BELAJAR DARI SHALAT JAMAAH

Dalam menegakkan shalat, kita dianjurkan untuk mengutamakannya secara berjamaah. Dengan keutamaan itu, kita mendapatkan pahala yang lebih besar dari pada shalat sendiri-sendiri. Selain pahala yang didapatkan lebih besar juga ada hal lain mengapa kita mengutamakan shalat secara berjamaah.

Ada tiga hal sedikitnya yang dapat kita petik, dan menjadi pelajaran bagi kita. Hal-hal itu adalah kedisiplinan, keharmonisan dan kesetaraan. Pertama kedisplinan, dalam shalat berjamaah gerakan kita diwajib untuk mengikuti imam, sebagai pemimpin shalat jamaah. Kita paling tidak dapat belajar berdisiplin disini, karena kita tidak boleh melanggar dan mendahului gerakan dari imam.

Yang kedua keharmonisan, dapat terlihat dalam gerakan shalat yang secara teratur dan serentak menggambarkan sebuah keharmonisan. Dan yang terakhir adalah kesetaraan, tidak ada pembedaan atau diskriminasi dalam shalat berjamaah, mau tua atau masih anak-anak dibolehkan untuk berjamaah. Tak ada pembedaan untuk posisi shaf, bukan jabatan, kedudukan, uang atau apapun yang bersifat duniawi yang dapat menetukan shaf. Karena kita semua dimata Allah adalah sederajat, hanya iman dan amal shaleh yang membedakannya, itupun yang tahu hanya Allah.

Tiga hal diatas merupakan hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran buat kita bersama, kedisiplinan, keharmonisan dan kesetaraan. Alangkah indahnya jika ketiga hal tersebut kita praktekkan kedalam kehidupan kita sehari-hari.

Disiplin terhadap segala kewajiban kita, karena pengalaman mengajarkan untuk maju kita harus disiplin dalam segala hal, walaupun terasa sulit, tapi kita dapat melakukannya secara perlahan mulai dari yang kecil-kecil dahulu. Betapa indahnya kita dapat hidup harmonis, berdampingan tanpa ada konflik. Segala sesuatu dapat berjalan lancar jika ada keharmonisan dalam unsur-unsur yang terkait.

Begitu juga dengan kesetaraan, karena sekali lagi pada dasarnya kita sederajat, sungguh tidak adil jika kita melakukan diskriminasi terhadap seseorang. Karena kita semua adalah sama. Sebuah kepedulian dapat timbul karena adanya kesetaraan sehingga menimbulkan perasaan senasib. Selain itu dengan kesetaraan kita dapat menghindari sifat sombong. Marilah bersama kita amalkan, walaupun secara bertahap. Wa-llãhu a‘lam bi-l-shawãb. (ad) 150103

 

‘BATU NISAN’ UNTUK DEMOKRASI

Perjalanan ‘hidup’ demokrasi rasanya sedang mengalami kemerosotan. Demokrasi yang banyak diperjuangkan diberbagai belahan dunia, baik dalam sebuah negara atau dalam wilayah publik yang lain, nampaknya kini sedang dirundung duka.

Demokrasi yang memiliki arti gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakukan yang sama bagi semua warga negara. Demokrasi memiliki ‘musuh’, yaitu diskriminasi yang membeda-bedakan perlakuan berdasarkan warna kulit, ras, agama dan sebagainya. ‘Musuh’ yang lain adalah otoriter yaitu kesewenang-wenangan. Demokrasi juga memiliki arti yang lain yaitu permerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Hal ini menggambarkan begitu ‘kuatnya’ kekuatan rakyat dalam sebuah pemerintahan. ‘Musuh’ dari pemerintahan demokrasi atau rakyat ini adalah pemerintahan tirani, pemerintah yang sewenang-wenang.

‘Kedukaan’ demokrasi ini disebabkan oleh ulah dari sebuah negara yang disebut-sebut sebagai ‘jagoan’ demokrasi. Permasalahannya adalah dimana dunia selama ini hanya melihat sebuah negara yang selalu dijadikan ‘model’ dalam proses modernisasi. Dalam segala aspek negara ini selalu dijadikan ‘model’ bagi yang lain. Ternyata berjalannya waktu memperlihatkan bahwa negara ini ternyata memperlakukan standar ganda dalam kebijakan luar negerinya. Negara ini memiliki nama Amerika.

Demokrasi yang dikenalkan oleh dunia barat sebagai wujud dari modernisasi, dan harus diterapkan ke seluruh negara di dunia untuk menciptakan sebuah dunia yang beradab. Perjuangan terhadap demokrasi ini, juga dilakukan di negeri Indonesia, untuk meruntuhkan kekuasaan otoriter masa orde baru. Walaupun sudah memperlihatkan hasil perjuangan tersebut, namun demokrasi yang diharapkan belum muncul sampai saat ini.

Sebagai manusia yang pada hakikatnya memiliki derajat yang sama, paham demokrasi ini sangat ‘membantu’ dalam perwujudan hakikat manusia tersebut. Tindakan kesewenang-wenangan harus dilawan. Kerana tindakan ini biasanya hanya menguntungkan kelompok kecil tertentu dan mengorbankan kelompok yang lebih besar. Kelompok yang lebih kecil ini biasanya memiliki kewenangan dan kekuasaan. Dan lebih sering dilakukan oleh pemerintah dalam sebuah negara, yang bertujuan untuk ‘menikmati’ kekuasaan yang dimiliki dan melanggengkan kekuasaannya.  Pemerintahan otoriter ini juga disebut dengan pemerintahan tiran.

Dengan demokrasi tidak hanya kelompok yang besar saja yang dijadikan ‘perhatian’ tapi kelompok kecil atau minoritas juga termasuk di dalamnya. Karena dalam domokrasi tidak ada perbedaan perlakuan bagi setiap warga negara. Dalam demokrasi, untuk membuat kebijakan yang menyangkut kehidupan orang banyak wajib memperhatikan banyak aspek dan dampak yang dihasilkan dan tidak hanya menguntungkan bagi sekelompok orang saja. Keseimbangan yang menjadi tujuannya.

