FORMALISASI IMAM SHALAT

Kata Formal dapat diartikan resmi. Atau sesuai dengan peraturan yang sah atau sesuai norma yang berlaku umum. Sesuatu hal yang dianggap sesuai dengan peraturan yang sah atau resmi maka disebut formal. Seperti halnya dalam berpakaian. Ada pakaian formal yang biasa digunakan untuk menghadiri pesta atau acara. Dan pakaian non-formal yang hanya digunakan sehari-hari di rumah.

 

Formalisasi dapat diartikan sebagai tindakan melakukan pemformalan terhadap sesuatu. Sama halnya yang berlaku pada kata Islamisasi dan kristenisasi. Yaitu melakukan pengIslaman atau pengkristenan. Formalisasi ini juga dapat diartikan ke dalam suatu bentuk pelembagaan.

 

Dan yang terjadi disini (Masjid At-Taqwa), adalah hal yang baru berdasarkan tradisi yang berlaku disini, yaitu penetapan Imam tetap untuk Shalat berjama’ah. Walau hal ini telah berlaku dalam Islam sejak jaman dahulu. Penetapan Imam Shalat dapat dikategorikan sebagai bentuk formalisasi, yaitu formalisasi Imam Shalat.

 

Berdasarkan tradisi yang berlaku di Masjid At-Taqwa, yang menjadi Imam Shalat tidaklah tetap atau bergantian. Dengan kata lain, bahwa yang menjadi Imam lebih kepada bentuk spontanitas sesuai keadaan waktu itu.

 

Dengan kata lain, Imam Shalat tidak ditetapkan atau ditentukan sebelumnya, tapi ditentukan beberapa saat sebelum Shalat. Bahkan ditentukan setelah iqomat. Namun kali ini Imam Shalat telah ditetapkan terlabih dahulu untuk menjadi Imam tetap dalam setiap Shalat berjama’ah.

 

Secara garis besar syarat untuk menjadi Imam Shalat adalah yang paling baik dalam pemahamannya terhadap Al-qur’an, yang fasih bacaannnya dan yang lebih tua. Syarat yang terakhir bukanlah hal yang mutlak, tapi kedua syarat pertama yang dapat dikatakan mutlak.

 

Di Timur Tengah, hampir setiap Masjid selalu ada yang namanya Imam tetap. Kondisi yang terjadi disana, dimana setiap Masjid mendapatkan dana subsidi dari pemerintah. Subsidi tersebut digunakan untuk mengelola atau mengoperasionalkan Masjid, termasuk didalamnya Imam, Muazin dan Marbot (penjaga Masjid) juga mendapatkan “upah”. Maka dapat dikatakan pekerjaan sebagai Imam, Muazin dan Marbot dapat dikategorikan sebagai profesi. Dan sebenarnya talah berlaku juga di banyak Masjid di Indonesia. Namun pada umumnya Imam tetap ini disenyawakan atau berfungsi juga sebagai pengelola tempat ibadah (Masjid).

 

Yang menjadi pertanyaan, khususnya bagi orang awam dan “belum mengerti” tradisi Islam tersebut adalah bagaimana mekanisme dalam pengangkatan dan penetapan bagi Imam tetap tersebut? Bagaiman “nasib” bagi mereka yang memiliki potensi menjadi Imam, tidak ditetapkan sebagai Imam tetap atau tidak memiliki “peluang” menjadi Imam? Mungkin, untuk menjadi Imam diperlukan “training” untuk dapat terbiasa, tidak langsung tiba-tiba. Ada baiknya jika keberadaan dan fungsi Imam tetap yang merupakan “tradisi baru” disini  disosialisasikan terlabih dahulu, agar orang awam menjadi paham. Wa-llãhu a‘lam bi-l-shawãb (ad150803)

 

Mewujudkan Setengah Kemerdekaan Lagi

Merdeka adalah bebas, lepas dari tuntutan dan tidak bergantung pada pihak tertentu. Kemerdekaan adalah sebuah keadaan yang merdeka atau keadaan yang lepas dari tuntutan dan tidak bergantung pada pihak tertentu.

Berbicara kemerdekaan sangatlah luas, tapi disini lebih berbicara tentang kemerdekaan bangsa. Yang akan diperingati pada bulan Agustus ini. Bagi setiap bangsa terjajah pasti memiliki hari kemerdekaan, termasuk bangsa Indonesia. Yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945, dan pada setiap tahunnya selalu diperingati dengan berbagai acara.

Untuk dapat mendeklarasikan kemerdekaan, bangsa Indonesia mengalami perjalanan panjang. Yang menurut catatan sejarah, 350 tahun dijajah oleh bangsa Belanda dan 3,5 tahun oleh bangsa Jepang. Dan pada akhirnya dipilihlah tanggal 17 Agustus sebagai hari pendeklarasian bangsa Indonesia. Walau desakan untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan telah muncul tiga bulan sebelumnya, terutama desakan dari kaum muda, yang menganggap Jepang telah lemah setelah negaranya di bom oleh sekutu.

Sebuah perjalanan yang sangat panjang, 3,5 abad lebih atau sekitar lima generasi, bangsa Indonesia berada dalam jajahan bangsa lain. Nyawa, mental dan materiil serta masih banyak yang lain, yang telah menjadi korban akibat terjajah oleh bangsa “asing”. Bagi mereka yang berkorban, jelas bukanlah suatu pengorbanan yang sia-sia, karena akhirnya bangsa Indonesia dapat “menghirup”  kemerdekaan.

Tahun demi tahun terus berlalu, dan pada tahun ini, kemerdekaan bangsa Indonesia telah menginjak keusia 58 tahun. Jika diukur dengan usia manusia, usia 58 tahun adalah usia yang telah matang. Namun hal ini jelas berbeda, karena masa “hidup” negara tidaklah sesingkat manusia. Amerika saja telah berusia ratusan tahun usia kemerdekaannnya. Maka dari itu, dibentuklah sebuah pemerintahan yang salah satunya bertugas untuk mengelola negara agar tetap “hidup” dan dapat “dinikmati” oleh generasi-generasi penerus.

Kembali lagi ke dalam masalah kemerdekaan. Yang telah didefinisikan pada awal tulisan. Suatu keadaan yang lepas dari tuntutan dan tidak bergantung pada pihak lain. Secara jujur kita harus akui, kemerdekaan yang hakiki dan sesuai dengan apa yang telah didefinisikan sebelumnya, sangatlah sulit untuk tercipta-untuk lebih sopan dengan tidak mengatakan mustahil.

Terlihat sebuah pandangan pesimistis dalam kalimat diatas. Namun sebenarnya tidak, karena hal tersebut adalah kenyataan yang terjadi. Merdeka yang telah bangsa ini alami adalah secara militer atau fisik namun tidak dalam hal lain. Sedikit contoh, masih adanya tekanan dari bangsa lain atau intervensi dari pihak lain dalam proses pengelolaan negara.

Tekanan-tekanan tersebut datangnya dari negara-negara besar, yang mempengaruhi kebijakan dari bangsa Indonesia. Sebagai contoh, adalah dalam hal penanganan terorisme, pemisahan Timor Timur yang diikut campuri oleh Autralia dan banyak hal lain yang tak muncul kepermukaan. Ketergantungan kepada pihak lain juga masih terasa, salah satunya lewat utang luar negeri sebagai pembiayaan bagi bangsa ini. Tidak dipungkiri, ketergantungan dan intervensi terhadap IMF dan lembaga keuangan dunia lainnya-walau bukan merupakan sebuah bangsa- juga sangat terasa dalam “hidup” bangsa ini.

Namun bangsa, layaknya seperti manusia-sebagai mahluk sosial. Tentu tidak bisa mengabaikan keberadaan bangsa lain yang juga “hidup” di dunia ini. Indonesia “hidup” berdampingan dengan negara lain di dunia ini, tentu membutuhkan interaksi dengan bangsa atau pihak lain. Hubungan kerjasama haruslah dibina dan dikembangkan dengan tujuan kemakmuran dan kelangsungan “hidup” bangsa Indonesia.

Selain hubungan antar negara, juga ada organisasi atau badan-wadah hubungan anatar bangsa- yang diciptakan untuk membina dan mengembangkan hubungan itu tadi. Sebagai salah satu warga dunia, Indonesia tentu “wajib” bergabung didalamnya. Hubungan-hubungan yang terjadi ini, ditujukan untuk menciptakan sebuah keteraturan dunia dan saling “tolong menolong” antar negara, yang akhirnya mewujudkan kemakmuran bagi dunia, bukan bagi masing-masing bangsa lagi.

Dalam hubungan-hubungan antar bangsa di atas, tentu ada saling ketergantungan diantaranya. Baik dalam hubungan atau kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya. Namun yang perlu ditegaskan disini aalah pemisahan antara mana “ketergantungan” yang dibutuhkan dalam hubungan atau kerjasama dengan “ketergantungan” pada pihak lain yang membuat bangsa ini kembali seperti “terjajah”.

Sebagai bangsa yang merdeka, tentunya bangsa Indonesia haruslah berusaha mandiri dalam mengatur “kehidupan” dalam negerinya. Dan juga memiliki wibawa dalam hubungan keluar, sehingga tidak melulu dalam posisi yang lemah dan akhirnya selalu berada dalam posisi “kalah”. Hubungan yang tercipta haruslah menghasilkan sebuah “win-win’” bagi kedua pihak.

