudah diucapkan namun sulit untuk dilaksanakan. Karena sikap ini terkait dengan ego dari masing-masing individu. Ego ini adalah potensi yang dimiliki oleh setiap manusia, yang kadarnya berbeda-beda setiap individunya.

Jika diamati pola hidup anak-anak dengan orang dewasa, perbedaanya lebih banyak pada soal di atas, yaitu sikap menghargai dan egoisme. Pada anak-anak, tingkat ego masih tinggi, hal ini wajar karena ia belum tahu banyak tentang kehidupan dan keberadaan orang lain. Sehingga sikap menghargai orang lain pada anak masih kurang. Semakin bertambah usia dan pengalaman yang dirasakan oleh seseorang maka mestinya tumbuh sikap menghargai dan merendahnya kadar ego yang dimiliki. Sifat kedewasaan dapat dilihat dari sikap-sikap tersebut.

Semakin dewasa seseorang, semakin banyak yang diketahui, dan makin dapat menerima keberadaan orang lain dalam kehidupannya. Sikap menghargai ini dapat dalam berbagai bentuk. Diantaranya adalah sikap dalam menghargai sebuah pendapat dan sebuah karya. Jika diamati sikap tersebut masih kurang dimiliki oleh mayoritas bangsa ini. Terutama terhadap karya, baik itu dalam wujud penemuan, penciptaan kesenian maupun pemikiran dalam bentuk tulisan.

Betapa pun tidak setujunya kita terhadap karya tersebut, cobalah bersikap untuk dapat menghargai karya tersebut. Bukan malah dengan merusak karya orang lain. Penghargaan terhadap sebuah karya orang, dengan sendirinya akan memicu tumbuhnya karya-karya yang lain, karena adanya respon yang baik.

Jika tidak setuju terhadap karya tersebut, ada baiknya jika membuat karya baru yang merupakan tanggapan terhadap karya sebelumnya atau melakukan diskusi untuk mengoreksi karya tersebut dengan si pembuatnya, bukan main rusak. Jika dalam alam demokrasi, tindakan merusak karya orang lain dapat dikatakan sebuah tindakan yang anarki.

Bersikaplah lebih dewasa, dengan berusaha untuk menghargai buah karya dari orang lain. Dengan menciptakan budaya saling menghargai terhadap sesama, yang diharapkan dapat melanggengkan hubungan antar sesama manusia. Wallahualam. (ad/250803)

KRITIS..

Kritis yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti bersifat tidak lekas percaya.  Sedangkan sikap adalah perbuatan dan sebagai yang berdasarkan pada pendirian (pendapat atau keyakinan). Jadi sikap kritis dapat dikatakan adalah suatu sikap yang tidak lekas percaya terhadap suatu hal. Atau dengan kata lain tidak langsung membenarkan sesuatu langsung dengan bulat-bulat tanpa ada telaah terlebih dahulu.

Kenapa sih kita perlu memiliki sikap kritis? Paling tidak dengan adanya sikap tersebut kita tidak mudah terjerumus dalam sesuatu yang kita tidak mengetahui akibatnya, yang mungkin berakibat buruk.

Kaitannya dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak mendapatkan banyak informasi atau bahkan yang bersifat ilmu, baik itu hal yang baik dan hal yang buruk. Kalau itu bersifat baik tak menjadi masalah, tapi jika berakibat buruk yang menjadi masalah.

Tapi tidak cuma hal yang bersifat buruk saja kita berhati-hati, terhadap informasi, ilmu atau perintah yang bersifat baik juga kita perlu kritis. Dalam artian pahamilah informasi, ilmu, dan perintah yang kita dapatkan secara lengkap sehingga kita dapat mengetahui maksud dan tujuannya dengan benar. Agar kita tidak terjebak kedalam hal yang tidak kita inginkan, terutama informasi- yang sangat mudah untuk diselewengkan.

Sikap kritis ini salah satunya dengan cara bertanya. Dengan bertanya (kepada orang yang lebih mengetahui atau paham) kita akan dapat lebih jelas mengetahuinya. Atau dengan mengecek ulang (cek dan ricek). Seperti pepatah “malu bertanya sesat dijalan”. Hal ini menunjukkan janganlah segan-segan untuk bertanya, dengan jawaban hasil dari pertnyaan kita tersebut paling tidak kita bertambah hal yang kita ketahui.

Sikap kritis ini merupakan bentuk rasa kepedulian kita terhadap sesuatu. Sikap kritis ini juga dapat sebagai filter kita, terhadap arus informasi, yang sekarang ini banyak berdatangan dari berbagai sudut. Bukan berarti informasi yang banyak itu merugikan, justru dengan sikap kritis yang kita miliki, kita dapat membandingkan mana informasi yang dapat kita percaya.

Di dalam Ajaran Islam sendiri, hal ini mungkin sama dengan tabayyun, yaitu menanyakan kembali. Di Al-qur’an terdapat ayat yang menggambarkan untuk melakukan tabayyun kepada orang fasik.

Perlunya dikembangkan potensi sikap kritis yang kita miliki, untuk mengadakan suatu perubahan kearah yang baik dan sebagai rasa kepedulian kita – yang selama ini anak muda terkenal dengan ketidakpeduliannya. Walallu’alam (ad150103)