Namun kini demokrasi telah ‘dirusak’ oleh Amerika. Hal ini terbukti dalam tindakannya terhadap Irak. Penolakan yang terjadi terhadap tindakannya banyak terjadi di muka bumi ini, mulai dari otritas paling kecil sampai ‘pemilik’ otoritas muka bumi ini yaitu PBB, bahkan sebagian besar rakyat Amerika sendiri. Mulai dari tindakan invasi sampai kepada penanganan pasca invasi. Dimana Amerika berlaku sangat sewenang-wenang, dan tidak mengindahkan nilai-nilai demokrasi yang ‘dikampanyekannya’ keseluruh dunia. Sebuah fenomena ironis, dan cocok dengan ungkapan ‘menjilat ludahnya sendiri’. Seolah-olah Amerikalah ‘pemilik’ dunia ini. Sungguh sebuah kemunduran dalam perjuangan demokrasi yang telah banyak memakan korban dalam perjuangan penegakan demokrasi.

Menjadi ancaman bagi kehidupan demokrasi, disebabkan karena Amerika yang selama ini menjadi ‘model’ negara yang modern bagi negara lain melakukan ‘perbuatan’ bar-bar. Tentunya perbuatan ini dikhawatirkan diikuti oleh negara-negara yang lain. Dan menjadi pelegalan terhadap perbuatan kesewenang-wenangan oleh negara lain, dan akan menghidupkan kembali negara-negara tiran. Sehingga cita-cita mewujudkan masyarakat yang beradab yang memperhatikan persamaan hak dan kewajiban, akan sulit tercapai. Dunia jadinya akan menganut sistem bar-bar yaitu siapa kuat dia menang.

Berkurangnya negara tiran, yang termasuk Indonesia di dalamnya (masa orde baru) adalah perjuangan dari demokrasi dan merupakan perwujudan bagi sebuah masyarkat yang beradab. Sebuah masyarakat yang memiliki persamaan hak dan kewajiban dan partisipatif. Perbuatan yang dilakukan oleh Amerika wajib dikutuk (kalau perlu jadi batu seperti malin kundang), karena mematikan kehidupan demokrasi. Negara yang katanya menjadi ‘juaranya’ demokrasi telah meninggalkan nilai-nilai yang selama ini oleh ‘ia’ sendiri diagung-agungkan. Apakah demokrasi telah ‘kadaluarsa’ ? Ataukah ini pertanda kematian kehidupan demokrasi ?  (ad/110503)

BAGONG INGIN MASUK SURGA

Pagi hari yang tak berbeda dengan pagi kemarinnya. Masih ada kicau burung, kokok ayam, angin sepoi dan embun di daun. Dalam sebuah taman yang asri dengan sinar matahari yang masih redup tampak lah Bagong yang sedari tadi mengitari taman, namun sepertinya ia tak berniat olah raga pada pagi itu. Tampangnya kuyu, pucat seperti orang lelah dan tidak dapat tidur semalan.

Datang lah Semar yang menuju ke taman itu. Dihampirinya lah Bagong yang sedari tadi ada di taman itu. Terlihat jelas kegelisahan dan kebimbangan di raut Bagong. Tampaknya Bagong tidak sebiasa paginya.

Semar :

Ada apa toh le..?

Bagong :

Pagi Romo, tidak ada apa-apa..tapi, ya tidak ada apa-apa..

Semar :

Tidak ada apa-apa bagaimana..? Aku ini Romo mu le, jelas aku tau kalau kamu sedang kenapa-kenapa..? Jangan lah kau tutupi kegelisahan dan kebimbangan yang tampak di wajah mu itu le..

Bagong :

Mmm, iya Mo..sayang memang lagi gelisah dan bingung Mo..

Semar :

Iya, cerita saja le, aku ini Romo mu..aku akan bantu kamu untuk mengurangi gelisah mu itu le..

Beranjaklah mereka menuju tempat yang lebih nyaman untuk berbincang, di bawah pohon yang rindang di tepi taman. Bongkahan batu di sisi kanan pohon rindang dijadikan tempat duduk bagi mereka.

Semar :

Ayo le, sekarang ceritakanlah  masalah mu..

Bagong :

Hhhhh, begini Mo..beberapa hari ini aku gelisah memikirkan sesuatu. Sampai-sampai semalam tak bisa tidur aku di buatnya..

Semar :

Sesuatu apa yang membuat mu seperti itu le..?

Bagong :

Aku memikirkan..tentang bagaimana caranya bisa masuk surga Mo…

Semar :

Oalah le..kamu kan sudah tahu, apa yang aku ajarkan kepada mu selama ini adalah jalan menuju surga.

Bagong :

Maksud Romo..?

Semar :

Mungkin ajaran yang diberikan bukanlah pelajaran formal yang didapat disekolah-sekolah, seperti yang didapat oleh para bangsawan atau perwira. Hanya bentuk laku, nasehat dan perintahlah ajaran itu aku berikan kepada kalian.

Bagong :

Lalu, apakah yang romo berikan itu bisa menjamin kita untuk masuk surga..?

Semar :

Mungkin kamu kurang memahami apa yang sudah kuberikan selama ini. Mungkin kamu hanya menganggap laku dan nasehat itu hanya hal biasa dari seorang Romo kepada anak-anaknya. Seandainya kau lebih mengerti, kau dapat belajar dari itu semua untuk jalan mu ke surga.

Bagong:

Aku tidak mengerti Mo, bicara Romo malah jadi semakin buat aku bingung.

Semar:

Coba kau ingat-ingat le..selama ini apa kau pernah kuajarkan untuk berbuat baik kepada sesama, kepada alam dan kepada Sang Pencipta. Memberikan kasih kita kepada semua, berbuat jujur dan selalu membantu yang lemah. Selalu saja kularang kau untuk mencuri, berbohong, berbuat tidak adil dan menganiaya yang lemah.

Bagong:

Semua itu adalah perintah Romo kepada kami..

Semar:

Ya, memang aku memberikan perintah laku itu kepada kalian. Jika kalian dapat menjalankannya, sebenarnya kalian sedang berjalan menuju surga.

Bagong:

Ya Mo..tapi semua itu tidak mudah Mo. Tak adakah jalan yang lebih singkat untuk ke surga. Jalan yang Romo berikan kepada kami, berasa berliku, panjang dan sulit Mo.

Semar:

Le, kenikmatan tidak akan ada rasa tanpa harus merasa sengsara. Bahagia tak akan ada rasa tanpa sedih. Surga itu berisi nikmat dan bahagia, tanpa kau rasa sengsara dan sedih, apa kau yakin dapat merasakan surga yang penuh nikmat dan bahagia itu..?