Hal-hal diatas adalah sebuah salah satu bentuk-bentuk ideal dan harapan bagi bangsa yang merdeka. Belum semuanya dapat tercapai oleh bangsa ini. Dan untk menciptakannya tidak cuma oleh pemerintah tapi juga oleh seluruh pihak yang tercakup dalam bangsa, yang diantaranya adalah rakyat. Kerjasama pihak pengelola-pemerintah-dan yang dikelola-rakyat, tentu adalah hal yang terutama dan penting dalam mewujudkan harapan dan bentuk yang ideal tersebut.

Sebagai bangsa yang besar, tentu haruslah memililki pandangan yang optimis dalam menatapkan ke depan dan menggapai cita-cita yang telah disepakati bersama, merdeka, adil dan makmur bagi semua. Namun, optimisme tersebut juga harus dijaga oleh pandangan yang realistis, agar tidak hanya menjadi sebuah utopia saja.

Tanpa mengurangi rasa hormat, dan mengabaikan jasa pahalawan, para pahlawan yang telah berkorban telah berhasil mewujudkan “setengah dari kemerdekaan” dan generasi sekarang dituntut untuk mewujudkan yang setengah lagi. Tentu kita tidak mengharapakan pengorbanan mereka sia-sia, karena salah satu cita-cita mereka adalah, agar kita dapat merasakan “hidup” sebagai negara yang merdeka.

Tugas yang telah menantang dihadapan sekarang ini adalah mewujudkan Indonesia Merdeka dari penyelewengan, kesengsaraan, keserakahan, rasa dendam, kesewenangan, ketakutan, keterbelakangan demi masa depan yang lebih bermanfaat (Cak Nur). MERDEKA, MERDEKA,MERDEKA……Wassalam. (ad170803)

WARISAN…(Naskah Drama)

WARISAN….

Narator :

Di suatu daerah yang khas dengan akar budayanya,  hiduplah dua keluarga yang mempunyai hubungan darah. Sang kakak yang lelaki dan mempunyai adik seorang perempuan. Mereka masing-masing telah berkeluarga. Mereka mempunyai masing-masing satu orang anak. Nama anaknya Mat Sani dan yang satu lagi Jammy.  Keluarga tersebut mempunyai profesi sebagai tukang becak dan satunya lagi tukang ojek sepeda. Anaknya Masih sekolah SD. Hidup satu rumah peninggalan orang tuanya, yang kemudian rumah tersebut di sekat, untuk memisahkan kedua keluarga tersebut. Hubungan kedua keluarga mereka selalu diwarnai konflik-konflik kecil, ngga orang tuanya, ngga anak-anaknya. Anak-anak mereka,  walaupun sering terjadi konflik antar mereka tetapi selalu bermain bersama, dan hebatnya jika mereka punya ‘musuh’ yang sama mereka bersatu dan sangat kompak. Kedua keluarga tersebut tidak tahu, kalau sebelum Ayahnya meninggal dunia telah menitipkan warisan kepada seseorang yang nantinya akan dibagikan kepada mereka berdua,,,,,,mmmm,,,,begini ceritanya,,,,,ooiya….cerita ini hanya fiktif belaka….jika terdapat kesamaan tempat dan nama bukanlah unsur kesengajaan jadi maafin aja dan juga harap maklum…..yuk kita tonton….

Scene I

Setting : Halaman sekolah

Waktu : Pulang sekolah

Seperti biasa setiap harinya, kedua anak tsb pulang bersama, mereka satu kelas, dan lahirnya hampir berbarengan, karena orang tuanya melahirkan dan nikahnya pun hampir berbarengan – janjian kali yee….apa kawin massal???

(Mat Sani menghampiri Jammy yang lagi sendirian ngitungin kancing baju….)

Mat Sani :

Jem, ayo balik !! lagi ngapain sih lu ??

Jemmy :

Aku lagi mikir, mau ngasih tebakan ke kamu…..apa ya ?? oh iya….

Mat Sani :

Ahhh….apaan sih lu !? anak ingusan !! sok-sok mau ngasih tebakan ke gua, pasti jayus deh tebakan lu !?

Jemmy :

Yee….biar anak ingusan gini juga ada filmnya……udah, kamu bisa tebak ngga nih?? Mobil apa yang malu untuk disebutin??

Mat Sani :

Gampang, gua tau!! (lagu mobil mogok)

Jemmy :

Salah !!! jangan blagu deh kamu….yang bener mobilang kentut !?

Mat Sani :

Bbbehhh….norak!!! apaan tuh kaga nyambung….

(Datanglah salah satu teman mereka, untuk ngajak pulang bareng….)

Bule :

Temen-taman pada mau pulang bareng sama saya tidak ? Naik becak yuk…khan lebih enak naik becak dari pada jalan kaki….nanti…(lagu Naif –piknik ’72) gimana mau tidak ???

Mat Sani :

Kaga !! nanti kalo becaknya yang narik babe gue, keenakkan di elu kaga bayar….

Jemmy :

Iya…ikut aja bapak lu ini yang narik….

Bule :

Terserah kalian saja lah…aku sudah coba menawarkan kemudahan pada kalian…baik kalo begitu aku duluan….

Jemmy :

Yah…jalan lagi….udah yuk pulang laper nih….

Mat Sani :

Nanti dulu!? Gue juga punya tebakkan buat elu, gue ngga mau kalah dari elu, anak ingusan !!! nih tebak….kalo botaknya di depan orang bilang dia pinter….kalo botaknya di belakang orang bilang dia banyak mikir…..nah kalo botaknya depan belakang, apa namanya ??

Jemmy :

Ya…plontos namanya…kaya pak Ogah…

Mat Sani :

Ngasal…mikir dikit dong….kalo orang botak di depan di bilang pinter, kalo di belakang di bilang banyak mikir, nah kalo botaknya depan belakang, jawabannya, dia pikir dia pinter….bodoh lhu !!!

Jemmy :

Sama aja ama saya, jayus !!

Mat Sani :

Satu sama….yuk kita kemon…..

Narator :

Mereka pulang berjalan kaki lagi…..bersama, bergandengan sambil bercanda ria……sesampainya di pinggir jalan tak jauh dari sebuah taman, terdapat dua orang preman. Mereka sedang nongkrong. Tempat tersebut memang selalu jadi tempat tongkrongannya. Kerja memalak anak-anak sekolah. Kebetulan kedua anak tersebut melintasi tempat itu.  Mmmm…trus apa yang terjadi ya….bagaimana dengan nasib mereka ???

Scene II

Setting : Jalanan/pinggir jalan raya yang sepi, dekat taman.

Waktu : pulang sekolah

( Perut laper- P Project)

Preman I :

Coy….udeh sarapan lu ??

Preman II :

Udah….tapi belum minum susu…..

Preman I :

Minum susu??? Preman apaan lu, pake minum susu segala !? Preman itu minumnya bir…anggur…nah elu!? susu….cemen…

Preman II :

Eh…jadi preman itu taruhannya nyawa….dia khan mesti kuat….ya minum susu kalo mau kuat….emang kalo minum bir ama anggur bisa kuat ??? kalo semua preman pikirannya kaya elu, kaga ada yang sehat lah…..

Preman I :

Bener juga ya….minum susu biar kuat, tumben otak lu lurus….eh coy liat tu ada mangsa, kayanya tajir tuh…hhmmmm…..akhirnya jadi juga gua sarapan hari ini……

Preman II :

Iya…jadi juga gua minum susu…..

Preman I :

Di otak lu susu melulu !! Udah lu panggil sana…!

Preman II :

Jangan gue dong….gue takut…elo aja, tampang elo khan kaya preman…

Preman I :

Rese luh ! Ya udah ! punya badan keker…ngakunya preman…takut…..

Preman I :

Weh…lu bedua sini !!! sini!!! (jeda-keduanya menghampiri si preman…).

Jammy :

Ada apa ya ?? Siapa kalian ??

Preman I & II :

(lagu Tasya- Anak gembala )

Preman I :

Guoblok !! lu kaga liat dandanan gue ?? gue ini Preman !!!

Mat & Jammy :

Oh…preman…preman dia…hebat ya….bisa jadi preman….

Preman II :

Udah jangan banyak omong…mana sini duit lu !!

Mat Sani :

Duit ?? mane ada duit….liat aja kite bedua pulang sekolah jalan kaki….kalo ada duit mah…mendingan naik becak…

Jammy :

Iya…yang narik bapak kamu lagi…..

Preman I :

Kampret !!! masa ngga di kasih uang jajan ama babe lu ??

Jammy :

Kemaren, kita bedua abis nyatut duit bayaran…trus ketauan…ya sekarang lagi di hukum…ngga di kasih uang jajan….

Preman II :

Ya udah tas ama sepatu lu deh….

Mat Sani :

Nih ambil kalo mau….

Preman I :

Bener-bener kampret !! apaan nih kantong plastik !!

Preman II :

Sepatunya bolong lagi….

Preman I :

Sial!!! Udah pergi sana lu berdua !!!

Mat & Jammy : (Tasya – suka cita…sambil meledek )

(Tak lama kemudian datang lah tim Buser beserta kru TV untuk meliput penangkapan preman Lagu – Du Hast)

Buser I :

Jangan bergerak !!! kalian kami tangkap…karena melakukan tindakan kriminal…melakukan penodongan dan meresahkan warga….kalian akan di jerat dengan pasal 273 KUHP.

Preman I :

Apa-apaan ini pak ??? saya ngga nodong apalagi ngeresahin warga…..