Bagong:

Mo, aku ini lagi bingung..aku butuh sesuatu yang dapat menjelaskan kebingunganku. Tapi Romo, malah semakin membuat ku bingung. Keingingan ku sederhana Mo, masuk surga dengan jalan yang mudah.

Semar hanya bergeleng ketika mendengar ucapan terakhir dari Bagong, dan Bagong pun beranjak dari tempatnya setelah berucap, perlahan meninggalkan Romonya, perlahan meninggalkan taman asri itu, perlahan dia melangkah ke luar. Sapa dan tegur Romo Semar yang menanyakan tujuan langkah Bagong tak digubrisnya.

Berjalan tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas, berkalut bingung. Tak digubrisnya apa yang dilewatinya, pasar ramai pun berasa sunyi. Bagong terus melangkah. Tak terasa dia sampailah pada sebuah bukit. Ketika itu malam sudah menjadi penguasa bumi, gelap, dingin dan sunyi. Ketika itu rembulan tak kebagian jatah untuk berbagi kepada bumi, karena harus mengalah kepada awan mendung. Hanya titik-titik sinar di kejauhan di bawah bukit yang terlihat. Titik sinar yang berasal dari obor penduduk kampung yang tinggal di bawah bukit.

Bertemu Bagong dengan sebuah gua kecil, yang dia rasa bisa dijadikannya untuk tempat bermalam. Duduk lah ia dimulut gua, belumlah napasnya teratur, terkejutlah ia dengan sesuatu. Kaget bukan kepalang, terlompat ia tiba-tiba ketika mendengar sapa dari dalam gua. Padahal selama perjalanananya tak pernah ada sapa dan tegur yang diperhatikannya. Napasnya yang belumlah teratur semakin tak karuan jadinya.

Dengan rasa takut, kejut dan penasaran yang bercampur jadi satu, diperhatikannya lah mulut gua itu. Menanti gerangan si pemilik sapa. Hanya degup jantung saat ini yang terdengar jelas olehnya. Yang dinantipun akhirnya menampakan diri, sosok tua, berambut putih, dengan sorban putih melilit dikepalanya, jubah putih dikenakannya sebagai pakaiannya dan tanpa alas kaki.

Raut senyum tampak pada lelaki tua itu. Takut dan kejut bagong mulai reda namun penasarannya malah semakin menjadi. Siapa gerangan yang berada di gua di atas bukit ini, tak terpikir sebelumnya oleh Bagong kalau-kalau ada orang lain ditempat ini. Setelah beberapa saat tanpa suara setelah sapa yang mengagetkan tadi, Bagong memberanikan diri untuk bersuara, sekaligus untuk mencari tahu sebagai pelepas rasa penasarannya.

Bagong:

Siapa kau..??

Dengan nada agak keras Bagong bertanya. Sapaan yang kurang sopan mungkin terhadap lelaki tua itu, yang mungkin sepantasnya dipanggil dengan panggilan Romo. Lelaki tua itu tak langsung menjawab, senyumnya lah yang diberikan terlebih dahulu baru kemudian ia mulai menanggapi pertanyaan Bagong.

Lelaki tua:

Jangan kau takut nak, tenangkan dirimu, mari sini.

Bagong:

Ya, tapi Romo ini siapa..??

Lagi-lagi lelaki tua itu melemparkan senyum dahulu lalu kemudian menjawab. Memberikan kesan kalau ia seorang yang ramah, namun berwibawa. Bagong sudah tidak  takut lagi ketika mendapati sosok lelaki tua itu yang ramah dan berwibawa ini. Tampaknya ia lebih seperti seorang pandita yang sedang bertapa, untuk menyempurnakan ilmunya. Seperti biasa, tempat pertapaan yang dipilih adalah tempat yang sunyi dan jauh akan hiruk pikuk dunia.

Lelaki tua:

Yang jelas kau tak salah mendatangi tempat ini. Bingung mu, gundah mu dan rasa ingin tahu mu akan ku bantu untuk menyelesaikannya.

Dengan penuh wibawa, selayaknya pandita memberikan nasihat kepada umatnya. Namun itu malah membuat Bagong menjadi bingung, darimana lelaki tua ini tahu akan apa yang dirasanya.

Bagong:

Darimana Romo tahu apa yang aku rasakan..??

Lelaki tua:

Sudahlah nak, jangan kita buang waktu ini dengan pertanyaan darimana mu itu. Baiknya adalah kita selesaikan masalah yang terasa menyiksa mu itu. Mari sini kita duduk agar kita lebih enak untuk berbicara.

Mendekatlah Bagong mengikuti ajakan lelaki tua itu, dan duduk berhadapan ia dengan lelaki tua itu. Kali ini lelaki tua yang lebih dahulu memulai percakapan.

Lelaki tua:

Apa yang kau rasakan, bukanlah kau sendiri yang pernah merasakannya. Banyak orang yang juga memiliki perasaan dan keinginan yang sama dengan mu. Rasa dan keinginan mu itu sebenarnya wajar saja.

Bagong menyahut dengan cepat.

Bagong:

Lalu, mereka juga datang kemari..?? Berapa banyak orang yang datang sebelum aku, Mo..??

Lelaki tua:

Hanya kau saja yang datang kemari.

Bagong:

Lalu, darimana Romo tahu kalau banyak orang yang punya perasaan dan keinginan yang sama dengan ku..?

Lelaki tua:

Apakah aku tahu perasaan mu itu setelah kau cerita pada ku..?? Tapi sudahlah, bukan itu yang akan kita bicarakan. Malam ini kita gunakan saja untuk menyelesaikan bingung mu itu nak.

Bagong:

Baik, Romo..

Lelaki tua:

Asal kau tau, masuk surga adalah keinginan setiap orang yang beragama di bumi ini. Karena hanya orang yang beriman kepada agamanya yang yakin akan adanya surga, yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan, seperti yang dikatakan oleh Romo mu.