Buser I :

Kamu ngelawan ?? (dor! ) bawa dia (menyuruh anak buahnya)

Preman I & II :

(Lagu Jaja Miharja-pak hakim dan pak jaksa) Ampun pak….(sambil digiring)

Reporter :

( menghampiri Buser) Pak kenapa pelaku sampai ditembak ??

Buser I :

Dia melawan..ya saya tembak….

Reporter :

Melawan ?? mencoba kabur begitu maksudnya ??

Buser I :

Tidak….mereka tidak mencoba kabur…mereka melawan omongan saya…untuk itu saya tembak dia…(meninggalkan reporter…)

Reporter :(menghadap ke kamera)

Pemirsa…berhati-hatilah….tindakan kriminal di kota ini semakin bertambah parah saja….juga berhati-hati terhadap polisi…jangan sampai melawan omongannya..nanti salah-salah bisa ditembak….(lagu Iwa K-Dapat terjadi) waspadalah !!! Waspadalah !!! kita kembali ke studio…silakan Eva….(theme song Buser kalo ada….)

Narator :

Ingin dapat duit malah masuk bui….itu lah nasib yang diterima oleh kelompok preman yang biasa mangkal d sekitar taman….mereka tertangkap oleh tim buser…

Scene III

Setting : Di teras rumah

Waktu : Keesokkan harinya, pagi hari

Narator : Saat pagi hari, awal hari untuk beraktivitas bagi kedua keluarga harmonis ini….setiap hari selalu saja ada cerita….tapi di pagi hari ini ada yang lain yang mengubah hubungan dari dua keluarga ini…..gara-gara berita yang dibawa oleh seseorang…apa ya beritanya ?? yuk mending kita ikutin ceritanya….

 

(Lagu dangdut…..)

Ma Mat Sani :

Ngapain sih lu….sok joget niru-niru kaya inul…..

Babe Sani :

Mau diomelin ama bang aji….

Mat Sani :

Masa jogetnya kaya gini, mana enak….(menirukan gayanya soneta)

(Benyamin-laki lagi ngidam)

(Lagu Naif-hai monas) (Jammy keluar…..)

Ma Jammy :

Udah sarapan kamu nak….

Jammy :

Udah mama….bagi uang jajan dong mah….

Ma Jammy :

Minta sama papah sana….

Mat Sani :

Jam….ayo brangkat…ntar telat dijemur lagi…

Jammy :

Pah…mah…do’akan Jammy agar berhasil dalam menuntut ilmu, dan Jammy bisa jadi orang yang diharapkan papah dan mamah….Brangkat dulu pah…mah….Assalamu’alaikum….

Pa dan Ma Jammy :

Walaikumsalam…hati ya nak….

Mat Sani :

Nyak…..(Benyamin-Minta Duit)

Ma Sani :

Uang mulu….!!! kaga ade!!! Duit bayaran aje elu mbat (sambil ngejewer…)

Mat sani :

(Benyamin-Di patil ikan sembilang)

Be..Nyak..sani brangkat ya…Assalamu’alaikum…

Babe dan Ma Sani :

Walaikumsalam…..

(kedua anak tersebut bergegas berangkat….lalu mat sani kembali lagi kerumahnya dengan buru-buru, untuk memberitahu kepada orang tuanya….)

Mat Sani :

Be…ada orang nyari tuh…..pakaiannya necis…..pake dasi segala lagi….Utang babe udah dibayar belum…siapa tau dia mau nagih lho…

Babe Sani :

Yang bener luh….eh ayo pada masuk!! (sambil mengajak yang lain) Ada yang mau nagih utang….

(Mat Sani kembali bergegas brangkat)

(masuklah si pengacara- lagu naif- Johan & Eny)

 

Pengacara : (logat batak )

Permisi…permisi….ada orang di rumah ini….saya bukan mau nagih utang…jangan pada takut….saya malah mau ngasih rezeki…..

Babe Sani :

Mmm…maaf saudare mencari siapa ya ??

Pengacara :

Benar ini rumah Pak Sabeni ??

Babe sani :

Ya..itu babe saye…ada apa ya???

Pengacara :

Saya ingin menjelaskan sesuatu…tapi saya harap seluruh keluarga Pak sabeni untuk berkumpul disini…

(seluruh keluarga keluar…)

Pengacara :

Apakah semua sudah berkumpul ?? Baiklah saya adalah seorang pengacara atau notaris…maksud kedatangan saya ingin menceritakan sesuatu….jadi pada suatu malam…waktu itu saya sedang sendiri di kantor…dan begini ceritanya….Pak Sabeni datang kepada saya untuk memberikan kuasanya kepada saya sebelum beliau meninggal. Untuk membagi warisan yang dimilikinya….

Ma jammy :

Apa itu ??? eh…tapi saya belum tahu siapa nama bapak ??

Pengacara :

Oh maaf…nama saya…Jon Pelit Tampangbloon…pengacara tenar, handal dan jaminan mutu…

Babe Sani :

Mmm….kaya obat nyamuk jaminan mutu….

Ma Sani :

Iya keliatan…pelit…celananmya aja cingkrang…trus tampangnya juga…bloon…

Pengacara :

Kalian bagaimana pula…mau ditolong malah menghina…ya sudah, saya pulang saja kalo begitu….

Pa Jammy :

Oh…jangan pak…trus warisannya gimana dong….maaf kan kami….

Pengacara :

Baik, lain kali jangan di ulangi ya….ada dua macam warisan….satu sepeda dan yang satu lagi tanah…menurut almarhum….untuk pembagiannya sesuai kesepakatan kalian…siapa yang mau sepeda dan siapa yang mau tanah…..

Babe Sani :

Mmmm…sebagai anak pertama…jelas sayalah yang berhak atas tanah warisan tersebut…

Ma Jammy :

Enak aja….tapi khan saya anak kesayangannya…abang biar anak pertama juga ngga disayang…jadi saya lah yang berhak….

(suasana kisruh…mereka saling berebut) (Benyamin-Kompor meleduk)

Pengacara :

Diam!!! Diam!!! Kok malah rame….kalau begini…mending kalian musyawarah dulu siapa yang berhak atas tanah dan sepedanya…besok lusa, sore hari saya akan kembali….dan telah ada kesepakatan dari kalian…permisi….oh iya…besok lusa tolong disediakan minum buat saya…saya disini khan tamu…masak ngga disuguhin apa-apa…

Narator :

Terjadi konflik antar kedua keluarga tersebut…gara-gara warisan…..yah….susah memang kalau sudah berurusan dengan yang satu ini…seringnya selalu berantem….berebut….padahal itu semua kan cuma pemberian belaka….bukan hasil sendiri….payah….

Scene IV

Setting : lapangan tempat bermain

Waktu : sore hari

Narator :

Biasa….masa kanak-kanak adalah masa yang indah…yang ada hanya bermain…bermain dan bermain…..begitu juga dengan kedua bocah ini….mereka juga senang bermain…..main apaan ya mereka ?? yuk kita intip…..

(Benyamin-Ondel-ondel)

Mat Sani :

Siapa dulu nih yang jalan…?

Tole :

Aku…awas……nih…..aduh….kok ngga kena sih padahal aku udah latihan dan minum milo setiap hari…..

Jammy :

Emang kamu latihan apa ??

Mat Sani :

Udeh buruan lu!! jalan sekarang!! anak ingusan….

Jimmy :

Iya…kamu bawel amat sih…takut kalah ya…..uhuy kena!!! Asoy….

Mat Sani :

Wah…curang lu !!! ngga bisa !! aci-aci….

Jammy :

Kamu ngga bisa gitu dong….dasar….bener apa yang dikatakan bule….ternyata kalau bermain, kamu selalu curang….aku tak sudi lagi bermain dengan mu….heh….

Mat Sani :

Eh…apa lu bilang….kata bule, elu tuh…kalo maen pasti curang….gue ngga percaya lagi ama lu!!!

Tole :

Eh…kalian gimana sih…Cuma mainan aja berantem…mana satu sodara….eh….tadi gua denger….kata bule-kata bule…jangan-jangan bule sengaja mau ngaduin elu bedua….

Jammy :

Iya juga…..gara-gara kemaren ngga mau ikut pulang bareng dia kali ya….

Mat Sani :

Wah…dasar bule….dari jaman dulu senengnya ngaduin orang aja…gue ngga bakal mau maen ama die lagi!!

(Bule dateng……)

Bule :

Hai teman-teman…..maen apaan sih ?? kalian mau maen bareng aku ngga??? Aku baru dibeliin PS tuh….asik deh…dari pada maen gundu, kotor semua..mau ngga ???

Jammy :

Maen PS san….yuk…ikut aja…dari pada disini…maen gundu…ntar kuku kita kena tanah, cacingan deh….

Mat Sani :

Lu tuh…cacingan…tapi boleh juga…nyoks….eh ikut sekalian ngga Le….??

Tole :

Ngga…bentar lagi mau bantuin emak..ngambil dagangan…

Jammy :

Terserah deh…kita cabut yuk….

(pada pergi….)

Tole :

Gimana sih mereka…tadi bilang sebel ama bule…diajak enak dikit buntutin…dasar plin-plan….

Narator :

Kedua anak itu akhirnya nunut si bule…walau sebelumnya mereka mengatakan tak akan main lagi sama bule….gara-gara di adu domba…tapi apa daya…saat diajak main PS yang jauh lebih modern di banding gundu mereka tergiur….mudah-mudahan sikap mereka bukan cerminan dari bangsa ini…plin-plan….kalo kata Mandra mesti punya prinsip dong….

Scene V

Setting : Ruang keluarga

Waktu : Pada malam hari

Narator :

Esok adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua keluarga ini….pembagian warisan….di dalam rumahnya masing-masing keluarga saling mengatur strategi untuk mempersiapkan esok hari, penentuan warisan. Seru juga atur stategi mereka….mari kita perhatikan satu-satu mulai dari keluarga si Jammy lalu keluarga Mat Sani…..

Jammy :

Pah…mah…Jammy sudah selesai ngerjain PR sekarang mau tidur dulu….biar besok bisa bangun pagi….

Pa Jammy :

Selamat tidur ya nak….(lagu Naif-tidurlah)

Ma Jammy :

Gemana besok pah ?? kalo kita dapat sepeda betapa ruginya kita…sepeda ojek papah saja belom abis…..lagi pula….sepeda warisannya bisa ngga nanti buat narik….

Pa Jammy :

Iya mah…..seperti kata mamah….mamah sebagai anak kesayangan…sudah sepentasnya kalau tanah itu menjadi milik mamah…..kita ngga boleh begitu saja mengalah…..

Ma Jammy :

Tapi mereka juga pasti tak akan mengalah….abang Sani sebagai anak pertama pasti akan bertahan untuk mendapatkan tanah juga…..

Pa Jammy :

Kalo ngga mempan pake alasan kamu anak kesayangan…bilang saja…kita udah punya sepeda….sedang mereka belum….atau mending begini…kita ajak kerjasama tuh pengacara….nanti kita kasih bagian ke dia…beres khan….

Ma Jammy :

Bener juga pah…..papah yang ngomong ya…..

Pa Jammy :

Ok…udah malem, bobo yuk….

(di pihak lain……)

Babe Sani :

(nyanyi nina bobo-kaya iklan molto…..untuk menidurkan anaknya)

Ma Sani :

Bang udeh ah….tuh anak bukan tidur tapi pingsan….gara-gara bau mulut abang….

Babe Sani :

Eh…lu kurang ajar ya…..serba salah gua….kalo gua cuek…dibilang ngga perhatian ama anak…giliran begini…malah disangka bikin pingsan anak….trus gua harus ngapain baiknya….ya udah kalo gitu mending tidur sekarang (Benyamin-Lampu merah)

Ma Sani :

Apaan sih…mending ngurusin buat besok dulu….apa abang mau cuma dapet sepeda….paling-paling sepeda butut….sepeda jaman perang…..

Babe Sani :

Kaga…kita mesti dapetin tuh tanah…gua anak pertama…enak aja dia yang dapet….udah gampang besok mah….mending kita tidur…trus mimpi jadi juragan tanah…..dan elu kaga pake daster kumel kredit kaya sekarang ini lagi….baju harus baju yang bermerek…jangan sampe malu-maluin gue sebagai juragan tanah…..

Narator :

Tak ada yang mengalah rupanya…waktu tenggang yang diberikan juga tak berarti….masing-masing dari mereka masih terus bertahan memperjuangkan tanahnya masing-masing…eh…tanah Babe nya……

 

 

Scene VI

Setting : Teras Rumah

Waktu : Sore hari

Narator :

Inilah hari pamungkas, hari penentuan warisan, hari serah terima. Sungguh menegangkan….aroma permusuhan merebak….mereka seakan tak sadar kalo mereka sebenarnya satu keluarga…tinggal serumah….walau disekat…..tapi hanya karena warisan…yah…begini jadinya…..bagaimana ya akhirnya ?? Siapa nanti yang dapet tanah ???

 

(Babe Sani nunggu….sambil kilik kuping…lagu Benyamin-kilik Kuping)

(yang lainnya keluar…..menanti bersama)

Pengacara :

Permisi….Wah…….kelihatannya sudah pada siap…..sudah ada kesepakatan ?? oh iya….jangan lupa suguhan buat saya….jangan kaya kemarin….ngga di suguhin apa-apa….eh malah pada ribut sendiri…..

Babe Sani :

Tuh…lu buka….ketutupan koran….

(membuka tutup makanan Lagu Gethuk)

Pa Jammy :

Pak pengacara…bisa kita bicara sebentar empat mata….

Pengacara :

Waduh…..tidak bisa pak…..saya tahu maksud bapak….saya pengacara profesional, perlu diingat….saya juga punya integritas yang kuat….lagi pula saya orangnya tidak suka ikut tren….sekarang khan lagi trennya KKN….

Babe Sani :

Ape lagi tuh….ada tambahan warisan lagi….??

Pengacara :

Wah…sekolah dulu pak biar ngerti…

Babe Sani :

Wah….sombong lu ya……emang nyari ilmu cuma dari sekolah……gua rasa lu bisa lulus juga karena lu hebat nyonteknya…iya khan…

Pengacara :

Ahh…sudah…itu bukan hal penting…..sebelumnya saya ingin kita sepakat dulu…sekarang ngga ada satu hal yang gratis….begitu juga saya…..saya disini bekerja…dan berhak menerima imbalan….kita sekarang sepakati dulu imbalan buat saya…..dan pembagian pembayarannya…..

Ma Sani :

Kalo gua dapet tanah…..berape juga gua bayar….. sekalian gue beliin celana baru biar ngga cingkrang, trus ama operasi muka lu biar kaga keliatan bloon….

Pengacara :

Baik….saya sebagai pengacara atau notaris yang hebat dan handal….dan salah satu pembela dari mantan presiden…..saya punya tarif tertentu…..tapi untuk kalian saya pasang yang paling rendah saja….1 juta bagaimana……

Ma Jammy :

Mahal amat…

Pa Jammy :

Tenang mah….kalo kita dapet tanah…jangankan sejuta….dua ember duit receh juga kita kasih…

Pengacara :

Ok…kalau sudah sepakat….sekarang saya akan bertanya tentang kesepakatan kalian….siapa yang berhak atas tanah ??

Semuanya :

Saya !!!

Pengacara :

Yang berhak atas sepeda??

Semuanya :

Dia !!!

Pengacara :

Gemana sih ini…kok semuanya sama….

Babe Sani, Ma Jammy, Ma sani dan Pa Jammy saling sahut-sahutan….saya….saya…

Pengacara :

Stop!! Stop!! Begini…saya tawarkan cara untuk menentukakannya…dari pada ribut ngga kelar-kelar…..kedua belah pihak ditentukan dengan melakukan, suit !!! ya bagaimana ?? Ini cara modern dan ampuh dalam menyelesaikan konflik…tak akan ada korban jiwa…..

Babe Sani :

Suit !? wah…dari kecil kalo di suruh suit gue kalah terus…mending elu aja gih….(menyuruh Ma sani)

Ma Jammy :

Saya yang maju ya pah….dulu kecil….mamah dijuluki ratu suit….

Pengacara :

Ok…

(lagu Project Pop-tuwagapat) (sampai tiga kali)

Ma Sani :

Hore…..bang kita menang !!!

(Benyamin-yang paling enak)

Babe Sani :

Wah…lu bener-bener hebat….makanya gue pilih elu jadi istri gue…..jago suit..!

(Benyamin-hujan gerimis)

Pa Jammy :

Ya sudah lah….mau dikata apa…cup-cup-cup….

Pengacara :

Ya….kalo sudah begini….khan jelas semuanya….sekarang pada tekan nih….dan jangan lupa komisi buat saya….

Babe Sani :

Aduh-duh…(pulpennya nyolok kemata)

Ma sani :

Apa-apaan sih bang….

Babe Sani :

Biar lucu….kaya di srimulat….

Babe Sani :

Lu mau minta apa sekarang…??

(ngambil warisannya…..)

Pengacara :

Nih…sepedanya….sepeda BMX canggih….tapi ngga bisa buat narik pa…..dan ini tanahnya….

Babe Sani :

Apaan nih….tanah cuma sekantong plastik gini….ini buat nanem pu’un di pot…..lu jangan korupsi dong !!!

Pengacara :

Apanya yang korupsi…ya itu yang dititipin ama Pak Sabeni…..ngga saya tambahin apalagi saya kurangin….

Ma Sani :

Gemane jadi juragan tanah,  kalo cuma punya satu plastik gini…..

Pengacara :

Ya sekarang masalah komisi saya….gimana cara bayarnya….

Pa Jammy :

Gemane mau bayar…tuh sepeda harganya aja, ngga nyampe sejuta…

Babe Sani :

Kaga ada bayaran dah buat lu…..kalo lu mau tanahnya, gih lu ambil aja sono….

Pengacara :

Yah….apes….kerja ngga di bayar…amal lagi saya deh…..tapi tidak apa, saya ikhlas ….yang penting kalian harus pada rujuk lagi….hubungan kalian sebagai saudara jangan sampai putus….baru hubungan satu keluarga aja udah berantem, bagaimana bangsa ini bisa bersatu….

Babe sani :

Bener…maafin gue ya….kita bedua masih saudara kandung…kalo kita bedua trus berantem gimana ama babe yang ada disana…ngeliat anaknya yang cuma dua kaga rukun (nyamperin Ma Jammy)

Ma Jammy :

Iya bang….maafin saya juga ya…..

 

Babe Sani :

Kita sekarang mesti rukun…..kaga ada lagi permusuhan diantara kita….

Pengacara ;

Nah….begitu khan adem…..ada Warisan yang lebih penting lagi….yaitu warisan perjuangan dari para pahlawan….kita semua punya kewajiban untuk meneruskan perjuangan mereka….