Bagong terkejut dengan akhir kalimat lelaki tua itu. Begitu banyak yang lelaki tua itu tahu akan dirinya. Bagong semakin yakin kalau lelaki tua yang dihadapannya bukannya sembarang lelaki biasa, yang tersasar di gua di atas bukit, seperti dirinya. Kehebatan lelaki tua akan pengetahuannya tentang Bagong dan segala yang berhubungan dengan Bagong, ditambah sikap dan penampilannya yang memang layaknya seorang pandita membuat Bagong yakin kalau lelaki tua ini adalah orang yang tepat untuk membantunya menyelesaikan masalahnya.  Lelaki tua itu menangkap kejut yang dialami Bagong.

Lelaki tua:

Jangan lah, kau terkejut kalau aku tahu banyak mengenai dirimu nak. Apa yang dikatakan oleh Romo mu itu benar, surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Romo mu juga benar akan ajarannya kepada mu tentang jalan menuju surga.

Bagong:

Tapi..

Lelaki tua:

Dengar dulu nak, jangan kau sela bicaraku, bukannya Romo mu juga mengajarkan untuk bersikap sopan dan baik pada orang yang lebih tua..?

Bagong

Benar..

Lelaki tua:

Nah, baik kita teruskan. Namun, jalan yang diajarkan Romo mu adalah hanya salah satu jalan dari banyak jalan untuk menuju surga. Dan, jalan yang dipilih Romo mu adalah ibarat jalan umum, memang terasa berat dan penuh liku bagi mu. Sedangkan jalan yang kau inginkan adalah jalan yang singkat.

Bagong:

Benar Romo, kalau memang ada jalan lain seperti yang Romo katakan, adakah jalan lain itu singkat..??

Lelaki tua:

Bisa dibilang begitu nak, mungkin tepat juga kalau dikatakan jalan pintas menuju surga.

Bagong:

Jalan apakah itu Romo..?? Lekas katakan, adakah aku bisa melewatinya..??

Lelaki tua:

Tentu nak, siapa pun bisa melewatinya. Karena jalan-jalan itu merupakan pilihan, mana yang akan kita pilih untuk dilaluinya. Walaupun setiap jalan memiliki syarat dan pengorbanan sendiri-sendiri.

Bagong:

Jalan apa itu Romo..??

Lelaki tua:

Nak, sebelumnya aku akan bertanya dahulu kepada mu. Apakah kau banyak melihat banyak kejahatan di kota mu ? Apakah kau banyak melihat orang-orang berbuat menyimpang dari ajaran kebaikan, seperti mencuri, menipu dan perbuatan asusila lainnya ?

Bagong:

Banyak Romo, bahkan hal itu sudah menjadi laku keseharian. Perkara kecil banyak yang berakhir dengan saling membunuh, orang berdagang di pasar dengan cara menipu, bahkan orang bersenggama tanpa jelas hubungannya dan masih banyak lainya Romo.

Lelaki tua:

Tepatlah sudah waktunya, jika kau akan memilih jalan ini.

Bagong:

Tepat waktunya, bagaimana Romo..?

Lelaki tua:

Iya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk kau pilih jalan pintas menuju surga. Tatkala kau sudah rasakan dan lihat begitu banyak kejahatan, penyimpangan dan keburukan yang terjadi, itu adalah waktu yang paling tepat untuk mengambil jalan ini.

Bagong:

Katakan lah Romo, bagaimana aku harus melalui jalan itu..??

Lelaki tua:

Yang pertama harus kau lakukan adalah meyakini kalau jalan ini adalah jalan yang benar. Kau juga harus siap meninggalkan seluruh yang kau rasa milik mu di dunia ini termasuk Romo dan saudara-saudara mu sampai dengan nyawa mu sendiri. Dan kau juga harus bersikap tega mengorbankan orang lain.

Bagong:

Kalau memang benar, tentu aku yakin. Kalau memang harus kutinggalkan apa yang kumiliki termasuk Romo dan saudara-saudara ku pun aku siap, karena di surga tentu aku akan dapat gantinya dan aku yakin akan bertemu mereka kelak. Tapi untuk apa aku harus mengorbankan nyawa dan tega mengorbankan orang lain, bukannya aku berjalan sendiri, apa hubungannya dengan orang lain..??

Lelaki tua:

Semua itu syarat anak ku, jalan yang kau tempuh memerlukan syarat-syarat dan pengorbanan tertentu untuk kau lalui. Bahkan jalan yang diajarkan oleh Romo mu Semar juga perlu syarat-syarat dan pengorbanan yang dipenuhi, seperti yakin, sabar, tekun dan lainnya.

Bagong:

Ya, tapi jalan Romo tak pernah sampai harus mengorbankan nyawa dan tega mengorbankan orang lain, malah dia memerintahkan untuk memperhatikan dan membantu orang lain.

Lelaki tua:

Tadi sudah ku bilang, jalannya berbeda, dan setiap jalan punya syarat dan bentuk pengorbanan masing-masing. Sekali lagi ku tanyakan, siapkah kau dengan syarat tadi ?

Bagong:

Syarat itu terasa berat Romo, memang aku harus melakukan apa..??

Lelaki tua:

Mudah saja yang mesti kau lakukan. Kau hanya perlu pergi ke satu tempat dimana tempat itu menjadi pusat dilakukannya segala laku jahat dan menyimpang. Dan kemudian bunuhlah mereka semua.

Bagong:

Apa..!!! tidak, tidak mungkin. Itu jelas menyalahi ajaran dari Romo Semar. Membunuh sendiri adalah perbuatan jahat, Romo pun tadi juga mengakuinya. Kenapa untuk ke surga harus membunuh orang lain, kenapa harus menggunakan jalan kejahatan menuju surga.

Bagong terkejut mendengar syarat yang diperintahkan lelaki tua itu. Jelas-jelas syarat itu menyalahi ajaran yang diterimanya dari Romo Semar, juga ajaran kebaikan yang ada di muka bumi. Membunuh adalah perbuatan kejahatan. Mengakhiri hak hidup manusia sudah barang tentu jadi hak Sang Pencipta. Tak hanya terkejut, tapi Bagong pun mulai meragu. Benar kah jalan yang disarankan oleh lelaki tua ini kepadanya.

Namun, lelaki tua yang terlihat penuh wibawa dan tinggi ilmunya ini tak berhenti begitu saja, ketika Bagong menolak salah satu syarat jalan itu. Dengan penuh ketenangan dan keyakinan lelaki tua itu tetap berusaha menjelaskan dan malah terkesan membujuk Bagong untuk memilih jalan itu.

Lelaki tua:

Dengar dulu nak..kau belum mengerti apa yang ku maksudkan. Kau juga jangan hanya melihat dunia ini secara hitam dan putih saja. Membunuh itu jahat titik. Coba kau lihat, ketika negara mu diserang, dan terjadi perang apakah kau juga tidak boleh membunuh ?

Bahkan kita diwajibkan mempertahankan Negara kita dari para penyerang yang ingin merampas kedaulatan Negara. Kita dipaksa oleh keadaan untuk membunuh, karena hanya ada dua pilihan dalam perang, mereka yang dibunuh atau kita akan terbunuh. Siapa yang dianggap sebagai pahlawan ketika perang itu usai ? Tentunya adalah mereka yang berhasil banyak membunuh para penyerang bukan.

Bagong:

Tapi itukan jaman perang, berbeda keadaanya dengan saat ini. Siapa yang sedang menyerang Negara ku, lagi pula yang akan ku bunuh adalah saudara-saudara ku sendiri.

Lelaki tua:

Nak, jangan kau kira saat ini bukan dalam keadaan perang. Apa kau masih anggap saudara-saudara mu itu jika mereka terus berbuat kejahatan dan menyimpang ?

Nak, yang sedang diserang saat ini adalah bukan Negara mu, tapi Sang Pencipta mu. Mereka yang kau anggap sebagai saudara-saudara mu menyerang dengan melanggar dan mengabaikan ajaran Sang Pencipta, perbuatan mereka mencerminkan kalau mereka tidak percaya lagi dengan Sang Pencipta mu. Apa kau akan diam saja akan hal itu, sedangkan terhadap negara saja kau wajib membelanya, bagaimana dengan Sang Pencipta apa kau cukup diam saja. Tentu pengorbanan yang kau lakukan akan mendapatkan balasan surga, karena yang kau perjuangkan adalah membelaNya.

Bagong:

Tapi, tapi..Sang Pencipta adalah Maha Segala, apa Ia masih harus perlu dibantu dengan hambanya yang lemah.

Lelaki tua:

Kalau memang Ia Maha Segalanya, kenapa Ia biarkan kejahatan dan penyimpangan terus merajalela. Kenapa Ia menurunkan utusan-utusanNya untuk menegakkan ajaranNya. Kenapa juga diperlukan pandita untuk membantu kita tetap dalam ajaranNya.

Berapa banyak utusanNya yang telah turun, berapa  banyak pandita yang telah berusaha membimbing,tapi toh tetap subur kejahatan dan penyimpangan yang terjadi. Mereka bukanlah harus dituntun dan dibimbing, tapi haruslah dibinasakan dari muka bumi ini. Tanpa mereka tentu tak akan ada lagi kejahatan dan penyimpangan yang terjadi.

Begitu meyakinkan lelaki tua itu menjelaskan kepada Bagong, sampai-sampai Bagong pun akhirnya sependapat kalau para pelaku kejahatan dan penyimpangan tak layak mendapatkan tempat di muka bumi ini. Mereka sudah berani melawan dan melecehkan Sang Pencipta dengan tindakan-tindakannya. Bukan hanya itu tapi juga menyengsarakan rakyat yang lain. Bagong pun semakin tertarik dan yakin akan jalan yang ditunjukan oleh lelaki tua itu.

Bagong:

Lalu, dengan cara apa aku membunuh para penjahat itu. Mereka berjumlah sangat banyak. Tak ada kesaktian dan kemampuan ku miliki untuk melawan mereka Romo. Dan apakah tak ada cara lain tanpa mengorbankan nyawa ku Romo.

Lelaki tua:

Jika kau yakin, itu semua  akan mudah terlaksana anak ku. Nyawa mu menjadi bagian dari pengorbanan dalam perjuangan mu, dan yang kau perjuangkan adalah jelas adanya, pun balasan yang kau terima nantinya. Nyawa mu akan suci dan surga telah menanti anak ku. Malam belum habis, kau punya waktu untuk berpikir apakah kau akan menempuh jalan pintas ini atau kau kembali ke Romo Semar mu dan hidup dengan penuh kesengsaaraan lagi.

Bagong hanya terdiam bingung, di mulut gua,  nyawanya, nyawa saudara-saudara sebangsanya, Romo dan saudara-saudaranya terlintas. Mereka semua harus dikorbankan dan ditinggalkannya untuk keinginannya menuju surga. Sedang lelaki tua itu sudah masuk ke dalam gua untuk kembali bertapa. Segala perlengkapan telah disiapkan oleh lelaki tua itu, seakan dia begitu yakin akan pilihan Bagong akan jalan pintas yang ia tunjukan pada Bagong.

Dalam malam di taman tempat terakhir kalinya Romo Semar bertemu dengan Bagong, berdiamlah Romo Semar, kali ini ia lah yang tampak kuyu, pucat seperti orang lelah yang tak dapat kesempatan untuk rehat. Galau, gelisah dan bingung lah yang dialami sang Romo. Memikirkan anaknya yang pergi begitu saja tanpa jelas tujuan. Tak pernah Bagong pergi sendiri seperti itu, tak pernah Bagong terlihat bingung seperti kemarin lalu. Riang adalah sifat bawaan Bagong sedari kecil.

Menghampirilah anak-anak Romo Semar kecuali Bagong. Mereka juga terlihat lelah, karena mendapatkan tugas oleh sang Romo untuk mencari adiknya. Namun dalam pencariannya, mereka tak mampu menemukan apapun, bahkan tanda dan jejak sang adik.

Saat Gareng, sebagai anak tertua ingin angkat bicara terdengar lah gelegar dahsyat bunyi sebuah ledakan. Suasana hening sebelumnya sontak berubah ramai dan menjadi sengkarut orang berlarian takut. Api terlihat menjulang ke langit, membakar tempat bunyi ledakan. Tak hanya teriak, tangis, tapi juga rintih sakit, yang menguasai malam itu.

Tersiar kabar ada bom bunuh diri, di sebuah tempat yang terkenal dengan pusat kejahatan dan penyimpangan yang terjadi di kota ini. Tersiar kabar banyak korban yang berjatuhan baik pelaku kejahatan dan juga orang baik-baik. Tersiar kabar lelaki berciri-ciri seperti Bagong lah yang melakukan bom bunuh diri itu. Tersiar kabar Bagong sempat terlihat mendaki bukit yang sepengetahuan Romo Semar adalah tempat persembunyian Rahwana selama ini.