(Sherina-persahabatan)

Narator :

Yah…begitu deh akhir cerita ini….warisan bukan buat rebutan….warisan ada, karena yang mewarisi bertujuan agar yang diwarisi dapat lebih baik hidupnya…bukan malah pada berantem…dan benar apa yang di katakan oleh pengacara…warisan yang lebih penting adalah warisan perjuangan….kita harus bersama bersatu untuk membangun bangsa ini agar lebih baik…mencapai bangsa yang adil dan makmur…..MERDEKA……sampai jumpa dilain waktu bersama Teater Rumah Kosong……salam damai…….

 —-SELESAI——–

2003

SEMARAK DEMOKRASI

Pintu demokrasi terbuka pada saat terjadi reformasi pada tahun 1998 lalu. Yang ditandai oleh jatuhnya simbol keotoriteran republik ini. Proses demokratisasi yang sedang berjalan sampai saat ini dan belum mencapai tataran ideal yang diharapkan, dan ada tanda-tanda proses pelambatan atau mungkin penghambatan dari yang tak ingin terciptanya demokrasi, yang mungkin disebabkan oleh terancamnya posisi yang dimilikinya saat ini jika proses demokratisasi berjalan dengan benar.

Kebebasan mengemukakan pendapat, kebebasan berkumpul dan kebebasan pers merupakan hal yang dapat dipetik dari terbukanya pintu demokrasi di republik ini. Begitu juga menjamurnya parpol-parpol baru, yang mengusung ide, gagasan dan misi-misi tertentu.

Fenomena ini sangat menarik untuk diamati. Saat ini jika kita berkeliling kota Jakarta atau bahkan keliling republik ini, kita akan banyak mendapati berbagai bentuk macam atribut partai yang terpampang di berbagai tempai. Baik itu bendera, spanduk, pamflet atau hal lain yang dapat digunakan sebagai media “iklan”. Dan terpasang di berbagai sudut tempat, baik jalanan, gedung sampai kerumah.

Sebagai bentuk demokratisasi, yaitu bebas mengekspresikan diri, hal ini tentu saja sulit untuk “ditolak”. Namun demokrasi itu bukan tak ada batasnya, atau rule-nya. Jika tak ada batasan atau rule maka yang terjadi adalah anarki, jika dikaitkan dengan hukum ekonomi, dimana anarki terjadi karena permintaan akan demokrasi lebih besar dibanding dengan penawaran demokrasi.

Kembali pada fenomena pemasangan “iklan partai” yang terjadi diberbagai tempat itu tadi, memberikan kesan begitu semaraknya demokratisasi yang terjadi di republik ini. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah fenomena itu hanya simbol untuk menunjukkan adanya demokratisasi atau memang proses demokratisasi yang sesungguhnya ? Anehnya pemasangan “iklan partai” tersebut terjadi saat masa kampanye masih jauh.

Selain itu, pemasangan “iklan partai” itu juga terkadang tidak memperhatikan nilai-nilai estetika dan terkesan “merusak pemandangan”. Kota Jakarta yang sudah semrawut ini akan tampak lebih semrawut dengan adanya “iklan-iklan” itu tadi. Walaupun warna-warni seperti pelangi, jika tidak memperhatikan nilai estetika dan “kesopanan” tempat akan tampak tak karuan.

Fenomena pemasangan “iklan” tersebut masih belum berakhir, karena “ajang semestinya” masih belum tiba. Bisa dibayangkan jika “ajang semestinya” tiba, seperti apa wajah dari kota ini yang akan dipenuhi oleh “iklan-iklan” tersebut.

Untuk itu, sangat menghimbau kepada pihak yang berwenang untuk “merapikan” “iklan-iklan” tersebut dengan menerbitkan peraturan. Yang tujuan menjaga pemandangan kota ini agar tetap nyaman dan sedap untuk dipandang. Dapat dikatakan pemasangan “iklan” tersebut dapat dikatakan polusi pemandangan.

Peraturan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai bentuk penghambatan demokrasi. Justru peraturan yang dibuat menunjukan demokratisasi, karena peraturan ini memberikan “penghormatan” bagi mereka yang merasa terganggu.

Dalam demokrasi terdapat persamaan hak, dan bentuk saling hormat-menghormati, hal inilah yang mendorong untuk diciptakannya peraturan untuk merapikan “iklan partai”. Wassalam. (ad) 230503 pan6� ye�) `� mily:”Calisto MT”,”serif”‘>Bagi “penghuni” Masjid tentu saja memegang peranan penting. Banyak dari “mereka” yang “jarang” datang ke Masjid merasa canggung dan terasing, yang disebabkan “sambutan” yang diberikan oleh “penghuni” Masjid yang seakan menciptakan suasana “dingin”. Menciptakan keakraban, keramahan dan rasa kekerabatan sehingga membuat nyaman bagi siapa saja yang datang ke Masjid, sehingga tak ada lagi orang yang merasa canggung dan asing lagi. Menjadikan Masjid seperti rumah umat Islam, selain tentunya rumah Allah, adalah pekerjaan bersama sebagai upaya memakmurkan Masjid. Wallahualam  (ad280103)

“SAKRALISASI” MASJID

Sakral yang memiliki arti keramat. Sedang sakralisasi adalah bentuk kata benda dari sakral yang merupakan kata sifat. Sakralisasi hanyalah sebuah istilah untuk menyebutkan suatu tindakan mensakralkan sesuatu, atau mengekramatkan sesuatu.

Masjid lebih dikenal dengan rumah Allah, Sang Pencipta Alam Semesta ini. Masjid adalah tempat yang suci. Tempat bagi umat muslim untuk melakukan ibadah yang bersifat ritual, seperti shalat. Karena tempat ibadah yang bersifat ritual itulah, masjid banyak disakralkan oleh banyak orang.

Pada jaman Nabi dahulu, masjid dibangun sebagai sarana beribadah dan juga sebagai pusat kegiatan umat Islam pada masa itu. Masjid memiliki fungsi yang komplek. Memiliki banyak kegunaan, tidak hanya sebagai sarana bagi orang yang melakukan shalat saja.

Dengan berkembangnya jaman, untuk memudahkan urusan-urusan keduniawian mulai di bangun sarana penunjang dalam melakukan kegiatan. Seperti, tempat pemerintahan, pangadilan atau pun lembaga lainnya yang bersifat keduniawian. Semua itu berkembang seiring komplektisitas dari kehidupan manusia. Dan akhirnya, kebanyakan masjid pada saat ini lebih banyak hanya sebagai sarana ibadah shalat dan paling-paling tempat penyembelihan hewan kurban saat hari raya Idul Adha.

Semakin terseleksinya kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Masjid menjadikan masjid menjadi tempat yang sakral, inilah yang disebut sakralisasi. Terjadi sakralisasi ini menjadikan masjid memiliki suasana yang berbeda, seperti, tempat bagi “mereka” yang merasa dirinya suci saja yang dapat memasukinya. Hal ini dapat dilihat banyaknya masjid yang terasa kosong karena hanya diisi oleh “mereka” yang merasa suci saja. Akhirnya, banyak orang yang merasa dirinya “belum suci” tidak berani untuk melangkahkan kakinya ke Masjid.

Masjid memang tempat yang suci dan harus disucikan, karena bagaimana  pun Masjid adalah tempat ibadah, tapi memberi kesan yang terlalu berlebih akan menyebabkan keengganan dari orang untuk mendatangi masjid. Adab-adab Masjid yang berlaku pun seyogyanya tetap dilaksanakan, karena setiap tempat dipelosok bumi ini pasti memiliki adab yang berbeda sesuai dengan budayanya.

Dan menjadi bahaya bila “pensucian” itu melebihi tingkatannya atau melebihi batas kewajaran. Sekali lagi Masjid adalah tempat yang suci, dan harus lah dijaga baik itu keberadaanya dan kebersihannya. Tapi jangan sampai “menuhankan” masjid.

Kesan yang timbul adalah “pengistimewaan”. Sehingga akan terjebak pada sebuah pandangan Masjid sebagai “tuhan”atau dengan kata lain menuhankan MAsjid.

Dalam penerapan adab-adab, janganlah terlalu keras terhadap orang yang belum memahami adab tersebut karena akan menimbulkan antipati. Yang menjadi tantangan adalah menciptakan suasana masjid yang nyaman dan ramah. Bagaimana  dapat membuat orang memandang masjid seperti rumahnya sendiri, sehingga akan timbul rasa betah dan keinginan untuk kembali lagi.

Orang-orang yang berada di dalam Masjid pun paling tidak ikut mendukung memberikan suasana yang nyaman dan menciptakan keakraban, sehingga orang yang baru atau jarang datang ke Masjid dapat merasa nyaman, bukan sebaliknya memandang sinis, aneh atau pun heran, kepada orang yang baru sekali masuk Masjid. Karena Masjid pada dasarnya adalah tempat yang terbuka bagi siapa saja umat Muslim, tak ada otoritas kepemilikan yang mutlak seperti rumah, Masjid adalah milik seluruh umat Muslim.

Memberikan fungsi yang lebih terhadap Masjid, seperti untuk kegiatan sosial bukanlah sebuah tindakan yang dilarang oleh agama. Dengan begitu Masjid  akan semakin memberikan manfaat bagi orang banyak. Dan terpenting adalah suasana di dalam Masjid.