Romo, tertunduk dan menangis. Bukan hanya kehilangan Bagong lah yang menjadi sedih dan penyebab tangisnya, tapi juga karena kegagalannya dalam membimbing dan mendidik Bagong. Hanya do’a dan asa kepada Sang Pencipta yang di panjatkan Romo Semar agar Sang Pencipta mengampuni laku anak bungsunya itu. (ad271209)

Apa artinya ibadah???

Ibadah adalah sebuah bentuk rasa syukur kita kepada sang Khalik. Ibadah secara umum terbagi atas dua kelompok, yaitu ibadah ritual dan ibadah sosial. Ibadah ritual adalah ibadah yang langsung ditujukan kepada Allah SWT, sedangkan ibadah sosial yaitu bentuk ibadah yang tujuannya kepada sesama mahluk hidup baik manusia dengan manusia maupun manusia dengan alam.

Dalam hal ini kita tidak memfokuskan dalam membicarakan ibadah-ibadah yang dimaksud di atas tapi lebih pada makna dari ibadah itu sendiri. Jangan sampai kita melakukan ibadah tanpa kita mengerti tujuan dan maksud dari ibadah yang kita lakukan. Lebih khusus lagi kita akan membicarakan makna ibadah dalam kehidupan kita.

Banyak dari kita yang rajin melakukan ibadah tapi tak memiliki efek dalam kehidupannya kepada yang lebih baik. Ada istilah STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan), sebuah keadaan ironis yang terjadi di dalam kehidupan, bahkan sebuah survey yang dilakukan. Dari jawaban mereka ketika diajukan pertanyaan “Apakah mereka melaksanakan shalat lima waktu?”. Lebih 80 persen menjawab ya.  “Apakah mereka melaksanakan ibadah puasa”, hampir 95 persenan mereka menjawab ‘melaksanakan puasa’. Ini menunjukkan bahwa mereka semakin santri. Dan ketika di ajukan pertanyaan “Apakah mereka sering datang ke dukun?”, jawabannya hanya 5 persen. Atau malah kurang sekali. Itu menunjukkan bahwa kualitas keberagamaan kita ini di kalangan umat Islam makin santri. Tapi mengapa masyarakat semakin santri tapi kekerasan dan korupsi justru meningkat.

Untuk menanggapi hal di atas coba kita jawab pertanyaan berikut :

Apa guna ibadah ?

Apakah ibadah memiliki arti bagi kita, khususnya dalam kehidupan ?

Apakah ibadah membawa kita ke arah yang lebih baik ?

Dan mungkin masih banyak yang pertanyaan lainnya. Kita ambil contoh dari shalat. Tujuan umum dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ini memnimbulkan sebuah pernyataan yang “nyeleneh”, “tanpa mendirikan shalat saya sudah bisa mencegah perbuatan kaji dan mungkar”. Tentu ini sebuah hal yang “bahaya”.

Untuk itu kami mengajak rekan-rekan untuk membicarakan makna ibadah atau yang kita dapat/hasilkan dari ibadah berdasarkan pengalaman pribadi. Bukan bermaksud untuk riya atau pun pamer, tapi sekedar berbagi pengalan dan informasi yang berguna bagi kita semua.

Makna, guna, tujuandan dampak tentang ibadah terhadap kehidupan sehari-hari pada dasarnya kita pribadi lah yang merasakan dan mengetahuinya karena kita sendiri yang melakukan dan menjalaninya. Ibadah pada dasarnya tidak ada yang memberatkan. Jika ibadah terasa memberatkan bukan ibadahnya yang salah tapi ada yang salah pada diri kita.

Wallahualam (ad200203)

Amerika..oh..Amerika…

Usaha pelegalan tindakan penyerangan ke Irak terus dilakukan, setelah kemarin pihak Amerika membeberkan  bukti-bukti yang menurut mereka akan melegalkan niatnya, PERANG! Bukti itu adalah seperti pembicaraan melalui telepon para pihak petinggi Irak untuk memindahkan amunisi dn beberapa gambar sebelum dan sesudah adanya pemeriksaan oleh tim PBB yang memperlihatkan kecurigaan, menurut mereka. Tapi Hal ini tidak merubah sikap anggota Dewan Keamanan PBB, seperti Prancis, Rusia dan Cina kecuali Inggris yang tetap mendukung. Dewi Fortuna Anwar Peneliti LIPI berkata,”Powell memberikan bukti-bukti yang sudah usang, bisa saja foto yang ditampilkan dalam layar monitor oleh Powell adalah gedung tempat lain”. Ketidakpuasan atas laporan tim pemeriksa PBB berlanjut dengan perpanjangan masa inspeksi.

Yang menjadi pertanyaan,mengapa Bush dengan Amerikanya begtu ngotot hendak melancarkan agresi dan intervensinya ke Irak? Berikut pemaparan Riza Sihbudi, seorang analis politik Timur Tengah yang dikutip di Koran Tempo. Yang menjadi alasan dibalik ambisi “binatang” Amerika adalah, pertama, Bush menggunakan isu perang Irak untuk menutupi berbagai ketidakberhasilannya mengatasi persoalan sosial-ekonomi di dalam negerinya sendiri. Kedua, keinginan Bush untuk melampiaskan dendam keluarganya terhadap Saddam. Saddam konon pernah berupaya membunuh ayahnya. Ketika membombadrdir Irak, Bush senior memang berhasil mengusir Irak dari Kuwait, namun ia gagal menggulingkan kekuasaan Saddam. Ironisnya yang kemudian “terguling” dari kekuasaan karena kalah dalam Pemilu, dan ini yang akan ditebus oleh sang anak.

Ketiga, ingin menutupi kegagalan dalam menguber Usamah bin Laden dan Mullah Umar di Afganistan. Keempat terinspirasi oleh keberhasilannya membuat rezim boneka di Afganistan, dan ingin melakukan hal yang sama di Irak. Dan juga kandungan minyak yang dimiliki oleh Irak yang saat ini memiliki cadangan yang terbesar di dunia. Menguasai minyak Irak sangat berarti, baik bagi AS dan Bush pribadi yang keluarganya memiliki bisnis minyak.

Kelima, seperti dalam kasus kampanye antiterorisme yang dikembangkan AS, dimana elite politik Gedung Putih yang sebagian besar lebih senang dengan mengedepankan pendekatan pragmatis dan sangat militeristis. Yang ada dibenak mereka hanya perang dan perang. Sementara itu, persoalan hak-hak asasi manusia dan demokrasi dikesampingkan. Keenam, sikap pro-Israel. Yaitu untuk mengeliminasi ancaman militer Arab terhadap Israel. Tadi sedikitnya enam penyebab alasan dibalik “nafsu” AS.

Bahkan ada rumor yang menyatakan, pada saat perang Irak-Iran AS memasok bahan senjata kimia dan biologis sebagai senjata pemusnah massal. Maka begitu ngototnya AS menyatakan kalau Irak menyimpan dan mengembangkan senjata-senjata tersebut.

Perang adalah tindakan “super jahat dan super kekerasan” dari sisi kemanusiaan. Karena begitu mudahnya mengorbankan orang dan akan banyak menelan korban baik yang terlibat maupun yang tidak tahu apa-apa. Sungguh ironis AS negara “agung” yang selalu mengagung-agungkan HAM dan demokrasi diseluruh dunia, tapi malah melakuakn tindakan yang mengabaikan HAM dan demokrasi tersebut. Untuk itu tekanan harus tetap dilakukan kepada AS untuk tidak menunaikan niatnya yang jahat. Menciptakan dunia yang damai tanpa perang adalah “mimpi” kita semua. (ad/070203)

Amerika = “Preman Pasar”

Amerika sebagai pelopor yang selalu menggembar-gemborkan dan ‘mengiklankan’ kan kehebatan ekonomi pasar, ingin ‘mengajak’ seluruh dunia melakukan ‘permainan’ pasar terbuka. Yang katanya akan banyak menciptakan keuntungan dan keefisienan, entah buat siapa. ‘Permainan’ pasar terbuka ini mungkin lebih di kenal dalam bahasa ‘kerennya’ globalisasi’.

Dengan ‘mahluk’ ini negara-negara yang ikut ‘bermain akan dengan mudah melakukan transaksi-transaksi dan hubungan dagang. Karena dalam ‘permainanan’ ini peraturan-peraturan tentang kebijakan ekonomi suatu direduksi atau dihapuskan, sekali lagi guna mempermudah melakukan transaksi dan hubungan dagang. Dengan kata lain batas-batas negara tereduksi bahkan terhapus. Jadilah negara sebagai perusahaan besar yang melakukan perdagangan.

Diakui atau tidak, dirasakan atau tidak, ‘iklan’ Amerika telah berhasil ‘dimakan’ dan ‘permainan’ mulai dilakukan. Walaupun belum secara penuh, tapi sudah terlihat bagiamana negara-negara telah melakukan ‘pembukaan diri’ terhadap pasar. Dan telah melakukan proses transformasi menjadi perusahaan.

Ditengah-tengah ‘permainan’ yang mulai ‘digemari’, si ‘pencipta’ dan pelopor (seperti nama sebuah partai saja), mulai terasa bingung dan terancam. Perasaan terancam dalam permainan yang dibuatnya sendiri (malu-maluin ih…). Ternyata kemajuan yang pesat bukan terjadi ‘padanya’, ternyata tidak mampu menguasai permainan itu secara mutlak.

Hal-hal tersebut membuatnya melakukan ‘revisi’ terhadap peraturan secara sepihak, karena yang direvisi bukan peraturan umum tapi kebijakan untuk negaranya sendiri. Alih-alih untuk keamanan, mereka melakukan sebuah peraturan yang diberi nama bioterorism (yang kita sudah kenal bersama), dan yang baru adalah perturan, eh lebih pantas diberi istilah hambatan,  untuk kebijakan barang tekstil impor. Katanya untuk ‘memompa’ produktivitas produksi dalam negeri. Hambatannya yaitu dengan cara meningkatkan tarif bea masuk dan mekanisme kuota.

Untuk yang pertama, Cina yang jadi korban, untuk barang tekstil dari Cina yang menjadi sasaran awal, dengan dipatok tarif padanya sekitar 12%. Setelah Indonesia, barang tekstil dari INdonesia yang di’makan’, dan kena tarif sebesar 18% (wah lebih gede!!!).

Seenak perutnya menggonta-ganti dan mengutak-atik pasar, serta menggangu pasar seperti preman pasar. Dengan melihat ulasan di atas, masih perlukah wahai para ‘pemain’ untuk dapat mempercayai ‘preman pasar’ lagi? Mending besok-besok jangan di ajak main lagi, suruh aja main di rumah!!!

Wassalam…….

Lalu, ada apa setelah “hajatan”…??

Hajat besar baru saja berlalu. Berjuta uang, berjuta tenaga dan pikiran terhambur untuk menyelenggarajan hajat besar itu. Bersama dengan hajat itu juga berjuta orang berharap, berjuta orang berangan. Perubahan menjadi lebih baik adalah harapan dan angan dari jutaan orang atas hajat yang baru saja berlalu. Beragam ekspresi muncul berbarengan dengan hajat besar itu, sebagian optimis, sebagian pesimis, dan banyak lagi yang biasa saja tanpa ekspresi.

 

Hajat merupakan tradisi bagi bangsa ini, juga mungkin umat manusia di dunia ini ketika sesuatu yang akan dirayakan. Di indonesia sendiri banyak hajat yang dilakukan, seperti adanya perkawinan, adanya khitanan, adanya kelulusan dan beberapa hal lain.

 

Hajat sendiri tak lebih sebagai bentuk perayaan dari sesuatu yang dianggap menggembirakan dan membanggakan. Atau ada juga yang menganggapnya sebagai bentuk syukur atas sesuatu yang di dapat atau tercapai. Dalam setiap hajat biasanya selalu melibatkan banyak orang untuk menyelenggarakan, juga banyak dana yang dibutuhkan. Hajat atau pesta atau seremoni mempunyai pengertian yang mirip.