Bagi “penghuni” Masjid tentu saja memegang peranan penting. Banyak dari “mereka” yang “jarang” datang ke Masjid merasa canggung dan terasing, yang disebabkan “sambutan” yang diberikan oleh “penghuni” Masjid yang seakan menciptakan suasana “dingin”. Menciptakan keakraban, keramahan dan rasa kekerabatan sehingga membuat nyaman bagi siapa saja yang datang ke Masjid, sehingga tak ada lagi orang yang merasa canggung dan asing lagi. Menjadikan Masjid seperti rumah umat Islam, selain tentunya rumah Allah, adalah pekerjaan bersama sebagai upaya memakmurkan Masjid. Wallahualam  (ad280103)

DAMPAK PERANG TERHADAP EKONOMI

Banyak aspek terkena dampak dari Perang Irak. Dari aspek kemanusiaan jelas dampaknya sangat-sangat merugikan, tak ada lagi nilai kemanusiaan yang tersisa dalam sebuah perang. Dampak politik, khususnya politik luar negeri, yaitu berubahnya peta politik dunia. Bagaimana dengan dampak ekonomi, dimana yang satu ini ‘berurusan dengan perut’.

Jika kita melihat perekonomian kedua negara yang berperang, Iraq dan Amerika, jelas sangat terasa. Bagi Iraq, setelah perekonomian mereka ‘berantakan’ akibat embargo ekonomi yang terjadi selama kurun waktu 12 tahun akan semakin tak tergambarkan dengan terjadinya perang ini. BagiAS, menurut Stephen Roach ekonom AS, perekonomian negaranya akan mengalami perlambatan dengan perkiraan pertumbuhan hanya dua persen. Menurut dia, sekitar 40% ekonomi Amerika akan terancam resesi akibat invasi yang terjadi. Hal ini akan terjadi pada pertengahan tahun ini jika serangan AS ke Iraq berkelanjutan. Defisit anggaran akan semakin ‘membengkak’ akibat adanya pemotongan pajak. Nilai tukar dolar semakin melemah terhadap Euro.

Berbeda dengan pernyataan Faisal Basri,”sementara itu, beberapa industri justru terbantu dengan adanya perang. Stok di gudang-gudang senjata yang selama ini menumpuk segera susut, dan tentunya posisi itu akan digantikan oleh produksi senjata baru yang lebih canggih. Biaya perang, ditanggung renteng di antara para anggota sekutu, terutama negara-negara Timur Tengah yang selama ini memandang Presiden Irak Saddam Hussein sebagai ancaman langsung bagi mereka”.

Menurut dia, bagi kebanyakan negara di seluruh kawasan dunia, perang dipandang sebagai bencana. Tak hanya karena perang mengancam peradaban umat manusia, melainkan juga karena membuat kehidupan bertambah sulit. Ketegangan akibat rencana penyerbuan saja sudah membuat perkiraan pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa terpangkas dari 2,8 persen menjadi hanya 1 persen. Jepang yang optimistis pertumbuhannya tahun ini bisa menembus di atas 1 persen, terpaksa harus menerima kenyataan, cuma tumbuh sekitar 0,4 persen.

Sungguh ironis. Negara pemicu perang justru berpotensi memperoleh keuntungan. Sebaliknya, negara-negara lain dibuat susah olehnya. Yang paling terkena dampak perang ialah negara-negara yang memiliki tingkat keterbukaan relatif tinggi, khususnya bergantung pada perdagangan luar negeri. Semakin tinggi proporsi ekspor dan impor barang dan jasa suatu negara terhadap produk domestik brutonya, semakin besar pula dampak perang terhadap pertumbuhan ekonomi. Perekonomian Indonesia tergolong memiliki tingkat keterbukaan yang relatif sangat tinggi.

Bagaimana perang ini memberi dampak bagi perekonomia negara Indonesia. Berdasarkan analisis Drajad Wibowo ekonom Indef, ada dua kategori dampak yang terjadi. Pertama, dampak langsung yang terkait dengan terganggunya ekspor ke Timur Tengah dan berkurangnya penerimaan devisa TKI di Timur Tengah. Kedua, dampak tidak langsung terkait dengan prospek perdagangan global, kemungkinan meningkatkan suku bunga dan tingginya harga minyak. Semakin lama perang ini terjadi akan semakin berdampak terhadap ekonomi Indonesia, turunnya volume ekspor dan turunya devisa TKI akan mengakibatkan turunya laju pertumbuhan ekonomi. Target pemerintah pada angka 4 persen akan sulit untuk ‘dapat dikejar’.

Untuk itu diperlukan segera langkah-langkah yang dikiranya dapat membendung dampak yang terjadi bagi perekonomian Indonesia. Menurut peneliti CSIS Ari A Perdana, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi dampak ini. Pertama, adanya pengalokasian windfall profit (keuntungan kenaikan harga minyak) untuk subsidi dan digunakan sebagai dana cadangan, dimana dalam APBN pemerintah mematok harga minyak pada harga US$ 22 per barel sedangkan harga minyak sekarang berkisar pada tingkat US$ 30 an per barel. Kedua, penguatan pasar domestik, sebagai pengganti terhadap pasar barang-barang ekspor. Ditambahkan oleh Faisal Basri, selain memperkuat pasar domestik juga mengamankannya dari rongrongan barang impor. Dimana barang impor yang ilegal tidak dapat di toleransi. Menghapuskan segala rintangan yang menghambat produksi dan pendistribusiannya di dalam negeri. Sudah saatnya pemerintah lebih banyak memusatkan diri pada persoalan ini ketimbang merancang beragam insentif bagi peningkatan ekspor. Paling tidak, pemerintah menawarkan kebijakan-kebijakan yang menjamin netralitas insentif antara yang berorientasi ekspor dan pasar dalam negeri.

Langkah yang terpenting untuk menahan dan menghentikan dampak yang terjadi adalah menghentikan perang!!! Sehingga tak ada lagi korban-korban yang bertambah, baik itu nyawa manusia atau ekonomi Indonesia, bahkan dunia. Perang selalu mengakibatkan kesengsaraan, hanya kepuasan semua yang cuma dapat dinikmati oleh ‘iblis’ saja. (ad040403)

Bergesernya Tujuan Awal

Seperti diketahui, baru saja  menginjakkan kaki di tahun yang baru, sudah dikejutkan dengan “kado” dari pemerintah dengan menaikkan tarif dan harga BBM secara “kompak”. Pupus sudah optimisme dan harapan yang digantungkan untuk dapat hidup lebih baik di tahun yang baru ini.

Dampaknya? jelas saling “berlombanya” harga-harga barang atau jasa yang lain dengan alasan penyesuaian biaya produksi. Juga yang tidak ketinggalan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari buruh, ibu-ibu, rekan-rekan mahasiswa, aktivis-aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyrakat), sampai pengusaha. Mereka tergabung dalam bermacam-macam koalisi, dengan satu tuntutan untuk mencabut kebijakan yang ditetapkan, atau menurunkan harga.

Aksi yang tak kenal lelah yang dilakukan kawan-kawan, yang terjadi setiap hari di tengah teriknya matahari yang “menaungi” aksi demonstrasi. Istana negara, bundaran HI, sampai gedung MPR/DPR menjadi tujuan aksi para demonstran. Bahkan akhir-akhir ini mulai “menjamur” dengan menyandera truk tangki BBM dan SPBU, sebagai sarana demonstrasi, pemboikotan kepada pemerintah, sampai melakukan mogok makan sebagai sikap protes atas kebijakan pemerintah.

Kenaikan yang terjadi ini tanpa memperhitungkan daya beli atau kemampuan keuangan rakyat. Sehingga akan menambah berat beban rakyat, Kehidupan yang belum membaik selama terjadi krisis, ditambah lagi kenaikan harga seakan membuat rakyat terus ditenggelamkan ke dalam situasi krisis yang tak berujung.

Selama ini kebijakan-kebijakan yang diambil dan dilakukan oleh pemerintah tidak memuaskan dan cenderung memihak kaum “penjahat” dan konglomerat.

Tidak kunjung tegaknya supremasi hukum, lambannya tindakan pemberantasan KKN, pemberian vonis bebas kepada koruptor BLBI, atau yang masih hangat pemeberian realease dan discharge (bahasa kerennya pengampunan) kepada para pengutang yang tak bertanggung jawab. Hal ini semakin memperlihatkan tidak berpihaknya kebijakan yang diambil oleh pemerintah kepada “wong cilik”.

Pada jaman sekarang ini sangat wajar terjadi aksi demonstrasi sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap sesuatu. Tapi seiring waktu, isu atau tuntutan yang diangkat mulai bergeser kepada penurunan pucuk pimpinan pemerintahan, yaitu Presiden dan Wakilnya.

Para demonstran tidak hanya membawa tuntutan yang awal, tapi ditambah dengan tuntutan penurunan pucuk pemerintahan. Berdasarkan hal tersebut, aksi yang dilakukan terkesan dipolitisir. Tuntutan penurunan harga mungkin masih murni keresahan dan kesusahan yang diterima oleh rakyat. Tapi bagaimana pun tuntutan penurunan presiden masih wajar melihat kinerja pemerintah selama ini.

Seperti diketahui jabatan kepresidenan merupakan jabatan yang menjadi “rebutan” banyak orang. Hal ini yang membawa kesimpulan, kalau aksi yang dilakukan, sedikitnya ditumpangi oleh orang-orang yang ikut “rebutan” kursi kepresidenan itu. Sejauh aksi tidak mengarah kepada anarki atau menggunakan kekerasan masih dapat disahkan di dalam alam demokrasi.