 

Dan bangsa ini juga baru saja menyelenggarakan salah satu hajat besar, hajat demokrasi, katanya. Juga terlibat banyak orang, juga butuh dana yang banyak agar dapat terselenggaranya hajat tersebut. Sebagaimana halnya hajat yang sifatnya merayakan dan sementara saja, hajat demokrasi ini juga terasa seperti merayakan. Sebagaimana hajat, jika telah usai, maka keadaan pun kembali normal seperti sedia kala. Dan apakah hajat demokrasi yang baru saja lewat pun akan seperti itu, kembali normal seperti sedia kala. Apakah dengan bersama larutnya waktu, ikut larut pula angan dan harap. Dan apakah memang hajat demokrasi yang baru berlalu hanya sebuah pesta perayaan saja tanpa makna..?? (ad/120408)

CIPTAKAN PERDAMAIAN DENGAN HAPUS TENTARA ?

Tentara adalah suatu kesatuan alat negara yang terdiri dari orang-orang terlatih untuk berperang. Tentara juga disebut dengan laskar atau prajurit. Mereka memiliki perangkat senjata yang dapat membunuh yang digunakan dalam berperang. Dalam setiap negara tentara adalah sebuah kekuatan vital yang ‘wajib’ dimiliki oleh setiap negara, yang berguna bagi pertahanan negara tersebut dari serangan negara lain. Hal ini juga sering disebut-sebut dengan militer. Kekuatan sebuah negara juga tergantung oleh kekuatan militernya.

Militer ini terbagi menjadi dua, atau memiliki dua fungsi, pertama ia berfungsi sebagai alat pertahanan negara dari serangan ‘musuh’. Yang berguna untuk mempertahankan kedaulatan sebuah negara. Dan yang kedua, adalah sebagai alat keamanan dalam negeri, yang biasa disebut dengan polisi.

Begitu vital dan pentingnya kekuatan militer ini, menjadi alasan bagi ‘berlomba-lombanya’ setiap negara dalam meningkatkan kekuatan dan kapasitas militernya tersebut. Selain dari sisi kekuatan dan jumlah personilnya juga dari perangkatnya, yaitu persenjataan. Alasan yang ‘masuk akal’ dari kegiatan peningkatan-memperkuat militer baik dari sisi personil maupun persenjataan- semua ini adalah untuk mempertahankan kedaulatan negara. Pertahanan kedaulatan negara, yang dilakukan dengan cara berperang melawan ‘musuh’.

Begitu strategis dan vitalnya kekuatan militer jika melihat gambaran di atas. Sehingga penguasa setiap negara pun ‘wajib’ rukun dengan kekuatan militer di negaranya, untuk mengamankan posisinya. Dan tidak sedikit negara-negara yang puncak atau pemerintahannya di kendalikan oleh kekuatan yang satu ini. Seperti yang ada di Vietnam dan Libya.

Kestrategisan kekuatan ini, membuat kekuatan militer ikut terjun ke dalam dunia politik. Seperti halnya yang terjadi di Indonesia pada masa lalu. Jika melihat sepak terjang politik di Indonesia, keikutsertaan militer dalam politik, biasanya ‘diajak’ oleh pemegang kekuasaan. Mereka ‘malu-malu’ untuk secara frontal merebut tampuk kekuasaan. Berbeda dengan yang terjadi di luar negeri, militer melakukan kudeta-secara terang-terangan dan frontal- untuk mencapai puncak kekuasaan tertinggi.

Alat kekuasaan yang memiliki kekuatan yang besar dan mungkin sangat menentukan ini, banyak disalah gunakan oleh penguasa negara dalam memperkuat posisinya. Banyak terjadi ‘penyelewengan’ fungsi militer, dari fungsi yang sebenarnya sebagai alat pertahanan negara menjadi alat kekuasaan negara atau lebih tepat ‘beking’ kekuasaan negara. Atau lebih ‘parah’ lagi, dengan ‘merebut’ tampuk pimpinan negara. Hal ini mungkin terjadi disebabkan karena militer ‘tidak memiliki pekerjaan’ untuk mempertahankan negara, khususnya pasca Perang Dunia II, dimana ancaman invasi hampir tidak pernah terjadi.

Perang adalah ‘perusak’ cita-cita perdamaian dunia. Salah satu komponen dalam perang adalah militer dengan kekuatan bersenjatanya. Perdamaian adalah sebuah cita-cita-kadang terdengar seperti utopia saja- seperti kebebasan dan demokrasi yang sulit dicapai dan butuh banyak pengorbanan. Perdamaian, kebebasan dan demokrasi adalah cita-cita universal bagi dunia, sampai saat ini sulit merumuskan ‘titik akhirnya’, batasan-batasan yang diinginkan dari ketiga hal tersebut sulit didefinisikan. Walaupun sulit bukan berarti tidak perlu diciptakan atau dicapai. Karena perdamaian adalah bentuk kehidupan yang-semua orang mengakui- lebih baik.

Sebagai jalan perwujudan dari perdamaian, yang terdengar ‘konyol’ adalah dengan menghapus militer! Dalam hal ini tentara dan perangkat persenjataan yang dapat memusnahkan manusia secara massal. Seperti diungkapkan sebelumnya, perang-militer/tentara sebagai komponennya-merupakan perusak kedamaian. Perang atau invasi akan sulit dilakukan tanpa kekuatan bersenjata ini. Tanpa militer perang fisik atau invasi sewenang-wenang akan mustahil terjadi.

Hal ini tidak serta merta menyelesaikan permasalahan perdamaian. Tapi paling tidak perang dan invasi tidak akan terjadi tanpa kekuatan militer. Penghapuasan ini diberlakukan bagi seluruh negara di dunia. Dengan kata lain dunia tanpa militer. Setiap negara hanya diizinkan memiliki kekuatan untuk keamanan dalam negeri dalam hal ini polisi. Polisi dalam bentuk yang lebih komplit. Kekurangan personil dapat diambil dari tentara yang telah dihapuskan. Dan bagi sebagian yang lain, diciptakan lapangan pekerjaan yang ‘lebih manusiawi’, agar mereka tidak menjadi preman. Sekali lagi polisi hanya mengurusi keamanan dalam negeri saja, dan tak ada kekuatan militer yang dapat mencampuri urusan negeri orang. Satu langkah maju, mungkin telah terlaksana dengan tidak adanya militer/tentara dan perangkat persenjataan pemusnah massalnya, dalam perwujudan perdamaian. Semua ini dapat terwujud dengan adanya konsistensi dari seluruh negara di dunia. Nah, relakah Amerika melakukan hal ini ? Negara inilah yang samapi saat ini menjadi ‘patokan’ negara lain dalam bertindak. (ad/210503)