Betapa pun aksi ini butuh dukungan yang kuat dari masyarakat luas. Selama agenda awal yaitu penurunan harga atau pencabutan kebijakan dapat diwujudkan. Jangan sampai terjadi, jika benar berganti kepemimpinan akan tetapi agenda awalnya tertinggal atau tak tercapai. Hingga aksi yang dilakukan hanya menjadi pemanfaatan “aji mumpung” orang-orang yang memiliki ambisi untuk duduk di kursi kepresidenan. Paling tidak ini sedikit terlihat dimana kawan-kawan dari BEM terus menyuarakan penurunan kursi Eksekutif, isu awal yang mereka bawa tidak lagi “bersuara”, yaitu masalah kenaikan harga-harga. Bahkan kenaikan tariff angkutan, tariff air dan listrik yang baru saja terjadi tak digubris. Semakin menimbulkan pertanyaan bagi kemurnian bagi aksi dari rekan-rekan BEM. Sekali lagi isu yang dibawa “diimpikan” banyak orang, sehingga kekhawatiran terhadap kemurnian aksi menjadi muncul.

Penjagaan atau proteksi dari kemurnian aksi harus dilakukan untuk mencapai agenda awal yang memang benar-benar murni. Mahasiswa sebagai elemen bangsa yang tidak memiliki kepentingan politik, khususnya politik praktis harus dapat “menjaga sikapnya” dalam penyuaraan tuntutan. Tuntutan yang dilakukan haruslah benar-benar untuk peningkatan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.  (ad080403)

Masyarakat Indonesia Doyan Kekerasan

Kekerasan adalah hal yan bersifat keras atau perbuatan dari seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Definisi kekerasan tersebut berasal dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Betapa pun definisi tentang kekerasan tak ada satu pun yang terdengar “sejuk” ditelinga kita. Tindakan ini juga banyak dikecam baik itu oleh sesama manusia, negara, bahkan agama apapun. Tapi kenapa kita (yang katanya manusia beradab) banyak mengambil jalan ini dalam menyelesaikan masalah ?

Di negara kita yang “tercinta” ini hal kekerasan juga sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Sebagai analogi (gambaran) dapat terlihat dalam tayangan di  TV. Ya ! media ini, adalah media yang sangat dikagumi oleh manusia pada umumnya, karena melaui TV kita tidak hanya dapat mendapatkan informasi tapi juga hiburan-hiburan yang menarik, bahkan hiburan-hiburan yang dihadirkan menjurus kepada kekerasan.

Butuh bukti ? Lihatlah RCTI yang punya slogan “oke” banyak menayangkan hiburan yang mengandung kekerasan, seperti Smack Down yang “booming” beberapa waktu lalu, kita dapat dengan mudahnya melihat anak-anak yang “tak sungkan” meniru bintang pujaannya. Ditambah lagi tayangan yang berbaju “olah raga” seperti tinju, hampir setiap TV pasti ada tayangan ini, baik itu tingkat nasional, internasional dan bahkan yang ngga pernah tinju pun ditayangkan. Selain RCTI, TPI juga menyangkan program “kekerasan” -sekali lagi dengan kedok olah raga. Yaitu, Ultimate Fighting Championship, sebuah olah raga- katanya- tanpa peraturan yang jelas, dimana para petarung dapat dengan puas menggunakan cara apa p pun agar dapat mengalahkan atau kalau bisa “membunuh” lawannya. Pertarungan para “jagoan” ini juga mulai dari yang internasional sampai nasional, bahkan “tukang becak” pun dapat ikut asal dia punya sertifikat dari perguruan beladiri yang diikutinya.

Belum cukup sampai situ, di MTV yang katanya TV-nya “anak nongkrong” juga ada, namanya celebrity Deadmatch, acara ini juga banyak digemari oleh “anak nongkrong”. Selain itu, film-film yang ditayangkan juga berbau kekerasan, bahkan sinetron-sinetron banyak mengambil cerita rakyat yang penuh dengan pertarungan antar “pendekar”. Tiap hari hampir selalu ada, dan jam tayangnya pun prime time, dimana banyak orang yang “menikmatinya”. Mulai dari Nini Pelet, Mak Lampir, Angling Darma dan masih banyak lagi yang lain yang dapat ditonton secara bergilir setiap harinya dengan stasiun TV yang berbeda-beda. Protes tayangan anak juga tak kalah, nyaring banyak film kartun juga yang beraroma kekerasan, seperti Hunter Vs Hunter. Entah mulai kapan tayangan seperti ini menjamur dan “dinikmati” oleh khalayak ramai. Yang mengkhawatirkan adalah porsi tayangan tersebut yang semakin hari kian bertambah.

Diakui atau tdak tayangan-tayangan di atas cukup menarik, karena tayangan tersebut dikemas secara apik. Yang di takutkan adalah implikasi atau dampak yang terjadi akibat tayangan-tayangan tersebut. Karena kecenderungan “peniru” yang dimiliki oleh setiap manusia, akan semakin meresahkan, atau paling tidak akan terlihat kemungkinan peniruan yang ditonton kepada perilakunya sehari-hari.

Di kehidupan sosial sehari-hari pun kekerasan juga merajalela, mulai kerusuhan SARA di Ambon, kerusuhan Mei’98, Poso, Kalimantan dan menjamurnya tawuran warga baik masalah etnis atau hal-hal yang lain. Penghakiman massa yang berakibat tercabutnya nyawa pelaku kejahatan (padahal Cuma maling jemuran). Sekarang ini pun manusia tidak canggung lagi dengan tindak kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan, ambil contoh bagaimana aparat yang bertindak represif (menekan atau menindas) terhadap penghuni liar yang akan digusur. Juga perebutan hak milik tanah yang cenderung “memamerkan otot” dengan menyewa preman-preman. Juga merembes kepada tindakan kriminal dengan menggunakan kekerasan. Juga penghalauan demontrasi secara represif oleh aparat. Atau pun tindakan saudara-saudara kita yang cenderung menggunakan kekerasan dalam menegakkan Ammar Ma’ruf Nahi Mungkar, seperti penutupan tempat-tempat maksiat. Sekarang kita tidak lagi terheran-heran mendengar berita kriminal dimana pelakunya menggunakan senjata api dalam melakukan aksinya. Padahal dulu yang kita tahu, pemilik senjata api adalah tentara dan polisi.

Ketidakpuasan atas pemebritaan dari media juga dilakukan dengan bentuk kekerasan, seperti yang terjadi pada Majalah Tempo, baru-baru ini, belum yang lalu-lalu seperti yang terjadi pada wartawan harian Bernas. Jalan kekerasan akhir-akhir ini selau dijadikan ‘”solusi” yang mujarab bagi kebanyakan masyarakat.

Di atas adalah sedikit contoh tindak kekerasan yang “digemari” masyarakat, yang merupakan bentuk fenomena sosial yang terjadi pada masa kini.  Kita coba untuk telaah kembali awal kecenderungan dari kekerasan, berawal dari TV- yang mulai “senang” menyangkan adegan kekerasan pasca kerusuhan Mei 1998- atau dari perilaku masyarakat yang mulai ” asik dengan tindak kekerasan dalam penyelesaian masalahnya. Keduanya timbul hampir secara bersamaan, entah TV yang “cukup cerdik” dalam memenuhi selera pasar atau perilaku masyrakat yang “memang doyan” kekerasan. Tapi yang jelas tayangan yang ditonton dapat menjadi cerminan dari perilaku atau pun sebaliknya perilaku dapat menjadi cerminan tayangan yang ditonton.

Walau bagaimana pun kita tidak dapat seenaknya menyalahkan tayangan di TV karena “secara jujur” kita pun menggemarinya. Yang jelas adalah perubahan perilaku kita, dan juga filterisasi (penyaringan) terhadap apa yang di tonton, tidak hanya pada anak-anak saja tapi juga kaum remaja bahkan dewasa, karena pelaku kekerasan justru banyak dari kalangan yang menganggap dirinya sudah dewasa. Lebih ironis lagi kampanye perdamaian justru dikumandangkan oleh tentara yang terkenal dengan sejarah kekerasannya, dengan spanduk-spanduk kedamaiannya.

Budaya kita bukanlah budaya kekerasan seperti yang dimiliki orang bar-bar, akan menjadi ironis jika kita mengaku sebagai orang modern tapi perilaku kita tak ada bedanya dengan orang bar-bar. Mulai sekaranglah kita mencoba untuk merubah perilaku kekerasan kita, dan saling mengingatkan sesama akan tindak kekerasan. Dengan jujur kita akui kalau slogan yang ada dalam spanduk tentara itu benar “DAMAI ITU INDAH”.

Mulai dengan menggunakan dialog sebagai langkah dalam penyelesaian masalah yang terjadi. Dengan catatan dialog yang dilakukan juga disertai kejujuran bagi pihak-pihak yang bermasalah. Kabesaran hati, sikap mau menerima dan toleransi sangat dibutuhkan dalam melakukan dialog. Dialog akan “melahirkan” win-win solution bagi kedua pihak jika dialog yang terjadi berlangsung adil.

Tulisan ini juga adalah sebagai bentuk nyata dari kampanye “ANTI KEKERASAN”. Marilah kita secara bersama dengan semangat gotong royong (yang juga sudah mulai ditinggalkan karena identik dengan orba, padahal budaya yang baik) kita hapus KEKERASAN dimuka bumi ini dan menciptakan perdamaian yang berawal dari lingkungan kita hingga tercapai cita-cita bersama kedamaian dimuka bumi. Karena pada dasarnya “KELERASAN BUKAN SOLUSI”. Salam Damai (ad080403)

BIAS INFORMASI KARENA KEBERPIHAKAN MEDIA

Agresi militer AS dan sekutunya ke Iraq telah berlangsung lebih dari dua minggu. Selam itu pula lah perhatian seluruh dunia tertuju ke sana, termasuk media. Media, khususnya TV menjadi acuan bagi pemirsa di seluruh dunia untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di negara tersebut.

Media barat yang di wakili oleh CNN, FOX TV dan BBC ‘melawan’ TV Al-Jazeera dari Qatar. Media TV kembali menjadi alat propaganda.Perang semakin jauh masuk dalam kehidupan manusia-bahkan ruang keluarga, sampai jarak setengah putaran bumi sekali pun. Teknologi komunikasi memungkinkan Iraq melawan propaganda Amerika melalui media yang mereka kusai, dan dunia lebih terbuka memilih informasi mana yang dapat di percaya. Bagaimana bias media dalam perang Iraq kali ini, membentuk sikap dunia, atau mengubah dunia…?

Dalam sebuah acara diskusi yang diadakan di Hotel Sahid Jakarta, diprakarsai oleh Radio Namlapanha, membahas tema “Bias Perang Iraq Di Media Dunia”. Dengan menghadirkan narasumber antara lain, Eriyanto peneliti media dari ISAI, Greta Morris, Konsuler US Embassy untuk urusan publik, Ulil Abshar Abdalla, JIL, Jason Tejakusuma, koresponden Time di Jakarta, dan Uni Lubis dari TV 7.

Kebutuhan akan informasi dewasa ini mulai menjadi sesuatu yang penting, bahkan bagi beberapa pihak dijadikan sebagai ‘kebutuhan pokok’. Bahkan dalam konvensi HAM, kebutuhan memperoleh informasi manjadi poin hak asasi. Menurut Eriyanto, kecenderungan baru terjadi di mana media menjadi sangat penting posisinya. Bahkan dalam posisinya menjadi sama penting dengan serangan fisik, dalam situasi perang.

Kritikan datang dari Howard Kuds (Washington Post), terhadap keikutsertaan wartawan dalam pergerakan tentara. Pertama, kesulitan untuk independen bagi liputan perang, karena wartawan berada dalam kondisi atau perasaan yang senasib dengan para tentara. Kedua, terdapat distorsi informasi. Ketiga, dalam liputannya, korban perang menjadi luput, karena liputannya fokus dalam pergerakan tentara.

Menurut Ulil, Al-Jazeera saat ini ‘menjadi hero’, karena memberikan informasi yang lain. Secara kerangkanya mereka bersikap menolak perang bertolak belakang dengan media barat secara ‘mainstream’. Media telah menjadi propaganda, karena adanya kepentingan untuk melayani pemirsanya. Hal senada diungkapkan oleh Uni, dimana posisi pers sulit untuk netral dalam kondisi yang seperti ini. Al-Jazeera menjadi ‘corong’ bagi rakyat Iraq yang menjadi korban kemanusiaan, yang tidak diangkat oleh media lain.

Secara jujur Time mengakui adanya bias dalam liputannya, karena ada keterkaitan dengan media barat, menurut Jason.

Greta morris, mengatakan, tidak ada kebijakan khusu dari pemerintahnya dalam liputan perang. Di AS terjadi perubahan sikap dari menolak perang menjadi mendukung perang saat perang terjadi.

Ketika Uni mengatakan adanya global sensorship (penyensoran global) terhadap pemberitaan sejak peristiwa 11 September memberikan dampak pada negara lain terhadap pers, karena AS terkenal dengan kebebasan persnya melakukan penyensoran apalagi bagi negara yang pemimpinnya otoriter. Dan juga keterbatasan akses dalam memperoleh informasi atas sumber-sumber militer di Pentagon. Wakil kedubes AS menanggapi dengan menyatakan, mungkin disebabkan informasinya sensitif dan berkaitan dengan masalah keamanan negara.

Banyaknya pilihan akan sumber informasi yang dapat diperoleh menimbulkan keuntungna dan kebingungan, bagi ‘penikmatnya’. Keuntungan yang didapat, dimana dengan banyaknya pilihan terjadi cek keseimbangan dan konfirmasi terhadap kebenaran inforamsi, yang tidak lagi dimonopoli oleh satu pihak saja. Seperti yang terjadi pada ‘jaman’ Orba. Kebingungan terjadi karena banyaknya informasi yang kita dapat sehingga sulit untuk menentukan kebenarannya dan adanya kesimpang siuran informasi tersebut.

Untuk mengatasi hal tersebut paling tidak ‘pemirsa’ dituntut untuk lebih kritis dalam memperoleh informasi. Dan pengambilan sikap oleh pemirsa. Jadi ‘pemirsa’ lah yang dapat menjadi penentu terhadap kebenaran informasi yang diperoleh.

Sikap yang diambil tidak ada yang lain kecuali MENOLAK PERANG !!!. (ad/060403)

GANDRUNG MENDEKATKAN DIRI PADA SANG KHALIK, HANYA TREND ?

Akhir-akhir ini kegiatan manajemen kalbu, dzikir bersama dan ilmu-ilmu sufi mulai ramai diminati oleh sebagian besar masyarakat kota. Manajemen qolbu olahan AA Gym, begitu di’gandrungi’, dengan selalu ramainya penyelenggaraan pelatihan manajemen qolbu, bahkan dengan biaya sekitar Rp 600 ribu, larisnya bukan main. Dzikir bersama, metode yang ‘dipopulerkan’ oleh Ust Arifin Ilham juga selalu dipadati dengan peserta. Begitu juga dengan ajaran-ajaran Sufi juga mulai diminati, seperti dalam acara yan dilakukan di sebuah daerah di Puncak dengan mendatangkan ahli Sufi dari Amerika.

Manajemen qolbu adalah nama sebuah pelatihan tentang me-manage hati, sehingga menciptakan hati yang bersih dan tulus. Sedangkan dzikir bentuk usaha dalam pendekatan diri kepada sang Khalik, Pencipta alam semesta dan isinya, dengan mengagungkan nama Allah dan dipanjatkan sesusai Shalat. Dan sufi yang merupakan bagian dari tasawuf, adalah sebuah ajaran mendekatkan diri kepada Allah SWT, dimana dzikir termasuk di dalamnya. Sufi yang terkenal adalah Jalaluddin Rumi.

Kesemuanya pada intinya adalah bentuk dan upaya dari manusia dalam mendekatkan diri kepada Penciptanya. Fenomena yang terjadi ini merupakan hal yang ‘mengaggumkan’, karena mulai terjadi kesadaran pada manusia tentang keberadaannya di sisi sang Penciptanya.

Sebagai jalan kembali ke jalan keimanan, kembali kepada keberadaan manusia sebagai hamba Allah, bentuk koreksi diri dan melepaskan unek-unek, adalah beberapa alasan yang diungkapkan oleh ‘peserta’ kegiatan di atas. Perubahan yang terjadi ini bagaikan ‘udara segar’ bagi kehidupan beragama, khususnya Islam. Dan menunjukkan semakin ‘salehnya’ manusia.

Selama ini kita dihadapakan pada kehidupan yang mulai tidak ‘mengenal Tuhan’. Dan banyak Ulama dan Ustadz bahkan menyebutnya kehidupan ‘jahilyah’. Di tengah-tengah kehidupan ‘yang karuan’, hal ini mudah-mudahan dapat menjadi ‘pelopor’ untuk kembali ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Ini banyak terjadi pada masyarakat perkotaan, yang ‘terkenal’ telah mulai menjauhi kehidupan spiritual dan lebih kepada masalah duniawi. Bila dilihat dari fenomena sosial, hal ini dapat diakibatkan dari ‘efek’ modernisasi, khususnya di daerah perkotaan. Modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Proses modernisasi ini menimbulkan ‘efek’ negatif yang salah satunya adalah perasaan terasing secara psikologis dari gaya hidup (1), keterasingan manusia modern telah nenjadikan ritual keagamaan sebagai usaha pelarian atau pencarian jati diri (2).

Adanya tuntutan untuk dapat hidup sesuai dengan masa kini, dalam kehidupan modern ini lah yang menyebabkan banyak terjadinya perubahan. Perubahan ini terjadi dalam banyak sektor, bahkan sampai kehidupan beragama itu sendiri. Perubahan sudah merupakan “Sunatullah’ yang tak dapat di ‘tahan lajunya’. Namun perubahan menuju kebaikanlah yang diharapkan. Sebab itu Agama sebagai landasan kehidupan harus dapat di jadikan ‘pembimbing’ proses perubahan, sehingga tidak ‘melenceng’.

Perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat kota, dalam melakukan pendekatan diri kepada sang Khalik dapat di jadikan momentum perubahan yang ‘dibimbing’ oleh Agama. Jangan sampai perubahan positif yang terjadi ini hanya di jadikan trend gaya hidup saja. Karena jika trend itu telah berlalu maka akan kembali kepada kehidupan ‘yang lalu’ setelah kembali ke jalan keimanan. Karena ‘umur’ sebuah trend tidak lah panjang, seperti dalam dunia fashion yang selalu berubah dalam setiap tahunnya. Mencari suasan baru dan mengatasi kebosanan rutinitas setiap hari, merupakan alasan-alasan lain dari ‘peserta’ kegiatan-kegiatan itu.

Menciptakan kesadaran beragama adalah tindakan yang lebih baik, dibanding melakukan ‘paksaan’ untuk beragama. Karena dalam beragama di butuhkan ketulusan dan hati yang bersih-meminjam istilah manajeman qolbu. Bila dengan paksaan akan sulit ditemukan ketulusan dan hati yang bersih tersebut. Wallahu’alam. (ad060403)